Peran Orang Tua dalam Pembentukan Karakter Anak

  • Whatsapp

Oleh: Anisa Royani
Mahasiswi Sosiologi Universitas Bangka Belitung

Anisa Royani

Realita setiap manusia yang memiliki sifat dan karakteristik yang berbeda-beda membuat warna dalam lingkungan kehidupan bermasyarakat. Tercapainya tujuan bersama dalam masyarakat tentu tergantung pada individu yang menjadi penggerak dalam masyarakat. Semakin berpengaruh individu terhadap masyarakat tentu akan menjadi pemicu tercapainya tujuan dalam kehidupan bermasyarakat.
Lalu apa itu masyarakat? Disini Penulis coba mendefinisikan bahwa Masyarakat ialah sekumpulan individu yang hidup bersama dan saling berinteraksi yang mendiami suatu wilayah dalam jangka waktu tertentu serta memiliki tujuan yang ingin dicapai secara bersama-sama. Sedangkan Individu itu sendiri merupakan komponen utama dalam pembentukkan masyarakat.
Lingkungan masyarakat yang baik secara tidak langsung tentu akan menciptakan individu yang berkualitas pula, begitu juga sebaliknya lingkungan masyarakat yang kurang baik tentu akan membawa pengaruh negatif bagi individu. Namun, tidak semua orang dengan mudah akan terpengaruh dengan lingkungan dimana seseorang tersebut berada, tentu ada sikap menerima pengaruh baik dan menolak pengaruh buruk dalam diri seseorang. Namun, tetap saja lingkungan dimana seseorang berada akan membawa pengaruh tersendiri dalam membentuk karakter seseorang walaupun dengan persentase terendah sekalipun. Lingkungan masyarakat tidak akan dapat dipisahkan dengan proses pembentukkan karakter seseorang. Hal tersebut dapat terjadi tentu karena adanya interaksi sosial antara seseorang dengan orang lain baik interaksi secara visual maupun fisik, hal tersebut tentu menjadi pengaruh terbesar mengingat kebutuhan sosial yang utama bagi seseorang adalah interaksi.
Selain dari lingkungan sosial, tentu masih ada lingkup lain yang menjadi media pembentukkan karakter seseorang yaitu keluarga. Keluarga merupakan ruang lingkup terkecil dalam masyarakat, yang mana dalam sebuah keluargalah akan terbentuk pribadi-pribadi baru yang akan menjadi komponen penggerak dalam masyarakat. Peran keluarga sangatlah berpengaruh dalam pembentukkan karakter seseorang. Karena lingkungan keluarga merupakan lingkup terkecil namun berpengaruh besar sebagai tempat belajar bagi seseorang dalam membentuk karakter baik secara langsung maupun tidak langsung yang akan melekat dalam diri seseorang itu sendiri. Tidak dapat dielakkan lagi, dalam hal ini peran keluarga tentu menjadi hal yang sangat diprioritaskan, menciptakan suasana rumah yang nyaman menjadi salah satu syarat dalam membentuk karakter yang baik bagi penghuni rumah. Dengan terciptanya suasana rumah yang baik tentu akan sangat membantu setiap anggota keluarga memberikan bekal sebagai proses pembentukkan karakter bagi seseorang.
Pola asuh orang tua menjadi hal yang diutamakan dalam hal ini. Ketika orang tua dapat memciptakan pola pengasuhan yang baik tentu seseorang akan merasa nyaman dan cenderung mendengarkan apa yang diajarkan oleh orang tua dalam menciptakan generasi yang unggul dan berkarakter baik. Seorang anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang baik tentu akan menciptakan pribadi yang baik pula. Ketika seorang anak dibesarkan dilingkungan keluarga yang cenderung lembut, penuh kehati-hatian dalam pengasuhan dan cenderung takut untuk bertindak tegas terhadap anak terdapat beberapa kemungkinan diantaranya anak tersebut akan berkarakter teliti dan hati-hati dalam bertindak dan membuat keputusan, penurut dan cenderung agak pendiam. Namun dilain kasus seorang anak yang dibesarkan dengan pola asuh yang demikian mungkin saja akan menjadi pribadi yang sulit untuk berinteraksi dan berbaur dengan lingkungan sosial, hal tersebut dikarenakan sifat kehati-hatiannya yang cukup tinggi, sehingga sulit untuk percaya bahkan merasa nyaman dengan lingkungan diluar rumah.
Begitu pula dengan anak yang dibesarkan dilingkungan keluarga yang cenderung tegas dan keras dalam pola pengasuhan tentu akan ada kemungkinan baik dan buruknya, kemungkinan baiknya anak tersebut tentu akan menjadi pribadi yang berkarakter tegas dan berjiwa kepemimpinan yang tentunya sangat baik bagi masa depan seorang anak, namun kemungkinan buruknya anak tersebut cenderung akan menjadi pribadi yang keras kepala dikarenakan anak tersebut merasa selalu dikekang atau mendapat perlakuan keras dalam pengasuhan ketika usia kanak-kanak, sehingga dimasa remaja ketika anak tersebut telah merasa menemukan jati dirinya justru terkesan merasa bebas, sehingga melupakan apa yang seharusnya boleh dan tidak boleh dilakukan sebagaimana yang diajarkan oleh orangtuanya semasa kecil.
Namun dalam kasus lain, seorang anak yang dibesarkan dengan pola pengasuhan yang tegas dan keras cenderung akan membawa sifat baik dari apa yang diajarkan kedua orangtuanya semasa kecil, cenderung mengayomi, dapat menjadi pemimpin bagi teman-temannya hingga mampu menjadi panutan, karena ketegasan yang didapatkan dari pola pengasuhan orang tuanya.
Tidak hanya terpaku dengan kedua pola pengasuhan tersebut, tentu ada orang tua yang dengan kesadaran penuh memberikan kebebasan kepada anak, baik dalam hal yang bersifat pribadi seperti pemenuhan kebutuhan sehari-hari maupun yang bersifat umum, seperti memberikan dukungan dimanapun anak mereka akan memilih sekolah tanpa ada pertimbangan sedikitpun antara kedua belah pihak. Tentu ada pengaruh baik dan buruknya pula terhadap pembentukkan karakter anak. Dimana ketika seorang dibesarkan dengan pola asuh yang cenderung memberikan kebebasan penuh terhadap pendapat anak dari segi pengaruh baiknya tentu anak tersebut tidak akan merasa terpaksa dalam menjalani apa yang menjadi pilihannya, sehingga menumbuhkan sifat kehati-hatian dalam mengambil keputusan yang mana keputusan tersebut memang telah menjadi pilihannya, dengan begitu seorang anak harus teliti dalam menentukan sesuatu, mengingat apapun yang menjadi pilihannya tidak akan ditentang orang tuanya dan tentunya akan mendapatkan dukungan penuh. Dengan demikian menuntut anak menjadi dewasa dalam membuat serta mempertimbangkan sesuatu dengan sendirinya. Menumbuhkan pola pikir yang baik sehingga anak tersebut akan berkualitas dimasa mendatang.
Akan tetapi, jangan hanya terpukau dengan pengaruh baiknya saja, karena tentu akan ada pengaruh buruk terhadap pola pengasuhan yang cenderung memberikan kebebasan anak untuk berpendapat tanpa ada sanggahan sedikitpun dari orang tua. Dengan pola pengasuhan yang demikian, dilihat dari pengaruh buruknya tentu anak tersebut akan menjadi pribadi yang keras kepala. Mengapa demikian? Mengingat kembali bahwa pola asuh orang tua yang memberikan kebebasan penuh kepada seorang anak untuk membuat dan mengambil keputusan dengan sendirinya tanpa ada pendapat atau sanggahan. Hal tersebut tentu membuat anak merasa apapun yang ia buat, apapun yang menjadi keputusannya tentu hal tersebut dianggapnya benar, tanpa mempertimbangkan apakah hal tersebut benar atau justru sebaliknya bagi orang lain. Sikap yang demikian tentu tidak baik bagi seorang anak dimasa depan, karena tidak memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berpendapat, sehingga anak tersebut tidak akan mampu bekerja sama dalam tim.
Baik atau buruknya karakteristik seorang anak sangat dipengaruhi oleh apa yang ia dengar dan ia lihat, dimana hal tersebut didapatkan dari pengajaran baik secara langsung maupun tidak langsung, yang diperoleh dari lingkungan sekitar maupun lingkungan keluarga. Keberhasilan kedua orang tua dalam mendidik dan membentuk karakter anak tidak hanya terpaku pada salah satu pola pengasuhan saja. Mengapa demikian? Karena anak bukanlah kelinci percobaan sebagaimana dapat digunakan untuk ajang coba-coba dalam memberikan pengasuhan untuk melihat mana pola pengasuhan yang dampaknya baik dan buruk bagi anak. Namun, kebijakan orang tua yaitu memberikan pengasuhan dan pengajaran dengan cara fleksibel, dalam arti tidak harus mengacu pada salah satu saja. Ada baiknya menerapkan keseluruhan, tetapi dengan persentase yang berimbang.
Adakalanya orang tua dituntut bersikap tegas dan keras, dilain kasus orang tua juga harus mampu bersikap lembut dan penuh kehati-hatian. Namun, disisi lain orang tua juga harus memberikan kesempatan kepada buah hati agar mengutarakan apa yang menjadi keinginannya, menyikapi pendapatnya, mendengarkan apa yang menjadi permasalahan dalam kehidupannya. Sehingga seorang anak merasa nyaman, tidak merasa terlalu dikekang atau bahkan merasa terlalu bebas seakan-akan tidak diperhatikan orang tuanya. Dengan pola pengasuhan yang demikian diharapkan seorang anak memiliki karakteristik yang baik sebelum akhirnya benar-benar memasuki dunia masyarakat yang sesungguhnya. Individu yang berkarakter baik tentu akan mampu bersikap dan bahkan berpengaruh dalam lingkungan masyarakat. Karena yang diharapkan ialah individu tersebut mampu bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama dalam kehidupan bermasyarakat.
Tidak ada yang disalahkan dalam hal ini, namun yang harus digaris bawahi adalah bagaimana antara orang tua dan anak dapat memposisikan diri dengan baik, bagaimana orang tua dengan anak mampu menjalankan perannya dengan baik dan saling bekerjasama. Sehingga apa yang diharapkan dapat terwujud dengan baik. Tidak ada istilah orang tua salah dalam mendidik anak dan tidak ada istilah seorang anak tidak dapat dididik oleh orang tuanya. Dari anak tersebut terlahir hingga akhir hayat tidak akan lepas dari pendidikan yang diberikan oleh orang tua, sesederhana apapun pendidikan tersebut. Dan seorang anak tidak mungkin tidak dapat dididik, karena setidaknya seorang anak pernah melaksanakan apa yang diajarkan orangtuanya sesederhana apapun ia melaksanakannya. Maka dari itu, baik orang tua maupun anak harus mampu menghargai apapun yang telah dilakukan. Karena pada akhirnya baik orang tua maupun anak akan berbaur kedalam lingkungan masyarakat, yang mana yang diperlukan adalah peran serta individu dalam membangun masyarakat untuk mencapai apa yang ingin dicapai.(****).

Related posts