Peran Media Online dalam Kampanye Politik di Era Dinamika Native

Oleh: Feryandi Komeng
Ketua Ikatan Penulis dan Jurnalis Indonesia Babel/Penulis Buku Jurnalistik Online

Feryandi

Di era Dinamika Native saat ini, metode kampanye konvensional mulai beralih ke era kampanye digital. Suka tidak suka, mau tidak mau, berbagai kalangan mengakui hal tersebut. Kampanye model konvensional seperti pengerahan massa untuk rapat umum mulai terasa hampa. Di balik keramaian massa dengan berbagai atribut, terasa sepi makna.

Metode penampaian visi-misi terasa mulai berpindah ke ruang-ruang maya. Diskusi, perdebatan, bahkan saling tuding secara frontal begitu bebas terjadi di berbagai media online maupun media sosial. Bagi kalangan yang melek informasi dan terdidik, penyampaian informasi media sosial lebih efektif ketimbang baliho, spanduk, pamplet maupun stiker. Orang yang relatif terdidik tidak akan begitu percaya saja, apa yang disampaikan dalam bentuk baliho, spanduk, pamplet dan stiker tapi lebih percaya pada berita media online dan penyebaran informasi lewat media sosial.

Kampanye melalui media online dalam rangka penyampaian visi dan misi serta informasi lainnya dipercaya berbagai kalangan lebih efektif, cepat, murah, dan dapat dipertanggungjawabkan. Setiap orang dapat berpengaruh bagi orang lain melalui media sosial orang bisa mengupload berbagai informasi dan gambar. Media sosial tidak lagi berlaku one man one vote, tetapi satu orang bisa memiliki kekuatan setara puluhan, ratusan, atau ribuan lebih orang.

Inilah kelebihan media online dan media sosial: efektif sebagai sarana penyebarluasan informasi, pertukaran ide. Penyebaran berbagai ide, termasuk isi kampanye via media sosial, berlangsung amat cepat dan hampir tanpa batas. Di Faceebook, Twitter, misalnya, hanya dengan men-twit dan upload, informasi tersebar luas ke seluruh pertemanan dan follower, begitu seterusnya.

Efektivitas media online dan media sosial tidak hanya karena jumlah penggunanya yang masif, karakteristik media sosial sendiri juga merupakan kekuatan. Media online dan media sosial adalah sarana untuk informasi dan komunikasi di mana setiap individu saling memengaruhi. Setiap orang memiliki pengaruh ke sekelilingnya.

Di dalam ruang media sosial hanya informasi yang sesuai fakta yang berharga. Untuk mencapai keyakinan bahwa informasi itu sesuai fakta, sering kali muncul perdebatan. Dalam berbagai hal yang menarik perhatian publik terjadi tesis yang dilawan oleh argumen antitesis. Keajaiban sering kali muncul di media sosial berupa tercapainya sintesis. Tidak perlu ada seseorang yang menyimpulkan, tapi dari perdebatan tersebut sering kali muncul “kesepakatan sunyi” di antara pihak-pihak yang berdebat beserta para “pendengarnya”.

Peran media online dan media sosial di era saat ini, juga cukup membantu pihak penyelenggara Pemilu, pasangan calon pilkada, pileg dan masyarakat serta pihak lainnya. Seringnya dimuat profil, aktivitas paslon/calon saat tahapan kampanye, visi-misi serta informasi lainnya membuat masyarakat dapat lebih mengetahui sepak terjang paslon/calon atau siapa sebenarnya mereka.

Media online bisa sebagai salah satu sarana kampanye di era digital native kekinian. Saat ini, untuk meningkatkan popularitas cukup dengan media online maupun media sosial. Media online dapat menyentuh langsung ke sasaran, jika dikelola dengan baik. Sedangkan untuk media sosial karena sifatnya yang memiliki rentang waktu panjang, tidak memiliki pengaruh signifikan untuk kampanye yang sifatnya mobilisasi.

Kerja-kerja di media online maupun media sosial bergerak perlahan dengan membincangkan visi, misi, ide, ideologi. Pengguna media sosial bukan orang yang bisa digiring, tapi bergerak dengan kemauan dan kesadaran sendiri.
Media sosial hanya berpengaruh signifikan bagi politikus yang bekerja sepanjang waktu. Bukan pekerjaan instan lima tahun sekali. Mereka yang intens menyebarkan ide-ide dan berdiskusi dalam bidang tertentu secara mendalam sepanjang waktu akan mendapat hasilnya saat pemilu.

Media sosial tidak cocok untuk politisi “kosong”, tapi hanya bagi mereka yang punya kemampuan berpikir dan berdialektika. Media sosial juga tak cocok bagi yang egois, melainkan bagi mereka yang memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap berbagai masalah yang dihadapi masyarakat. Hanya politisi yang memiliki simpati dan empati terhadap permasalahan rakyat yang akan menuai simpati dan empati publik.

Sifat kampanye di media sosial bisa merupakan kebalikan dari kampanye di dunia nyata. Jika di dunia nyata kampanye begitu berisik, keras suaranya tapi tanpa bukti nyata, di media sosial adalah antitesis dari berisik dan bising tersebut, yaitu bermakna. Setiap suara punya arti, memiliki pembuktiannya sendiri-sendiri.

Politik melalui media online dan media sosial bisa merupakan politik sejati, yaitu politik yang benar-benar berisi ide-ide dan aksi nyata untuk kebaikan umum. Inilah politik yang memiliki daya dobrak. Berbagai isu sosial yang menjadi beban masyarakat sering kali mendapatkan solusinya di media sosial.

Di sisi lain perlu ada regulasi yang jelas dan komprehensif. Kecurangan dan pelanggaran amat mungkin terjadi saat regulasi yang ada memiliki banyak celah. Amat mungkin terjadi kampanye di media sosial saat masa tenang dan pungut-hitung. Permenkominfo No 14/2014 tentang Kampanye Pemilu melalui Penggunaan Jasa Telekomunikasi perlu disosialisasikan dan diperkuat dengan peraturan KPU dan peraturan Bawaslu.

Potensi pelanggaran lainnya terkait kejelasan aktor dan materi kampanye. Perlu ada aturan yang jelas untuk mencegah kampanye yang bersifat fitnah, terutama oleh akun-akun anonim.

Berdasarkan pengamatan Penulis dalam beberapa gelaran pilkada lokal di Bangka Belitung ini, masa kampanye menggunakan media seperti media massa cetak yakni koran masih banyak terdapat dugaan pelanggaran-pelanggaran yang luput dari pantauan pihak penyelenggara Pemilu yakni Bawaslu dan KPU sampai jajaran paling bawah.

Sebagai catatan, media sosial dapat jadi solusi meminimalkan ketidakadilan. Media sosial dapat jadi penyeimbang media siaran televisi yang sekarang tak lagi mampu mempertahankan independensi dan keadilannya. Televisi dimiliki pengusaha yang sekarang masuk berbagai partai. Kondisi ini menyebabkan masyarakat mulai hilang kepercayaan, apa yang disampaikan media elektronik televisi. (****).

No Response

Leave a reply "Peran Media Online dalam Kampanye Politik di Era Dinamika Native"