Perempuan Berkulit Putih Dihitamnya Senja

No comment 483 views

Langit memerah. Lengkungan jingganya warna warni sebagai ornamen menuju kaki langit. Lukisan kemolekan alam yang tak terperi. Deru ombak saling berkejaran seiring derap langkah kaki telanjang anak nelayan yang mengikuti arah mata angin. Bermain dilidahnya laut yang buihnya mulai tergores hitamnya solar dari penambangan laut yang tak terkendali.
Sinar mentari mulai meredup. Senja akan tiba. Cahayanya memerah. Deru angin di Pantai Tanjung Kerasak sepoi. Anak-anak nelayan masih bermain dengan kecipak air. Lahirkan suara harmoni alam. Di sudut pantai seorang wanita berkulit putih masih bertahan. Lambaian daun pohon kelapa menjadi tempat sandarannya. Bola matanya amat asyik menyaksikan tingkah anak nelayan yang saling berkejaran diselingi derai tawa yang tak terbatas. Bebas lepas ke udara yang hampa. Tanpa beban sedikit pun. Hanya kebahagian yang ada.
Sinar mata wanita berkulit putih itu tampak nanar. Bola matanya menyirat kedukaan yang amat mendalam. Ada seonggok sesal dalam relung nuraninya yang terdalam. Ada rasa kesal yang tak terobati. Kedukaan hati yang tak terperi tampaknya. Ada kenestapaan yang tak mampu terpecahkan.
Wanita berkulit putih itu masih menatap tajam aksi anak-anak nelayan di pantai. Senja makin mengelam. Sekelam duka yang dialaminya. Sekelam hatinya. Bola matanya menyiratkan kelaraan yang sungguh amat mendalam. Ada seuntai kenestapaan dalam hati dan jiwanya. Ada rasa sesal yang terkandung. Ada beban hidup yang tak terperikan.
Narasi duka yang dia lontarkan kepada wanita-wanita sejawatnya sebagai bentuk kompensasi atas duka yang dialaminya ternyata berbuntut derita yang tak terperi dan tak mungkin dilupakannya. Dirinya sama sekali tak menyangka kondisi deritanya akan menjadi makin lara. Solusi sesaat yang dilontarkan wanita-wanita sejawatnya ternyata hanyalah instan. Solusi sesaat. Bukan penyelesaian masalah yang membelitnya.
”Sabar, Bu. Saya akan datangi wanita yang merenggut kebahagian Ibu. Saya akan sadarkan dia. Saya akan nasehati dia,” ujar wanita sejawatnya yang tua dengan nada lembut. ”Dan ibu harus mempertahankan suami ibu sampai tetes darah penghabisan. Dasar wanita sundel dan tak bermartabat. Wanita perusak rumah tangga orang,” pekik wanita tua itu lagi.
“Saya ikut bersedih Bu. Semoga ini adalah cobaan untuk Ibu dan keluarga yang kini sedang berada diatas angin. Mohon sabar saja, Bu. Banyak-banyak bertawakal kepada Yang Maha Pengasih,” saran wanita sejawat lain yang seumuran dengan dia.
Dan wanita berkulit putih itu merasa saat itu dukungan dan support dari para sejawatnya sungguh luarbiasa. Mareka datang dari berbagai penjuru arah mata angin. Tanpa diundang. Menyampaikan rasa simpati yang mendalam Seakan-akan ikut merasakan kedukaan yang dialaminya. Toleransi sesama kaum wanita.
Sejatinya, kehidupan rumah tangga wanita berkulit putih dengan keluarga kecil, awalnya sungguh harmoni bak komposisi nada musik Mozzart yang dimainkan dalam sebuah orkestra. Suaminya seorang pekerja keras dan pecinta keluarga. Dua anak perempuan mareka sangat cantik dan pintar. Banyak keluarga yang iri melihat keharmonisan pasangan muda ini. Dan setiap kali berjumpa dengan para sejawatnya, ucapan harmoni dan serasi selalu didapatkannya dengan tulus.
Berkat kerja keras sang suami, kini mareka bisa dikategorikan hidup mapan. Rumah besar dengan halaman luas. Sebuah mobil sedan terparkir di halaman rumah. Pergaulan sang suami amat luas. Koneksinya banyak hingga ke luar daerah. Kolega suaminya pun kelompok bangsawan pikiran bangsa yang punya pengaruh penting dalam mengambil keputusan baik di daerah maupun pusat. Tak pelak dalam seminggu biasanya suaminya selalu keluar kota.
Pertemuan suaminya dengan wanita muda adalah awal keretakan dan disharmoni rumah tangga mareka. Wanita muda yang kecantikannya masih dibawah dirinya namun memiliki bola mata yang khas sehingga mampu menarik perhatian setiap orang yang berbincang dengannya. Kerenyahan tawa dan gaya bernarasi yang simple dengan intonasi suara yang merdu adalah ciri khas wanita muda itu. Wanita berkulit putih ini tahu benar dengan wanita muda itu karena pernah berjumpa dalam sebuah arisan.
Ketika dirinya tahu dengan pertemanan sarat batiniah antara suaminya dengan wanita muda itu, Wanita berkulit putih ini merasa kebebasan yang diberikan kepada sang suami telah disalahgunakan. Suaminya dianggap telah melakukan korupsi kepercayaanya yang luarbiasa. Kepercayaan yang tulus ikhlas itu telah disalahgunakan secara tak bermoral oleh suaminya.
Tak pelak kegeramannya tak terkendali. Wanita berkulit putih yang dikenal sejawatnya sebagai wanita sederhana dan bijaksana, menjelma menjadi macan. Menerkam kesana kemari tanpa kendali.
Dan ketika narasi kedukaan yang dilontarkannya kepada wanita-wanita sejawatnya, kedukaan terus melanda keluarga muda ini. Konon kabarnya isu tentang perselingkuhan suaminya menjadi penghias suratkabar lokal. Tak pelak suaminya drop atas pemberitaan itu. Suaminya amat terpukul atas berita itu.
Wanita muda itu awalnya merasa menang dan bahagia. Ada kepuasan batin yang tiada tara. Senyum kemenangan mengambang di bibir dan jiwanya. Namun ternyata itulah sumber masalah yang akut dalam kehidupan rumah tangga wanita berkulit putih. Suaminya enggan keluar rumah. Pekerjaan suaminya pun terbengkalai. Aktivitasnya hanya memancing dan memancing. Pulang ke rumah pun saat adzan magrib tiba. Dan perginya saat orang usai Salat Subuh. Rutinitas seorang lelaki jantan yang terkulai. Rutinitas lelaki jantan yang telah terkubur.
Kenestapaan keluarga muda ini makin mengkristal ketika lelaki itu menjual rumah dan mobil yang dianggapnya sebagai pembawa petaka dalam keluarganya. Pasangan muda ini kembali mendiami rumah kontrakan yang amat jauh dari warga. Namun perilaku suaminya makin tak berubah. Memancing dan memancing. Tiada hari tanpa memancing. Keuangan mareka makin tergerus. Dan akhirnya wanita berkulit putih itu pun harus menjadi kepala keluarga. Terpaksa. Hari-hari mareka yang dulunya amat harmoni kini menjelma bak dua seteru yang ingin saling menghabisi lawannya. Suaminya menganggap dirinya adalah sumber permasalahannya. Sumber petaka. Sumber kekacauan hidupnya.
”Kalau dulu kamu enggak mencurhatkan persoalan ini kepada orang, tak kan mungkin orang-orang tahu. Tak mungkin. Dan apakah kini mareka mau membantu kamu? Dan apakah mareka mau menanggung derita yang kamu dan kita hadapi sekarang ini?” tanya suaminya dengan nada tinggi. ”Dan kamu memang sengaja ingin mempermalukan aku di hadapan kawan-kawan dan kolega ku sehingga aku jadi bahan lelucon dan tertawaan mareka,” lanjut suaminya.
Wanita berkulit putih itu hanya terdiam. Membisu seribu bahasa. Hanya airmata yang menetes dari dua bola matanya yang cantik. Dan memang hanya itu yang bisa dia lakukan setiapkali mareka bertengkar.
”Kamu seharusnya tahu dan mengerti kalau kita ini dalam keadaan diatas angin maka kita akan menjadi bahan perbincangan orang sekitar. Ibarat pohon makin tinggi pohonnya makin kencang anginnya. Dan mareka memang ingin menjatuhkan aku dan mempapakan aku sehingga aku seperti sekarang. Karena memang dari dulu mareka tak menginginkan aku maju dan besar. Dan apa untungnya kamu menarasikan persoalan ini kepada orang-orang?” teriak suaminya lagi dengan nada tinggi bak rocker.
”Dan kamu mestinya tahu hubungan saya dengan wanita itu hanya bersahabat. Wanita itu hanya tempat saya mencurahkan segala kepenatan saya. Karena saya tidak mau kamu terbebani dengan pekerjaanmu mengurus anak-anak. Dan saya menganggap wanita itu hanya sekedar teman curhat semata. Teman bercerita semata. Tak lebih dari itu. Dan saya tidak menginginkan perkawinan dengan wanita itu,” sambung suaminya dengan nada tinggi penuh emosi yang tak terkendali.
Wanita berkulit putih itu sungguh tak mengerti. Walaupun suaminya berteman dengan wanita muda secara gelap, namun kehidupan ekonomi dan romantisme mereka sebagai sebuah keluarga kecil stabil. Distribusi dana dari suaminya lancar dan mengalir. Tak ada yang kurang, bahkan terkadang berlebih. Kemanjaan dan romantisme mereka sebagai suami istri pun tetap terpelihara dan menggelora bak penganten baru. Tak ada yang janggal. Dan tak ada diskriminasi. Biasa saja sebagaimana mereka memulai hidup.
Namun sebagai wanita, dia merasa kehadiran wanita muda itu amat menganggu harmonisasi kehidupannya. Dan itu yang selalu wanita berkulit putih itu dengarkan dari celoteh-celoteh teman-teman sejawatnya yang mengklaim bahwa ketika seorang suami sudah berteman dengan wanita lain, maka akan dipastikan kehidupan rumah tangganya akan terancam roboh. Akan roboh.
”Suami kita kalau sudah berteman dengan wanita lain, kita dibiarkan dan dicuekkin. Tak ada rasa hormat lagi. Ada-ada saja kita ini kekurangannya,” cerita teman sejawatnya saat mareka berkumpul.
”Buktinya Ibu Ajeng. Semenjak suaminya punya hubungan dengan wanita lain, pulang pun jarang. Duit susah. Bawaannya benci saja kalau di rumah,” sambung teman sejawatnya yang lain.
”Nah beda dengan ibu berkulit putih nan cantik ini. Kita mestinya bisa belajar bagaimana tehniknya supaya suaminya tetap betah dan tidak memalingkan wajahnya kepada wanita lain,” goda rekan sejawatnya. Dan hanya senyum yang menjadi jawaban dari wanita berkulit putih itu.
Dia pun tersadar. Adzan magrib telah terdengar. Sungguh merdu. Langit makin menghitam. Anak-anak nelayan pun telah menghilang. Hanya deru ombak pantai yang masih terlihat saling berkejaran menuju pantai sebagai pelabuhan terakhirnya.
Senja tampaknya akan berakhir seiring hadirnya cahaya rembulan yang akan saling bertemu dengan gemerlap bintang-bintang di langit. Cahaya rembulan yang indah bersama gemerlapan bintang lalu mengantarkan wanita berkulit putih ini menuju rumahnya. Terus berjalan sambil membayangkan beban apa lagi yang akan dihadapinya setiba di rumah.
Sementara wanita-wanita sejawatnya kini hilang entah kemana seiring hilangnya keharmonisan rumah tangganya. (***)

Aik Aceng, Toboali, Bangka Selatan

No Response

Leave a reply "Perempuan Berkulit Putih Dihitamnya Senja"