Perempuan Penetes Air Mata

  • Whatsapp

Perempuan itu terus melangkah bersama airmata yang mengalir dari kelopak matanya yang hitam. Airmatanya mengalir hingga ke telapak kakinya. Seolah-olah airmata itu menjadi virus yang amat ganas yang bersarang ke dalam tubuh hingga badannya kurus kering berselimutkan tulang. Dan kepada setiap pengurus panti asuhan, perempuan bersama airmata itu selalu bertanya tentang anaknya yang pernah dibuangnya.
“Apakah Ibu yang mengasuh anak saya yang saya titipkan disini,” tanyanya dengan penuh linangan airmata kesedihan. “Mohon maaf Bu. Kami tidak pernah menerima bayi dan anak yang dibuang orangtuanya,” jelas pengurus panti asuhan.
“Apakah saya boleh melihat anak-anak yang diasuh di sini,” pintanya dengan diksi memelas.
“Oh, silahkan kalau Ibu mau melihatnya. Tapi saya yakin Ibu tidak akan pernah mendapatkan anak Ibu di sini karena kami tidak pernah menerima anak-anak dari hubungan gelap,” urai pengurus panti asuhan.
Perempuan penetes airmata itu melihat kegirangan anak-anak dalam panti asuhan. Mareka terlihat amat bahagia kendati hidup dalam panti asuhan.
### Perempuan itu masih terus melangkah bersama airmata yang terus menetes hingga membajiri seluruh badannya hingga membasahi telapak kakinya yang tanpa alas. Airmata seakan menjadi tumor ganas yang menggerogoti tubuhnya hingga badannya hanya berselimutkan tulang belulang semata. Dan kepada pengurus makam, dia bersama airmatanya bertanya tentang makam Ibunya yang pernah diusirnya. ” Apakah Ibu saya dimakam disini,” tanyanya dengan airmata yang berderai hingga membasahi rumput pemakaman yang tertata rapi bak real estate.
“Mohon maaf Ibu. Disini yang dimakamkan adalah kelompok yang berduit. Mareka sudah membeli lahan pekuburan ini untuk keluarganya dengan haraga mahal,” jawab pengurus pemakaman.
“Apakah saya boleh melihat makam yang ada disini? Siapa tahu ada nama Ibu saya,” pintanya dengan nada memelas bersama airmatanya. “Silahkan kalau Ibu mau melihat-melihat makam. Mari saya antarkan,” ujar pengurus makam. Dan selama hampir satu jam perempuan bersama airmata itu mengelilingi makam, dia tak menemukan nama Ibunya. Sementara airmatanya terus menetes di pemakaman itu hingga masuk kedalam pori-pori perut bumi.
### Perempuan bersama airmata itu masih terus melangkah. Susuri jalanan. Lintasi bukit. Seberangi lautan dengan ombak yang ganas hanya untuk menemukan suaminya yang pernah dikorbankannya hanya untuk memuaskan hasrat manusiawinya semata. Segerobak airmatanya telah menetes di jalanan, bukit bahkan hingga berpadu bersama air laut yang sangat luas. Airmatanya tak mampu dibendungnya. Airmatanya hanya setetes air di ganasnya lautan. Kepada pengurus RT, perempuan bersama airmata itu terus bertanya tentang suaminya yang dulu berprofesi sebagai nelayan yang berjuang diganasnya lautan untuk menghidupinya. Sementara dia bersama laki-laki lain saling memuncratkan ganasnya hasrat syahwatinya sebagai manusia pada malam yang bening. ” Apakah bapak mengenal suami saya,” tanyanya dengan airmata yang menetes ubin rumah Pak RT. ” Mohon maaf Ibu. Penghuni disini tidak ada warga yang berprofesi sebagai nelayan. Warga kami banyak sebagai pemulung dan pengemis,” jawab Pak RT. ” Apakah saya boleh mengecek nama-nama warga Bapak,” pintanya bersama airmata yang terus menetes tanpa henti sehingga harus membanjiri rumah Pak RT. ” Silahkan. Ini buku warga. Semua nama warga bersama fotonya tercatat dalam buku itu,” ujar Pak RT sembari memperlihatkan buku yang berisikan nama-nama para warga. Dan sudah hampir satu jama perempuan bersama airmata itu menelusuri nama-nama para warga, tak ada nama suaminya. Sementara airmatanya terus mengaliri dan membasahi buku kerja Pak RT. ### Perempuan bersama airmata itu terus berjalan dan berjalan. Melangkah tanpa arah. Sementara airmatanya terus mengalir membanjiri tubuh kurusnya hingga perempuan itu pun harus tenggelam bersama airmatanya yang terus mengalir dari kelopak matanya yang hitam tanpa mampu dihadangnya. Perempuan penetes airmata itu pun terlelap dalam tidur panjangnya bersama airmata yang menenggelamkan dirinya tanpa mampu dibendungnya.

Karya: Rusmin
Toboali, 4 Maret 2017

Related posts