Perencanaan Sekolah Menuju Era “New Normal”

  • Whatsapp
Wawan Setiawan, M.Pd
Guru SMK Negeri 2 Koba, Bangka Tengah, Babel

Harap-harap cemas, mungkin itulah ungkapan yang layak disematkan kepada seluruh guru dan siswa menjelang dimulainya tahun ajaran baru 2020. Apalagi sempat beredar dengan masif isu yang menyebutkan bahwa sekolah akan dibuka kembali pada tanggal 13 Juli 2020. Tentunya isu tersebut sempat menuai pro dan kontra di kalangan Masyarakat, terutama para orang tua peserta didik yang sangat mengkhawatirkan kondisi anak-anak mereka. Apalagi di beberapa wilayah tertentu belum menunjukkan adanya penurunan angka pasien yang terinfeksi Covid-19 dan masih tergolong zona kuning bahkan zona merah.

Namun isu tersebut sudah diklarifikasi oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim dalam Rapat Kerja secara teleconferensi dengan Komisi X DPR RI di Jakarta pada hari Rabu tanggal 20 Mei 2020 seperti dikutip dari salah satu media online nasional tanggal 26 Mei 2020. Dalam kesempatan itu, Nadiem Makarim menjelaskan bahwa proses pembelajaran akan disesuaikan dengan kondisi dan status kesehatan masyarakat di wilayah masing-masing berdasarkan pertimbangan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.

Dalam kesempatan lain yang dikutip dari laman salah satu media  online nasional tanggal 28 Mei 2020, Plt Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Menengah Kemendikbud Muhammad Hamid mengatakan, memang benar ada beberapa sekolah yang akan kembali dibuka, karena sekolah-sekolah tersebut berada di wilayah zona hijau. Sedangkan wilayah yang tergolong zona kuning dan merah tetap melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, kegiatan belajar mengajar di Sekolah akan kembali dibuka pada 13 Juli 2020 mendatang dengan melihat kondisi penyebaran Covid-19 saat ini. Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsis Bangka Belitung, M. Soleh, media lokal babel tanggal 28 Mei 2020.

Baca Lainnya

Bahkan Ia juga menegaskan, sebagian SMA dan SMK sudah ditetapkan untuk dilakukan uji coba kegiatan belajar mengajar masa pandemi Covid-19 pada tanggal 2 Juni 2020. Sekolah-sekolah tersebut ditetapkan dalam SK Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Nomor : 188.4/93/SK/DINDIK/2020 yang merupakan perwakilan dari setiap Kota Madya dan Kabupaten. Total ada tujuh sekolah yang awalnya dipilih yaitu SMA Negeri 3 Pangkalpinang, SMA Negeri 1 Pemali, SMK Negeri 1 Kelapa, SMK Negeri 2 Koba, SMA Negeri 1 Toboali, SMK Negeri 1 Tanjungpandan, dan SMA Negeri 1 Manggar.

Akan tetapi, setelah melihat perkembangan yang terjadi di wilayah masing-masing. Akhirnya seluruh wilayah di Pangkalpinang ditetapkan menjadi Zona Merah. Otomatis tidak ada sekolah di Pangkal Pinang yang dilakukan uji coba. Sedangkan di Kabupaten Bangka dan Kabupaten Belitung yang awalnya akan diuji coba di SMA Negeri 1 Pemali dan SMK Negeri Tanjung Pandan dialihkan ke SMA Negeri 1 Belinyu dan SMA Negeri 1 Membalong seperti dikutip dari rakyatpos.com tanggal 01 Juni 2020.

Berdasarkan SK tersebut, apabila Satuan Pendidikan atau Sekolah dianggap berhasil dalam masa uji coba belajar mengajar maka akan diperluas ke Satuan Pendidikan atau sekolah-sekolah yang lain sampai dengan masa pandemi ini dianggap selesai. Namun, apabila satuan pendidikan atau sekolah dianggap gagal dalam masa uji coba ini maka maka kegiatan uji coba belajar mengajar di Sekolah ini akan langsung dihentikan.

Untuk menyukseskan uji coba tersebut, setidaknya ada tiga poin penting yang perlu dipersiapkan secara matang. Pertama, fasilitas sekolah untuk pencegahan penyebaran Covid-19. Fasilitas sekolah saat masa pendemi tentunya sangatlah berbeda jika dibandingkan hari-hari biasa. Ada beberapa fasilitas khusus yang harus dilengkapi baik fasilitas pribadi maupun fasilitas di Sekolah. Fasilitas pribadi merupakan perlengkapan yang harus dimiliki oleh peserta didik, pegawai, guru, dan bahkan para tamu yang hadir disekolah yang dikunjungi. Perlengkapan tersebut misalnya masker, handsanitizer, saputangan atau handuk untuk mencuci tangan, bahkan berupa kendaraan pribadi baik roda dua maupun roda empat bagi peserta didik. Kendaraan menuju sekolah juga wajib diperhatikan, mengingat banyaknya peserta didik yang tempat tinggalnya jauh dari sekolah, sehingga mereka harus menggunakan kendaraan umum atau bus sekolah. Untuk mengantisipasi hal-hal yang berpotensi melanggar protokol kesehatan selama didalam kendaraan umum atau bus sekolah, pihak sekolah hendaknya mensosialiasikan perihal protokol kesehatan ini, kepada pemilik kendaraan umum dan pihak Dinas Perhubungan Kota/Kabupaten setempat. Sedangkan fasilitas yang wajib disediakan oleh pihak sekolah seperti tempat cuci tangan, alat tes suhu tubuh (thermometer), alat pembersih ruangan (cairan disinfektan), materi informasi dan edukasi terkait pencegahan Covid-19, dan tersediannya mekanisme komunikasi yang bisa dengan mudah di akses oleh orang tua siswa dan pihak-pihak terkait.

Kedua, Kurikulum alternatif selama masa pandemi. Poin beikutnya yang wajib dipersiapkan oleh pihak sekolah adalah kurikulum alternatif selama masa pandemi. Kurikulum yang akan dipersiapkan adalah metode pembelajaran jarak jauh (PJJ) dan metode pembelajaran tatap muka. Pembelajaran jarak jauh (PJJ) sebenarnya sudah dan sedang dijalani selama masa pandemi ini. Akan tetapi, memasuki tahun ajaran baru setidaknya harus ada evaluasi terhadap program tersebut, karena berdasarkan fakta di lapangan masih terdapat banyak kendala. Contohnya, tidak semua peserta didik memiliki Handphone dan Laptop, sebagian lokasi tempat tinggal peserta didik mengalami kesulitan sinyal internet, dan masih ada sebagian siswa yang belum menguasai IT, sehingga mereka mengalami kesulitan mengikuti pembelajaran secara online tersebut. Oleh karena itu, pihak sekolah mau tidak mau harus mencari solusi agar proses pembelajaran jarak jauh (PJJ) tetap bisa dilaksanakan apabila sewaktu-waktu situasi mengharuskan diberlakukan lagi proses pembelajaran jarak jauh (PJJ) tanpa mengalami kendala-kendala lagi.

Sedangkan untuk pembelajaran tatap muka termasuk kedalam rangkaian program “New Normal” yang dicanangkan oleh Pemerintah, karena pembelajaran dilaksanakan di sekolah-sekolah dengan mempertimbangkan kebijakan Pemerintah Daerah. New Normal menurut Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penangan Covid-19, Wiku Adisasmita yang dikutip dari laman salah satu media online nasional tanggal 25 Mei 2020 merupakan perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas secara normal, tapi tetap menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah tejadinya penularan Covid-19 sampai vaksin ditemukan.

Oleh karena itu, pihak sekolah harus menyesuaikan kurikulum dengan protokol kesehatan yang telah ditetapkan. Sehingga menuntut adanya adaptasi yang benar-benar berbeda dari masa-masa sebelumnya. Misalnya, jarak tempat duduk peserta didik di dalam kelas minimal 1,5 meter. Sehingga setiap kelas yang biasanya bisa ditempati maksimal 36 siswa per kelas harus dikurangi menjadi maksimal 20 siswa per kelas. Selanjutnya, jumlah jam tatap muka juga mengalami pengurangan yang semula 45 menit per jam menjadi 30 atau 35 menit per jam. Dengan demikian, situasi ini mengharuskan pembelajaran tatap muka dilaksanakan secara bergiliran setidaknya menjadi dua sesi, yaitu sesi pagi dan siang.

Ketiga, Program Edukasi terhadap Masyarakat. Poin terakhir yang perlu dipresiapkan oleh pihak sekolah adalah program edukasi yang berkelanjutan terhadap orang tua peserta didik (masyarakat). Edukasi merupakan poin non teknis yang sangat bermanfaat untuk mengubah mindset masyarakat untuk lebih peduli terhadap upaya pencegahan terhadap penyebaran covid-19 ini. Masyarakat yang dalam hal ini adalah orang tua peserta didik merupakan kelompok masyarakat yang memiliki pandangan yang berbeda-beda terhadap pandemi Covid-19 mulai dari yang apatis sampai yang memiliki jiwa aktivis.

Terkait fenomena Covid-19 ini, pandangan masyarakat umumnya terbagi menjadi tiga kelompok: Pertama, kelompok yang tidak perduli dengan kondisi dan situasi yang terjadi. Sehingga mereka cenderung mengabaikan protokol kesehatan karena mereka menganggap dengan berada di zona hijau maka mereka pasti akan aman dari ancaman Covid-19;  Kedua, kelompok yang terlalu takut berlebihan. Kelompok ini cenderung memilih untuk menghindari secara total penyebab-penyebab yang berpotensi menularkan Covid-19 ini. Walaupun tujuannya baik tapi dengan memiliki rasa takut yang berlebihan akan membuat kegiatan sehari-hari menjadi kaku; Ketiga, kelompok pertengahan. Kelompok ini merupakan kelompok masyarakat yang memiliki wawasan terhadap Covid-19. Mereka tetap bersikap waspada dengan menaati protokol kesehatan tapi tetap bisa menjalankan kegiatan sehari-hari dengan baik.

Adapun materi edukasi yang bisa diberikan terhadap Masyarakat seperti yang dikutip dari salah satu media online nasional tanggal 29 Mei 2020, seperti: (1) penyebab Covid-19 dan pencegahannya; (2) Mengenali gejala awal penyakit dan tindakan yang harus dilakukan saat gejala timbul; (3) Praktek PHBS seperti mencuci tangan yang benar dan etika saat batuk; (4) Alur pelaporan dan pemeriksaan bila didapatkan kecurigaan tertular Covid-19.

Tentunya untuk mengubah mindset masyarakat yang memiiki karakter berbeda-beda tidaklah semudah membalikan telapak tangan, akan tetapi dengan terus memberikan edukasi secara berkelanjutan bukan mustahil lambat laun kesadaran masyarakat untuk beradaptasi terhadap “New Normal” ini akan membuahkan hasil yang menggembirakan.

Dengan demikian, menurut penulis agar upaya penerapan “New Normal” di sekolah-sekolah dengan melakukan uji coba pembelajaran di sekolah selama pandemi bisa berhasil dengan baik, maka persiapan yang wajib dimatangkan adalah membenahi Fasilitas, menyesuaikan Kurikulum, dan memberikan Edukasi berkelanjutan.

Akhirnya, dengan tetap berusaha dan berdo’a, tentunya kita semua berharap pandemi ini segera berakhir, dan kita berharap semoga program uji coba kegiatan belajar mengajar masa pandemi Covid-19 mulai tanggal 2 Juni 2020 di Babel ini akan berhasil bukan hanya untuk era “New Normal”, tapi juga sampai ke era benar-benar normal “Real Normal”. (***).

 

Related posts