Perempuan di Gerimisnya Pagi

  • Whatsapp

Karya: Rusmin

Gerimis di pagi itu basahi bumi. Desahannya menetes di tanah. Jagad raya dan penghuninya bahagia. Ada asupan air dari langit. Menyuburkan alam. Hutan kembali menghijau. Aroma bunga mulai mekar. Rerumputan menjulang. Gerimis pagi ini sungguh istimewa. Debu-debu pun mulai berterbangan di angkasa seolah-olah hendak mengejar awan di langit nan biru.
Wanita itu masih menatap gerimis yang tak kunjung usai. Tatapannya nanar. Ada sesuatu yang tersembunyikan. Sementara tangannya dengan cekatan melipat baju-baju yang tak tersusun rapi. Beberapa kali desahan dari kerongkongannya terdengar tanpa mampu dia sembunyikan.
“Ah…Sudah tiga bulan,” katanya dalam hati. Sementara di seberang rumah sepasang sorot mata tajam menatapnya dengan sembunyi-sembunyi.
Astuti sudah tiga bulan dihijrahkan keluarga besarnya ke kampung. Dan sudah tiga bulan pula usia kandungannya bertambah. Dan selama tiga bulan ini, Astuti hanya ditemani sepasang suami istri. Mereka adalah Mang Toha dan Wak Mina yang diberi kepercayaan khusus oleh orang tuanya untuk mengurus putri mereka hingga masa kelahirannya tiba.
“Saya dan istri percayakan semua urusan soal Astuti kepada kalian. Jaga dan urus Astuti sebagaimana kalian mengurus anak kalian,” pinta Ayah Astuti kepada Mang Toha dan Wak Mina. “Iya Pak,” ujar kedua suami istri itu.
Sementara Astuti hanya terdiam. Astuti tak menyangka kehidupannya harus membuatnya tersingkir dari indahnya kehidupan kota yang menawarkan sejuta kenikmatan. Sebagai putri dari orang tua yang beruang, Astuti merasakan bagaimana kasih sayang yang diberikan kedua orang tuanya jauh dari harapannya sebagai seorang anak.
Dirinya hanya ketemu dengan ayah dan ibunya saat sarapan pagi. Tak lama. Hanya sekejap. Sekitar 30 menit. Setelah itu kedua orang tuanya meninggalkan dirinya dengan segepok uang.
Kedua orang tuanya berasumsi dengan segepok uang maka putri mareka akan bahagia. Kedua orang tua Astuti berpikiran dengan materi anaknya bahagia. Sebuah asumsi masyarakat Kota yang selalu menjadikan materi sebagai jaminan hidup.
“Apa kamu pikir tanpa uang kita bisa hidup? Apa kamu pikir dengan miskin kita bisa bahagia,” tanya ayahnya saat Astuti memprotes soal kesibukan ayah dan ibunya.
“Semua yang kami lakukan ini hanya untukmu, Nak. Kami ingin kamu bahagia dan tidak melarat sebagaimana kami dahulu,” sambung ibunya.
“Lantas dengan siapa saya mendapatkan kasih sayang? Dari Wak Mina? Dari Mang Toha?” tanya Astuti.
Kedua orang tua Astuti terdiam. Tak ada yang menjawab. Hanya detingan jam dinding yang menjawab sebagai tanda bahwa keduanya harus pergi meninggalkan meja makan pagi itu.
Astuti mulai melanggar nilai dan etika hidup saat menyaksikan ibunya pergi bersama seorang lelaki muda ketika dirinya sedang berada di sebuah pertokoan hendak membeli buku kuliahnya. Astuti mulai berubah seribu derajat saat menyaksikan ayahnya merangkul seorang wanita muda yang ternyata teman kuliahnya.
Perkenalannya dengan seorang pimpinan perusahaan pun telah mengubah jalan hidupnya. Astuti dengan sengaja mengencani teman bisnis ayahnya dengan harapan ada perubahan dalam kehidupan keluarganya. Dan Astuti tak dapat mengelak saat gerimis pagi membasahi bumi, dirinya harus rela memberikan kuntum bunganya kepada lelaki itu. Dan Astuti mulai merasakan kenikmatan sebagai manusia dewasa saat birahinya mampu ditawarkan lelaki sahabat ayahnya. Dan itu terus terulang hingga dirinya dinyatakan positif hamil.
Astuti menelan kepahitan saat lelaki itu tak mau mempertanggungjawabkan apa yang telah mereka lakukan sewaktu gerimis pagi tiba itu.
“Aku? Aku harus mempertanggungjawabkan kehamilanmu? Ha..ha..ha. Tanya ayahmu bagaimana dia memperlakuan hal yang sama kepada istriku,” jawab lelaki itu.
“Agar kamu tahu ya. Ayahmu telah menanam benih di perut istriku sehingga aku dengan terpaksa harus mengawininya dengan rasa malu yang besar sebagai seorang lelaki,” sambung lelaki itu.
Gerimis pagi ini telah usai. Awan cerah. Mentari bersinar dengan garangnya. Sinarnya menerobos masuk hingga ke pelosok hati manusia di alam ini. Sebuah ketukan mengagetkan Astuti. Lamunanya pun terhenti.
“Mas Dedi,” ujarnya setengah tak percaya melihat seorang lelaki flamboyan berada di hadapannya.
“Aku datang untuk melamarmu,” jawab pria itu. “Iya Astuti. Mas Dedi sudah lama tinggal di kampung ini. Sama lamanya dengan dirimu. Cuma Nak Dedi sibuk di kebun. Dia berjanji akan datang meminangmu saat gerimis mulai reda,” sela Wak Mina.
“Benar Astuti. Semenjak saya mendengar kamu diungsikan keluargamu di sini dan tak pernah kuliah lagi, aku bertekad untuk melamarmu dan meminangmu,” kata Dedi.
“Walaupun aku sudah ternoda?” tanya Astuti.
“Bagiku kamu adalah Astuti yang ku kenal sejak kita masih kanak-kanak dulu. Dan engkau adalah ibu dari anak-anakku. Matahari dari hidupku dan anak-anakku. Anak-anak kita kelak,” jawab Dedi yang membuat Astuti berbinar.
Kecerahan alam yang terang benderang mengantarkan keduanya menatap masa depan yang indah. Sementara di kejauhan terdengar lirik lagu dari The Rolies yang digemakan sebuah radio. Liriknya membahagiakan Astuti dan Dedi.

“Oh, Astuti ..tuti..tuti
Si cantik jelita
Oh, Astuti .. tuti ..tuti
Nama sang primadona
Oh, Astuti tuti tuti
Kau sungguh jelita
Oh, Astuti tuti tuti
Primadona, primadona ku. (***)

Related posts