by

Perempuan Tanpa Cahaya

-Cerpen-68 views

Karya: Rusmin

Malam makin menjauh. Meninggalkan perempuan muda itu yang masih terlelap dalam kemaksiatan malam. Perempuan yang masih terkukung dalam birahi sesaat. Perempuan yang masih terus berjungkir balik melawan hawa nafsu pembayarnya hingga dirinya terkapar diujung ranjang yang penuh aib. Lembaran- lembaran uang kertas dilemparkan para pemuas nafsu ke arah tubuhnya yang masih bugil tanpa kasih sayang. Ya, tanpa kasih sayang malam.

Perempuan itu kembali ditinggalkan malam yang sudah menjauh. Suara azan subuh dari masjid mengagetkannya. Menyentak nurani keibuannya. Dia harus lekas-lekas tiba di rumah sebelum anaknya ke sekolah. Jangan sampai anaknya tahu. jangan sampai buah hati semata wayangnya tahu dengan pekerjaannya. Sudah sekian lama, dia selalu berbohong kepada anaknya tentang pekerjaannya yang sebenarnya. Dia tidak mau anaknya tahu profesi bejat dirinya. Sama sekali dia tak ingin anaknya malu dengan perilaku hitamnya yang harus dilakoninya walaupun dengan jiwa yang tersiksa.

” Ibu kerjaannya apa sih,” tanya anaknya setiap dirinya akan keluar rumah pada malam yang bening.

” Ibu bekerja sebagai pembantu,” jawabnya.

” Tapi kok malam kerjanya? Biasanya kan orang bekerja sebagai pembantu itu pagi hari,’ usut anaknya dengan narasi penuh selidik.

” Ibu kebagian shif malam,” jawabnya. ” Udah Ibu pergi dulu ya. Ntar keburu malam,” sambungnya menutup pembicaraan dengan anaknya.

___

Perempuan muda itu sama sekali tak menyangka, dirinya harus terkubang dalam dunia malam yang berbalut dosa ini saat tiba di Kota ini. Kota yang kata temannya menawarkan sejuta kenikmatan hidup dan bisa membahagiakan dirinya, ternyata hanya isapan jempol semata. Kota yang kata temannya bisa membuat orang bahagia dengan segala keindahannya, ternyata cuma bohong belaka.

” Kamu kalau di Kota pasti sudah kaya,” ujar teman sekampungnya yang tinggal di Kota.

” Mana mungkin tanpa ijazah bisa kaya di Kota,” jawabnya dengan nada heran.

” Aku ini buktinya,” ujar temannya.

Perempuan muda yang bernama Nay itu hanya terdiam mendengar jawaban temannya. Hanya matanya yang berbinar-binar seolah harapan untuk hidup kaya raya sudah terbentang di depan mata. ” Dia aja yang cuma lulusan SD kok bisa kaya hidupnya. Bisa membahagiakan orang tuanya. Bisa beli itu dan ini. Masa sih aku yang lulusan SMA tak bisa. Lagi pula wajahku masih lebih cantik dari dia,’ pikirnya dalam hati.

___

Dengan modal seadanya, Nay akhirnya berangkat juga ke Kota. Kota yang katanya menawarkan kebahagian, walaupun keluarganya sudah melarangnya dengan setengah mati. Perempuan itu tetap bersikeras untuk melanglang buana ke Kota yang katanya bisa membuatnya kaya. Kota yang katanya…

” Apa kepandaianmu untuk hidup di Kota Nay,” tanya Ibunya.

” Mohon doanya saja Bu biar aku bisa menaklukan Kota,” jawab Nay dengan penuh optimistis.

” Hanya dengan modal nekad,” ujar Ibunya. ” Padahal lelaki itu sudah menunggumu. Dia ingin meminangmu, Nay,” lanjut Ibunya. Nay cuma terdiam. teringat dengan lelaki yang mati-matian ingin meminangnya. Lelaki yang akan mengangkat martabat kehidupannya tanpa harus ke Kota.

Perempuan itu telah bertekad bulat untuk hijrah ke Kota. Sejuta angan-angan terus menggerogoti jiwa mudanya selama perjalanan. Rasanya dia ingin segera tiba di Kota dan melahapnya. Bus yang ditumpanginya terasa pelan kecepatannya. Padahal kecepatan mobil yang dikendarai pak sopir yang matanya terus menjilati tubuh Nay yang tertidur dan sedang bermimpi tentang indahnya Kota dengan angan kotornya sudah sangat maksimal. Beberapa kali penumpang memperingatinya karena kecepatan mobil sudah sangat kencang. Dan akhirnya dirinya pun tiba di Kota yang katanya bisa menjahit kehidupan yang memartabatkan dirinya dan keluarganya.

Dan Nay terkaget-kaget ketika temannya mengenalkannya dengan seorang wanita yang akrab di panggil mami. Nay tak kuasa berontak. Tak ada kekuasaannya untuk menolak. tak ada sama sekali. Laksana para koruptor yang tertangkap tangan oleh KPK. Dan malam itu, malam pertamanya di kota dengan lumuran noda. Noda yang ditaburkan para lelaki hingga membuat jiwanya meraung hingga ke angkasa bersama malam yang pekat.

___

Orang-orang mulai meninggalkan masjid usai Tarawih. Nay berpapasan dengan mareka. Sejuta senyum penuh kepahitan diumbarnya. Sekedar basa-basi. Sebagaimana senyumnya yang selama ini diumbarnya kepada para lelaki malam yang mencari jati diri dengan mengorbankan martabatnya sebagai lelaki di hadapannya. lelaki yang tak memperlakukan kelaminnya pada tempat yang layak. lelaki yang merendahkan dirinya karena membayar hanya untuk mengejar sebuah kepuasan semu tanpa malu. lelaki yang hanya mengumbar nafsu.

Malam ini Nay sebenar sangat sungkan untuk memperlakukan malam yang bening sebagai malam yang berlumpur noda. Dirinya sangat malas. Ada sesuatu yang terselip dalam jiwanya saat berpapasan dengan orang-orang yang pulang dari terawih tadi. Ada sentuhan di nurani saat melihat kaum perempuan berhijab. Ada cahaya yang menjalar dalam tubuh cantiknya. Ada sentuhan jiwa yang merayap dalam sekujur tubuhnya.

Nay, akhirnya tak kuasa untuk melawan noda malam yang terus datang dan menggodanya tanpa malu. Teringat sebelum dirinya berangkat tadi anaknya menceritakan tentang uang SPP yang belum terbayar. Tentang uang kontrakan yang sudah ditagih pemilik kot dengan wajah garang. Dan tentunya sejumlah uang untuk baju baru anaknya. Kepala Nay berat. Sangat berat sekali. Seberat ketukan pintu kamarnya yang didengarnya dengan samar-samar. Tak seperti biasanya yang terdengar garang ketukannya.

Pintu terbuka. Nay kaget setengah mati. lelaki yang masuk ke kamarnya itu mantan kekasihnya yang ditinggalkannya demi mencari harta di Kota. lelaki yang dianiaya hatinya oleh dirinya. lelaki yang sangat mencintainya dengan setulus hati. lelaki yang ingin meminangnya. Dan lelaki yang kini sudah dipanggil Pak Lurah oleh warga Kampungnya.

” Aku ingin mengajakmu pulang,” sapa lelaki itu dengan suara lirih.

” Aku malu,” jawab Nay.

” Meninggalkan pekerjaan ini sungguh terhormat. Dan pulang ke Desa sungguh lebih baik. Hidup di Desa lebih mulia ,” jawab lelaki itu.

” Kamu tak malu punya istri seperti aku yang pekerjaannya sebagai pemuas nafsu lelaki,” tanya Nay.

” Aku malu kalau engkau masih di sini. Aku mencintaimu sepenuh hati. Karena itu aku datang ke sini menjemputmu,” ujar lelaki itu.

“Bagaiman dengan anakuku,” tanya Nay lagi.

” Dia anakku juga,” kata lelaki itu.

Suara Azan subuh hantarkan Nay, anaknya dan lelaki itu pulang ke kampung mareka. Sejuta asa digantungkan Nay pada lelaki itu. lelaki yang pernah ditolaknya karena asanya kepada kehidupan Kota yang katanya bisa menjahit baju kehidupan yang bernama kekayaan.

Comment

BERITA TERBARU