Peran Milenial Meminimalisir Perbedaan di Asia

  • Whatsapp

Oleh: Sisiarianti
Mahasiswa Sosiologi UBB

Asia adalah salah satu benua terbesar dan paling padat penduduknya di dunia. Menurut penelitian, benua ini memiliki luas 8,7% dari total luas permukaan bumi dan terdiri dari 30% dari luas daratannya, sekitar 4,3 milyar orang, dan terdapat 60% dari populasi manusia. Keragaman benua asia dapat dilihat dari aspek geografi manusia dan geografi fisik. Asia sangat beragam dan di dalam masing-masing wilayahnya terdapat kelompok-kelompok etnis, budaya, lingkungan, ekonomi, hubungan sejarah dan sistem pemerintahan. Karena itu, Asia memiliki perbedaan keberagaman antar Negara di Asia. Sebagai generasi milenial harus paham bagaimana cara untuk menghilangkan perbedaan yang ada agar terjadinya relasi yang akan menguatkan Negara-negara yang ada Asia.
Bagaimana sikap yang harus diterapkan generasi YZ dalam menghilangkan perbedaan antar Negara tersebut. Yang Pertama, dengan mengembangkan sikap toleransi, berarti saling menghormati dan menghargai perbedaan dengan orang lain, sehingga antar individu dapat saling belajar dan menolak kesenjangan budaya sekaligus menolak segala bentuk stereotif yang tidak adil terhadap seseorang atau sekelompok orang. Misalnya, dalam beragama tidak boleh ada perspektif bahwa agama islamlah yang paling bagus atau agama Kristen yang paling baik. Argument seperti itu, harus dihindarkan karena argument demikan tidak menunjukan sikap toleransi antar agama, yang seharusnya dilakukan adalah saling menghormati antar agama.
Yang Kedua, interaksi lintas budaya, Budaya-budaya yang berbeda memiliki sistem-sistem nilai yang berbeda, karena itu juga akan ikut menentukan tujuan hidup yang berbeda pula, karena cara berkomunikasi kita yang sangat dipengaruhi oleh bahasa, aturan dan norma yang ada pada masing-masing budaya. Sebenarnya, dalam setiap kegiatan komunikasi kita dengan orang lain selalu mengandung potensi komunikasi lintas budaya atau antar budaya. Perbedaan-perbedaan ekspektasi budaya dapat menimbulkan resiko yang fatal, setidaknya akan menimbulkan komunikasi yang tidak lancar, timbul perasaan tidak nyaman atau timbul kesalahpahaman.
Akibat dari kesalahpahaman-kesalahpahaman itu, banyak kita temui dalam berbagai kejadian mengandung etnosentrisme yang dewasa ini, dalam wujud konflik-konflik yang berujung pada kerusuhan atau pertentangan antar etnis atau Negara. Sebagai salah satu jalan keluar untuk meminimalisir kesalahpahaman-kesalahpahaman akibat perbedaan budaya antar Negara, adalah dengan mengerti atau paling tidak mengetahui bahasa dan perilaku budaya Negara lain, mengetahui prinsip-prinsip komunikasi lintas budaya dan mempraktekkannya dalam berkomunikasi dengan orang lain. Misalnya, diadakan pertukaran pelajar antar Negara, dari situ bisa dijadikan ladang untuk menjalin interaksi dengan Negara lain. Selain itu, kita juga dapat bertukar informasi dan mengetahui hal-hal baru dari kebudayaan yang ada antar Negara.
Ketiga, sikap nasionalisme, yaitu paham kebangsaan dari masyarakat suatu negara yang memiliki kesadaran dan semangat cinta tanah air dan bangsa yang ditunjukkan melalui sikap dan tingkah laku individu atau masyarakat. Salah satu contoh sikap nasionalisme yaitu dengan mencintai Negara sendiri misalnya Indonesia. Sebenarnya kita tidak perlu lagi untuk kuliah di universitas Negara lain, karena di Indonesia juga terdapat banyak universitas dengan ilmu yang tidak kalah lebih dengan univeristas yang ada di Negara lain. Itu termasuk turunan dari rasa cinta kepada tanah air agar Negara kita menuju kearah yang lebih maju. Karena majukanlah Negara sendiri terlebih dahulu sebelum memajukan Negara orang lain.
Ke empat, hapus stereotif negatif mengenai bangsa dan ras tertentu. Seiring berjalanya waktu prasangka atau setereotipe negatif mulai meluas dan menyebar di kalangan masyarakat. Termasuk di Indonesia, seperti yang kita ketahui bersama bahwa negara kita dikenal sebagai negara yang majemuk, tentunya berpontensi akan munculnya berbagai permasalahan yang pastinya akan dihadapkan dengan keragaman dan perbedaan akan suku bangsa, agama, golongan sosial, partai politik, dan lain sebagainya.
Tanpa sengaja dari sinilah biasanya muncul konflik-konflik di Indonesia yang dipicu oleh kejadian yang berasal dari “katanya”, kemudian berkembang menjadi konflik antar umat beragama. Disisi lain, prasangka juga melahirkan sikap-sikap yang bersifat stigma dan diskriminasi. Bagaimanapun juga tingkah laku atau tindak tanduk kita mencerminkan sikap prasangka kepada orang lain, baik itu ucapan, perkataan, tindakan, maupun semua perilaku kita mencerminkan stigma dan diskriminasi kita. Misalnya kita menilai kaum 1 adalah pembohong dan kebiasaan lain biasanya kita akan menyebarkannya kepada orang lain untuk menanam kebencian dan dendam pada orang lain. Bisa dibayangkan jika ini bertahan lama, generasi yang akan datang bisa lahir sebagai kaum pembenci dan pendendam. Tentu hal seperti ini sangat tidak kita inginkan untuk terjadi.
Nah, menyikapi hal seperti ini tentu membuat kita harus berfikir bagaimana langkah atau sikap yang harus kita ambil terkait upaya menghilangkan prasangka dan stereotipe negatif. Adapun hal yang mungkin bisa digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut yaitu dengan cara komunikasi yang baik, karena kita tahu di era globalisasi sekarang ini banyak berita-berita yang belum tentu benar atau sering di sebut sebagai hoaks. Sekarang kita dibuli oleh argument-argumen yang kebenaranya belum tentu ada, itu terjadi karena kurangnya informasi dan kurangnya komunikasi yang baik. Jika kita tidak bisa menelaah mana yang benar dan mana yang salah, maka kita akan terjerumus dengan yang namaya konflik. Hal itu sebenarnya harus dihindarkan agar tidak terjadinya konflik antar Negara.
Kelima, hindari menilai orang dari kondisi negaranya. Seorang individu tidak dinilai dari daerah mana atau Negara mana dia berasal, seorang individu dinilai dari dirinya sendiri, misalnya dari sikap individu tersebut, bagaimana cara ia berinteraksi dan berkomunikasi dan bagaimana dia menggunakan sikap moralnya ketika hendak bertingkah laku dalam kehidupan sehari-sehari, karena orang tersebut tidak dinilai dari luar melainkan dari dalam individu itu sendiri. Misalnya, ada orang yang mengklaim Negara A itu kurang baik, karena Negara tersebut sering melakukan teror dan perang terhadap Negara lain, maka otomatis individu yang tinggal di Negara tersebut pun pasti memiliki sikap yang demikian. Tapi, semua itu termasuk pandangan yang salah total, karena jangan menilai seseorang dari negaranya, nilailah seseorang dari dirinya sendiri.
Dengan terciptanya hubungan internasional, maka perbedaan antar Negara akan berkurang. Hubungan internasional diartikan sebagai hubungan antar negara, antar kelompok atau antar individu dari suatu negara yang berbeda dalam bidang tertentu yang tujuannya adalah untuk kepentingan kedua belah pihak. Misalnya bentuk kerja sama internasional dari memajukan pembangunan ekonomi nasional. Bentuk kerja sama internasional tersebut berupa pinjaman modal, pendidikan tenaga ahli, penerapan teknologi modern, peningkatan industri pariwisata, dan lain-lain. Untuk keperluan itu, Indonesia membuka pintu bagi para penanam modal asing sejauh mereka mau tunduk kepada undang-undang dan aturan permainan negara Indonesia. Misalnya melalui penanaman-penanaman modal asing yang bergerak di bidang pertambangan, minyak dan gas bumi, tekstil, pengawetan makanan, perakitan kendaraan bermotor, juga industri kimia. Pelaksanaannya diatur melalui Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967.
Dengan menciptakan hubungan internasional, maka tumbuhkan minat belajar budaya luar, yaitu dengan mencari pengetahuan tentang Negara lain melalui media sosial. Perbanyak pergaulan global, misalnya dengam mengikuti perlombaan ASEAN games, di sana kita dapat berinteraksi dengan orang yang berasal dari Negara lain. Tidak hanya itu, kita juga dapat bertukar informasi mengenai kebudayaan tiap-tiap Negara. Dan pahami budaya serta negeri sendiri seperti bahasa dan aksara daerah maupun tata krama dan tradisi local. Kita juga bisa mengenalkan budaya Negara kita dengan kearifan lokal yang dimiliki, seperti dengan mengajak orang-orang yang berasal dari Negara lain untuk memperkenalkan sejarah dari Negara kita. Bawa nama baik bangsa dan negara Indonesia, misalnya kita ingin memperkenalkan budaya Negara kita dari kuliner khasnya.
Kita ketahui Indonesia sempat menjadi rebutan oleh Negara lain, karena Indonesia sangat kaya akan rempah-rempahnya. Maka dari itu, kita bisa mempromosikan Negara kita lewat makanan, karena kuliner saat ini menjadi sasaran empuk yang dimanfaatkan tiap Negara untuk mempromosikan kearifan lokal dari negaranya. Begitu banyak jenis makanan atau kuliner lainnya yang sedang gencar baik di sosial media maupun di pasar-pasar yang ada di berbagai Negara. Mengapa makanan menjadi salah satu wadah untuk mengenali identitas Negara? Karena makanan sifatnya dinamis dan fleksibel, bisa berubah-ubah walaupun dengan menu yang sama. Hanya saja tampilannya yang berbeda, misalnya Indonesia terkenal dengan makanan yang khasnya yaitu gado-gado, Jepang terkenal dengan makanan khasnya Sushi, dan banyak makanan khas dari Negara lain yang menjadi identitas dari Negara tersebut. (***).

Related posts