by

Perayaan HUT ke-73 RI, Kado PLN untuk Pulau-pulau Kecil di Babel

-Berita Kota-112 views


PANGKALPINANG- Bertepatan dengan perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) ke-73 tahun, PT PLN wilayah Bangka Belitung (Babel), memberikan kado manis untuk tiga pulau di Kabupaten Bangka Selatan, yaitu Pulau Kalapan, Pulau Tanjung Tinggi dan Pulau Panjang.

Ketiganya merupakan destinasi wisata yang sudah 73 tahun lamanya tidak memiliki aliran listrik. Melalui PLN, pemerintah berhasil menerangi satu demi penduduk yang tinggal di pulau-pulau terpencil yang tersebar di wilayah Kepulauan Provinsi Babel.

Pulau Kalapan misalnya, pulau yang terkenal dengan keindahan terumbu karangnya ini akan dibangun satu unit pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) berkapasitas 40 kilo watt (kW). Progress pembangunan di pulau berpenduduk 28 kepala keluarga (KK) saat ini sedang tahap konstruksi dan ditargetkan selesai pada akhir November tahun ini.

“Sama halnya dengan Pulau Kalapan, Pulau Panjang yang berpenduduk 50 KK dan Pulau Tinggi dengan penduduk 40 KK saat ini sedang dibangun masing-masing satu unit PLTD berkapasitas 40 kW. PLN juga menargetkan kedua pulau tersebut rampung pada akhir November 2018,” ujar General Manager PLN Wilayah Babel, Abdul Mukhlis.

Sebelumnya, PLN Babel berhasil melistriki delapan pulau yang tersebar di Bangka dan Belitung, yaitu Pulau Celagen, Pulau Pongokm Pulau Nangka, Pulau Seliu, Pulau Gresik, Pulau Bukulimau, Pulau Sumedang dan Pulau Selat Nasik.

Dua pulau saling berdekatan, yaitu Pulau Pongok yang berpenduduk 1.000 KK dan Celagen berpenduduk 300 KK mendapatkan penambahan kapasitas pembangkit masing-masing lima unit PLTD total kapasitas 1.000 kW untuk Pongok dan tiga unit PLTD dengan total kapasitas 300 kW untuk Celagen.

Dengan kecukupan daya listrik di Pulau yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai nelayan ini, Pemerintah Daerah berencana membangun cold storage dan pabrik es pada tahun 2019 nanti. Pulau lain di Pulau Bangka yang berhasil dilistriki pada Juni 2017 yang lalu adalah Pulau Nangka. Dengan memasang dua unit PLTD total kapasitas 200 kW, dapat digunakan untuk melistriki penduduk berjumlah 104 KK.

Sementara itu, Pulau Selat Nasik yang berpenduduk 1.534 KK dan Pulau Bukulimau yang berpenduduk 250 KK, masing- masing mendapat empat unit PLTD total kapasitas 1.200 kW untuk Selat Nasik dan empat unit PLTD kapasitas 400 kW untuk Bukulimau. Kapasitas ini cukup untuk membangun cold storage kapasitas 187 kVA di Selat Nasik dan 10,6 kVA di Bukulimau agar produktifitas nelayan meningkat.

Selain itu, ada Pulau Seliu yang mendapat penambahan kapasitas pembangkit sebanyak tiga unit PLTD total kapasitas 300 kW. Pulau berpenduduk 366 KK ini berpotensi menjadi kawasan destinasi wisata bahari. Tercatat akan ada rencana pembangunan resort di kawasan Pulau tersebut pada 2019 mendatang.

Lebih dari itu, dua pulau yang berada paling jauh dari Pulau Belitung, yaitu Pulau Gersik dan Pulau Sumedang juga tidak luput dari perhatian PLN. Masing-masing mendapat tambahan empat unit PLTD total kapasitas 400 kW di Pulau Gersik dan tiga unit PLTD total kapasitas 300 kW di Pulau Sumedang.
Jumlah pelanggan di kedua pulau tersebut memang tidak banyak, sebanyak 172 KK di Pulau Gersik dan 100 Pelanggan di Pulau Sumedang. Namun PLN tetap melistriki agar kehidupan di kedua pulau tersebut menjadi lebih baik.

Upaya PLN dalam melistriki daerah-daerah kepulauan di Bangka Belitung masih terus berlanjut. Tahun 2019 nanti akan dibangun listrik untuk lima pulau kecil yang ada di Kabupaten Belitung.

“Upaya kami untuk melistriki pulau-pulau kecil berpenduduk akan terus berlanjut hingga 2019 nanti, kedepan ada Pulau Rotan, Pulau Long, Pulau Berlian, Pulau Buntar dan Pulau Batun segera berlistrik,” jelas Mukhlis.

Perjuangan Melistriki Pulau

Melistriki pulau- pulau kecil yang ada di Bangka Belitung, bukanlah hal mudah. PLN sendiri harus mengangkut material melewati laut. Untuk menerangi Pulau Nangka yang terletak di Selat Bangka misalnya, petugas bersama dengan warga harus bergotong royong mengangkut baik mesin, material maupun tiang listrik menggunakan kapal nelayan.

“Setidaknya butuh waktu 45 menit Perjalanan laut dari dermaga terdekat, tanjung pura. Sebelumnya meterial diangkut selama 120 menit melalui darat dengan medan yang cukup terjal menuju dermaga,” kata Mukhlis.

Lebih dari itu, kondisi pasir di dermaga Pulau Nangka maupun Tanjung Pura begitu gembur. Sehingga menyulitkan kaki melangkah di atasnya karena tersedot masuk ke dalam pasir. Untuk dapat melewatinya, dianjurkan mengenakan celana pendek dan melepaskan alas kaki yang dikenakan. Tujuannya agar langkah menjadi lebih ringan dan alas kaki tidak tertinggal di dalam pasir.

Sementara itu, ada sedikit cerita berbeda ketika melistriki Pulau Pongok dan Celagen. Para petugas harus menempuh tiga jam perjalan darat terlebih dahulu untuk mengangkut mesin dan material dari kota Pangkalpinang ke Pelabuhan Sadai di Bangka Selatan.

Kemudian mesin dan meterial dibongkar dari truk untuk diangkut menggunakan kapal nelayan menuju pelabuhan Pulau Lepar dengan lama perjalanan laut kurang lebih 30 menit. Tak sampai di situ, bersama para nelayan, mesin kembali dipindahkan ke dalam mobil dan diangkut menuju pelabuhan Tanjung Labu selama 45 menit perjalanan yang berlokasi di ujung timur Pulau Lepar.

Sampai di sini petugas kembali harus melakukan proses loading-unloading mesin untuk kemudian dibawa menuju ke pelabuhan Pulau Pongok dan Celagen yang ditempuh selama 3 jam perjalanan laut.

Jika ditengok dari aspek pembiayaan, menerangi pulau- pulau kecil diperlukan investasi yang sangat besar, dengan return atau pengembalian nilai investasi yang lama. PLN harus menggelontorkan dana sebesar Rp35,9 miliar untuk membangun PLTD di delapan pulau yang telah dibangun ditambah tiga pulau lagi yang saat ini masih dalam proses pengerjaan. Biaya tersebut belum menghitung biaya investasi untuk pembangunan jaringan listrik dan biaya operasional seperti bahan bakar minyak (BBM), pelumas, pemeliharaan, kepegawaian dan sebagainya.

Besarnya biaya pokok penyediaan listrik (BPP) agar listrik di pulau dapat menyala rata-rata sebesar Rp4.200,-/kWh sedangkan harga jual rata-rata hanya sebesar Rp1.457.-/kWh, karena pelanggan listrik masyarakat di kepulauan rata-rata adalah pelanggan daya 900 volt ampere (VA) sampai dengan 1.300 VA.

“Jika melihat kondisi ini, secara bisnis memang tidak menguntungkan, namun hal ini sebagai bentuk dukungan kami untuk mendorong kegiatan perekonomian, pedidikan, dan kesehatan di daerah kepulauan,”terangnya.

Kini masyarakat sudah mulai menikmati hasilnya. Jika sebelumnya warga dengan menggunakan genset harus mengeluarkan biaya rata-rata 800 – 900 ribu setiap bulan, itu pun hanya menyala selama lima jam dari pukul 18.00- 23.00 WIB. Namun kini, cukup membayar antara 200 – 300 ribu rupiah dengan durasi nyala yang jauh lebih lama.

“Ini yang selama ini kami tunggu-tunggu, Jadi kami bahagia kini rumah menjadi benderang, pelayanan kesehatan desa (Polindes) juga menjadi lebih baik. Harapannya semoga listrik PLN terus menyala menerangi desa kami,” ujar Ema salah seorang warga Pulau Nangka.

Sementara itu, menurut Kepala Desa Pulau Sumedang, Muchlis, anak- anak sebelumnya mengalami kesulitan untuk belajar di malam hari.

“Untuk belajar itu susah. Kadang bahkan tidak belajar, paling ya hanya pakai lampu kecil-kecil saja yang kurang terang dan bikin mata sakit. Sekarang sudah tenang, kita bahagia anak-anak bisa mudah belajar di malam hari,”katanya.

Pemerintah daerah pun akan menyediakan cold storage di daerah kepulauan untuk membantu nelayan mendapatkan es dengan mudah. (nov/rls/10)

Comment

BERITA TERBARU