by

Perawan Purnama

-Cerpen-154 views

Karya : R Sutandya Yudha Khaidar

Kisah Tragis
Bagian Pertama, 11 Januari 2019

Langit bersimbah cahaya kala itu. Purnama sedang girang-girangnya menari-nari. Angin sepoi-sepoi bertiup merdu menyentuh kalbu. Purnama yang merasukkan kekhusyukan kepada setiap jiwa. Tak elak juga aku. Purnama seperti ini adalah saat yang tepat bagi mereka yang meyakini untuk shalat sekali dalam seumur hidup dengan hanya satu rakaat. Purnama malam ini begitu indah sebagai akumulasi keindahan, tak pernah aku menyaksikan sebelumnya.

Perawan tragis itu, perawan bebal kataku. Ia menatapku dalam, merenggut tanganku, menggegam dengan penuh hasrat. Tanpa seizinku, apa-apaan, kataku membatin.
Ia tak hendak melepaskan tanganku. Aku kala itu diam saja. Tetapi tatapannya membuatku masuk dalam suasana syahdu yang teramat. Purnama kali ini, juga perawan bebal ini telah mencipta sejarah yang amat sulit kulupa. Ia, Perawan Tragis itu mendobrak rasaku yang selama ini bertuan pada benteng kesucian diri. Ia menatapku belum mengungkap sepatah kata pun. Jantungku berdegup tak beraturan, degupannya berlomba, bersahut-sahutan. Tatapannya mulai meneduhkan rasaku, hangat genggam tangannya membuatku larut dalam suasana nyaman. Setelah sekitar lima menit lamanya, tangan perawan tragis itu memimpin tanganku, ia mulai berkata, “Bersediakah kau menjadi pendamping hidupku?”
Aku terhenyak, kalut, rasaku bercampur aduk. Perawan tragis, perawan bebal, benar-benar. Aku menjadi tidak baik. Tak sehelai kata pun terucap dari bibirku. Sentak, tanganku gemetaran, menjulur ke sekujur tubuhku. Perawan bebal ini membuatku tidak baik. Tak kusadari tanganku terlepas dari tangan perawan bebal itu.

Namaku Maryanti
Bagian Kedua, 12 Januari 2019

Masa laluku adalah kegelapan. Bercokol dalam lumpur nista. Akulah wanita yang disebutnya Perawan Tragis itu. Bukan, namaku Maryanti. Perawan tragis, perawan bebal, kalimat terakhir yang kudengar setelah suasana yang cukup syahdu di malam purnama itu. Ia meninggalkanku dalam kesendirian, dan purnama yang indah pun telah beralih menjadi gerhana di hatiku. Kisah purnama itu, akulah yang memulainya.
Padahal aku juga ingin seperti wanita lainnya. Sudah terlalu lama aku terdampar dalam lembah dosa. Aku juga ingin seperti wanita lainnya, wanita yang baik-baik, yang mengenakan hijab, yang manut titah agama. Telah lama aku merasakan gusar, kekeringan yang payah. Semakin aku masuk ke dunia gelap itu, semakin meronta batinku. Semakin aku tenggelam dalam teriakan musik dunia malam, semakin merintih kalbuku, semakin terjarah ketenanganku. Jeritan batinku semakin melengking dari waktu ke waktu, walau isaknya tak pernah terlahir di dunia. Tak hanya sebatas tenggelam dalam musik dunia malam, aku juga sudah beberapa kali meneguk minuman beralkohol, mulai dari anggur kolesom cap orang tua yang rendah kadarnya, juga yang bermerek dan dilegalisasi oleh aturan, sampai minuman keras oplosan, campuran dari berbagai minuman beralkohol.
Pernah suatu malam, aku dan banyak teman-teman setanku, yang kebanyakan lelaki, berpesta, dalam istilah kami party. Mata para lelaki setan itu memerah, tak sekadar memerah karena mabuk alkohol. Minuman keras bertumpah ruah di malam bejat itu. Mulai dari botol yang berbentuk seperti botol saus yang dijual di toko-toko sembako, ada yang berbentuk seperti botol para penjual bensin eceran, juga ada yang berbentuk segi empat pipih. Jenis yang terakhir ini jika disentuhkan nyala api, ia pun terbakar, mudah terbakar seperti bahan bakar.

Aku Maryanti, tak ingin menjadi perawan tragis. Aku Maryanti tak ingin menjadi perawan bebal. Namaku Maryanti. Aku kini ingin menjadi wanita baik-baik, seperti teman-teman wanita seperjuanganmu. Aku juga ingin menjadi seperti wanita-wanita yang sama-sama berjuang bersamamu. Bahkan aku ingin kau membimbingku, mendampingiku dalam proses menuju itu.

“Namaku Maryanti,” dari dua sudut matanya, kanan dan kiri, butir-butir air menetas. Lelaki itu telah hilang dari pandangannya, semakin jauh. Air matanya malam itu, meneduhkan jiwanya, membebaskan jiwanya yang selama ini terjajah. Air mata itu menenteramkan jiwanya yang selama ini telah terjarah oleh dunia hitam.

“Namaku Maryanti,” rintihnya, “aku ingin menjadi gadis baik-baik.” Kedua tangannya menyeka air mata kesejukan itu.

Sesal dan Doa
Bagian Ketiga, 13 Januari 2019

Rasanya bercampur aduk, kian tak terkendali. Air matanya semakin deras bercucuran. Ternyata retasan air mata pertama itu telah mengundang sedu dan sendu. Di belakangnya, tampak banyak terserak tapak-tapak yang dipenuhi kawah hitam. Recik-recik merah bersimbah di beberapa tempat akibat pergumulannya dengan kebejatan. Tak mungkin ia dapat merajutnya kembali. Masa lalu terlalu jauh untuk dijamah, jauh dan semakin jauh.
Pekik musik dunia malam sayup-sayup di telinganya, menyeru untuk bergoyang kegirangan. Ia terhenti pada gelagak tawa para lelaki bejat itu, kini menjadi cemooh, sebagai dentingan nista. Kalimat terakhir lelaki tadi, perawan tragis, perawan bebal, membawanya menyusuri kembali lorong kumuh, gelap katup yang dipenuhi kawah hitam, recik merah, bau.
Purnama ini takkan mampu menerangi masa lalunya. Bahkan walau purnama ditautkan dengan mentari bersama semua sinar dan cahaya yang beragam di muka bumi ini. Ia menemukan dirinya yang melepaskan marwah, turut dalam hasrat durja kebinatangan. Masa lalu semakin tak terjamah, ia terkunci dalam benteng kaca yang kuncinya sangat rapat, hanya bisa dilihat-lihat saja, tanpa dapat berbuat apa-apa.

Purnama yang benderang. Perawan tragis, perawan bebal, menyentak dirinya untuk kembali bercermin. Ia menengadahkan hatinya, menatap kesyahduan semesta, meratapi segala salah yang ia serakkan. Telinganya yang dulu berkatup dari nasihat-nasihat, hasrat durja yang dulu ia sangat banggakan, kini ia sadari. Ia kini mengiba kasih langit. Tergeletak dalam sesal sendiri di malam purnama itu. Ia tidak meminta masa lalunya untuk bersih dan bersinar, ia tak meminta terajut robeknya masa lalu. Ia mengiba kepada langit untuk memberinya seberkas sinar yang bisa menuntunnya melewati misteri di depan sana.

“Untukmu pemilik purnama. Untuk apa rupa yang elok? Untuk dipuji para lelaki? Untuk apa kulit putih yang kurawat ini?”

“Untukmu pemilik purnama. Aku lalai, terlalu girang aku dulu terjerembab dalam hasrat durja. Separuh usiaku telah kuhabiskan dengan menuruti hasrat durja itu…”

“Untukmu pemilik purnama. Aku tak meminta Kau bersihkan namaku dari cemoohan manusia. Aku tak meminta kegemilangan nama di pentas bumi ini. Aku tak meminta Kau merajut kembali masa laluku yang sudah tersobek-sobek…”

“Cukup…. Cukup sudah. Kau pemilik purnama, aku akui, terlalu banyak kawah hitam yang kuserakkan di sepanjang perjalananku. Aku akui selama ini kedurjaanku telah mencapai puncaknya. Aku tak meminta itu. Aku tak meminta masa laluku untuk bersinar. Aku takkan meminta itu…”

“Untukmu pemilik purnama. Pinjamkan aku, pinjamkan aku seberkas sinarmu, untuk menerangi gelap katupnya diriku ini. Pinjamkan aku, pinjamkan aku seberkas sinarmu, untuk menerangi dalam menyusuri jalan misteri yang terus kemari…”

“Untukmu pemilik purnama. Pinjamkan aku, seberkas sinarmu, tetapkanlah ia dalam hatiku, untuk menjadi pembimbing langkahku…”

Air matanya kian deras meretas, seperti bulir-bulir permata. Mencairlah kini kebekuan yang selama ini telah menumpuk, bertindih-tindih tak beraturan. Air matanya malam itu, membawa kesejukan yang menjalar ke sekujur tubuhnya. Ia belum beranjak dari tempat itu.

Terimakasih Purnama
Bagian Keempat, 14 Januari 2019

Pagi itu terbujur seorang wanita. Hari sudah pagi. Jangkrik telah menamatkan naskah-naskah malamnya. Sahutan kokokan ayam telah berlalu. Matahari membelai dengan sinar lembutnya, menyapa makhluk di permukaan bumi. Dedaunan sedang girang-girangnya, bulir-bulir embun, sudah waktunya untuk beranjak pergi. Wanita itu, Maryanti masih terlelap dalam tidurnya, setelah kejadian semalam. Tak ada seorang pun di sana. Maryanti gadis yang ingin insyaf itu masih saja terlelap dalam tidurnya. Matahari memang selalu menyimbahkan sinarnya kepada semua makhluk di permukaan bumi. Sinar lembutnya pagi itu, membelai tubuh gadis itu untuk membangunkannya. Kedap kabut masih ada beberapa di sana. Bunga-bunga sedang siap mekar-mekarnya. Pagi yang indah. Maryanti, gadis itu masih saja terlelap dalam tidur. Setelah sesal dan doanya semalam. Senyum tersimpul halus pada dua bibirnya yang tampak hitam, tak seperti wanita umumnya. Mungkin karena bekas rokok. Gincu dan bedaknya sudah rontok, persembahan terbaik untuk lelaki itu.
Sepertinya air matanya semalam sedang menghapus potensi dosa di wajahnya. Gincu, bedak, dan tampilan terbaik seorang wanita semestinya hanya kepada suaminya, kepada lelaki yang telah menyatakan siap bertanggung jawab untuk menjalani kehidupan bersama, merajut istana indah dengan keimanan dan ketaatan. Perancang kehidupan sudah demikian apiknya mencurahkan aturan-aturan kehidupan yang demikian eloknya, yang demikian anggunnya, jika saja jiwa-jiwa manusia mau menjalankannya. Aturan-aturan dasar yang santun dan tegas dapat memberangus keberingasan dan wujud kebinatangan manusia. Padahal manusia adalah lukisan teragung di muka bumi ini.

Lihat di sana ternyata Maryanti sudah terbangun. Ia mengusap-usap kedua matanya. Bukan, ia tidak sedang menyeka air mata. Ia menjernihkan pandangan, menghapus kelip yang galib terjadi kepada setiap manusia saat terbangun dari belaian mimpi. Mendongakkan kepalanya ke atas sana, purnama telah berlalu. Senyum tersimpul di wajahnya, entah apa yang tampak di perjalanan semalam menyusuri alam mimpi. Mungkin pemilik purnama menghibur hatinya yang kalut, kalut untuk mendapatkan sepundak sandaran dalam kehidupan yang misteri. Dari wajahnya yang ayu itu, tampak seutas optimis. Entahlah, malaikat apa yang dikirim pemilik purnama menemani tidurnya malam tadi. Ia sadar bahwa hari telah pagi, saatnya ia kembali. Ia sadar bahwa di depan sana, waktu terus akan kemari, entah seberapa lama lagi ia akan menyusurinya.

“Terimakasih Purnama,” ungkapnya.

Senyum tersimpul dari dua bibir hitam, tanpa lagi gincu. Senyum yang tampak indah. Andai saja ada yang melihatnya.

Comment

BERITA TERBARU