Peran Hutan Mangrove dalam Mitigasi Bencana

  • Whatsapp
Darman Suriah, S.Hut
Penyuluh Kehutanan Ahli Madya Dinas Kehutanan Prov. Kep. Babel

Sejak di deklarasikan pada tahun 2004, Mangroves Day yang jatuh pada tanggal 26 Juli setiap tahunnya dijadikan momentum bagi banyak pihak (stokholder, lembaga swadaya masyarakat, pencinta lingkungan, dunia usaha, pelajar serta lainnya) untuk melakukan aksi dan menyuarakan kampanye terkait pelestarian ekosistem mangrove. Dan baru pada tahun 2015, melalui Konferensi Umum Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuanan Kebudayaan PBB (UNESCO) memproklamasikan 26 Juli sebagai Hari Internasional Mangrove dan menekankan pentingnya melindungi mangrove sebagai bagian dari Agenda for Sustainable Development.  Guna memperingati hari mangrove sedunia tingkat nasional tahun 2020, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia akan dilangsungkan di kawasan pantai Pelabuhan Perikanan Kejawanan, Kecamatan Lemah wungkuk, Kota Cirebon dengan kegiatan yang bernama Mamo My Darling (Mari Move On Masyarakat Sadar Lingkungan) dengan tema kegiatan yakni Gerak Setara (Gerakan Semai Tanam Pelihara). Sedangkan untuk Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melalui Dinas Kehutanan direncanakan akan dipusatkan di Bukit Telaga Tujuh Desa Sungai Buluh Kecamatan Jebus Kabupaten Bangka Barat.

Hutan mangrove adalah suatu ekositem hutan yang terdiri dari kelompok pepohonan yang bisa hidup dalam lingkungan berkadar garam tinggi. Salah satu ciri tanaman mangrove memiliki akar yang menyembul ke permukaan. Penampakan mangrove terlihat seperti hamparan semak belukan yang memisahkan daratan dan lautan. Kata mangrove berasal dari kata mangue (bahasa Portugis) yang berarti tumbuhan, dengan grove (bahasa Inggris) yang berarti belukar. Hutan mangrove merupakan suatu kelompok jenis tumbuhan berkayu yang tumbuh di sepanjang garis pantai tropis dan subtropis yang terlindung dan memiliki semacam bentuk lahan pantai dengan tipe tanah anaerob atau tanah dengan kadar oksigen terbatas. Perlu diingat bahwa ada perbedaan antara istilah mangrove dan bakau yang banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia. Padahal, mangrove dan bakau merupakan dua istilah berbeda. Bakau merupakan istilah bahasa Indonesia juga Malaysia yang mengacu pada salah satu jenis tanaman yang aada di hutan mangrove, biasanya berasal dari genus Rhizophora. Sedangkan istilah mangrove mengacu pada semua jenis tanaman yang tumbuh di sekitar garis pantai dan bisa hidup di lingkungan yang bersalinitas tinggi. Termasuk didalamnya berbagai jenis pohon yang disebut bakau tadi, dengan ciri-ciri khas yang hutan mangrove tidak dimiliki oleh hutan lain, diantaranya: (1). Tidak terpengaruh iklim; (2). Hutan tidak mempunyai struktur tajuk; (3). Tanah tergenang air laut; (4). Tanah rendah pantai dimana; (5). Jenis-jenis pohonnya biasanya terdiri dari api-api (Avicenia sp.), pedada (Sonneratia sp.), bakau (Rhizophora sp.), lacing (Bruguiera sp.), nyirih (Xylocarpus sp.) nipah (Nypa sp.).

Secara Fungsi, hutan mangrove itu sendiri dibagi menjadi lima, fungsi yaitu : (1). Fungsi Fisik, berupa Menjaga kestabilan garis pantai, Melindungi pantai dari dan abrasi, Menahan sedimen dan Kawasan penyangga proses intrusi; (2). Fungsi Kimia, adalah penghasil oksigen & penyerap karbon dioksida dan Pengolah limbah; (3). Fungsi Biologi, yakni sumber makanan, Nursery ground, Kawasan persinggahan dan habitat satwa langka dan Plasma Nutfah; (4). Fungsi Ekonomi, yakni Penghasil kayu, Bahan baku industri kertas dan Penghasil bibit hewan; dan (5). Fungsi Lainnya, adalah  Kawasan Wisata dan Kawasan pendidikan.

Secara Gografi, Indonesia berada di titik temu 4 lempeng utama bumi, yakni: (1). Lempeng Pasifik; (2), Lempeng Eurasia; (3) Lempeng Samudra Hindia-Australia; dan (4) Lempeng Philipina, dangan keadaan geografi ini Negera Indonesia sangat rentan dengan bencana, terutama gempa bumi yang berdampak kepada adanya stunami disamping itu keberadaan geografi tersebut berpengaruh juga terhadap adanya perubahan iklim secara global dimana perubahan iklim bukan lagi sebuah isu. Perubahan iklim adalah sebuah fakta yang harus dihadapi oleh masyarakat di bumi. Selain itu, perubahan iklim tidak hanya menjadi konsumsi para akademisi, pemerintah dan pelaku bisnis semata sebab topik ini telah menjadi pembicaraan masyarakat umum karena dampaknya yang dirasakan secara langsung dan nyata terasa.

Baca Lainnya

Media massa, baik cetak, elektronik maupun online turut meramaikan topik perubahan iklim tersebut, dengan cara menyebarluaskan temuan-temuan penelitian terkait perubahan iklim termasuk memberitakan tantangan, kesempatan dan praktik-praktik masyarakat dalam upaya mencegah dan beradaptasi dengan perubahan iklim. Mengingat dampak yang ditimbulkan semakin luas dan signifikan, diperlukan penanganan yang komprehensif, integratif dan holistik. Ada dua konsep utama yang diperkenalkan untuk menghadapi dampak perubahan iklim, yaitu mitigasi dan adaptasi.  Mitigasi dan adaptasi perubahan iklim adalah sebuah upaya yang penting dilakukan dalam menghadapi dampak perubahan iklim.

Secara singkat, mitigasi berarti sebuah  usaha yang dilakukan untuk mencegah, menahan dan atau memerlambat efek gas rumah kaca yang menjadi penyebab pemanasan global di bumi.  Berkebalikan dengan mitigasi, adaptasi lebih kepada upaya yang dilakukan untuk menyesuaikan diri terhadap dampak perubahan iklim yang telah terjadi dan dirasakan oleh manusia di bumi. Mitigasi saja tidak cukup, demikian pula dengan hanya beradaptasi saja. Keduanya harus berjalan beririnan.  Oleh sebab itu, baik mitigasi dan adaptasi sangat penting dilakukan secara bersama-sama dan terintegrasi dalam menghadapi perubahan iklim.

Saat ini, Indonesia memiliki kurang lebih 19persen dari mangrove dunia yaitu 3,48 juta kektar, terdiri dari kondisi mengrove baik seluas 1,67 juta hektar dan kondisi mangrove rusak seluas 1,81 Juta hektar. Dari luas tersebut, berdasarkan data hasil survey Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai  Musi Tahun 2006 luas mangrove di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 273.692,81 hektar. Sedangkan hasil survey pemetaan mangrove Indonesia yang dilakukan Bakorsurtanal tahun 2009 diketahui luas tutupan mangrove di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebesar 64.567,396 hektar dengan luas yang telah mengalami kerusakan seluas 36.000 hektar.

Menurut penelitian terbaru, mangrove mampu menyimpan cadangan karbon biru yang berfungsi untuk menyimpan, menangkap, dan menguburkan karbon-karbon yang ada di atmosfer yang sangat penting untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Dimana secara data mangrove Indonesia menyimpai 1/3 dari cadangan karbon di dunia (Blue Carbon) estimasi simpanan karbon pada ekosistem mangrove di dunia rata-rata sekitar 1.023 tonC/ha. Hasil analisis menunjukkan bahwa rata-rata simpanan karbon sebesar 891,70 ton per hektar dengan potensi cadangan karbon total mangrove nasional sebesar 2,89 TtC. Di lain pihak mangrove juga mampu menyerap emisi gas rumah kaca (GRK) 3-5 kali lebih baik dari pada tanaman hutan lainnya dan hasil kajian untuk setiap 1 hektar luas hutan mangrove dapat menyimpan karbon 5 kali lebih banyak dibandingkan dengan hutan tropis dataran tinggi dan menyerap 20 kali lebih besar emisi Co2 dari hutan tropis teresterial atau daratan.

Sebagai mitigasi bencana, hutan mangrove juga berfungsi sebagai penyangga pantai (menjaga pesisir pantai) dari abrasi akibat gelombang permukaan air laut dan naiknya air laut, serta berfungsi sebagai proteksi dari tiupan angin laut yang kencang, dimana penanaman mangrove dengan densitas 3.000 pohon  perhektar dan lebar 200 meter mampu mengurangi gelombang Tsunami 50-60 persen dan kecepatan Tsunami 40-60 persen. Mangrove jenis Kandelia candel umur 6 tahun yang di tanam jalur lebar 1,5 mampu mengubah gelombang setinggi 1 meter manjadi 0,05 Meter.

Saat ini, kelestarian hutan mangrove mulai terganggu oleh beberapa hal seperti adanya konversi hutan mangrove menjadi tambak, pemukiman, dan infranstruktur lainnya, sampah laut, dan reklamasi yang menyebabkan hilangnya kapasitas biomasa, berbagai kebijakan dan program pemerintah untuk mengatasi kerusakan kelestarian hutan mangrove terus dilaksanakan. Para pencinta lingkunganpun terus bergerak dan bergerak agar kelestarian hutan mangrove tetap terjaga. Sebagai tindaklanjut dari gerakan dalam menanggulangi bencana  atau mitigasi bencana, khususnya dalam konsep rehabilitasi hutan dan lahan, Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tanggal 07 Febuari 2020, bertempat di lokasi Hutan Kemasyarakatan Belantu Jaye Desa Tanjung Rusa Kecamatan Membalong Belitung telah melakukan Launching progran Gerakan Penanaman Mangrove dan Jambu Mete dengan target penanaman mangrove sebanyak 613.500 batang atau 185,9 hektar dan  target jambu mete dengan varietas populasi muna sebanyak 589.200 batang atau sekitar 723 hektar.

Didalam gerakan penanaman mangrove akan dilaksanakan dengan melibatkan masyarakat khususnya kelompok–kelompok tani hutan yang telah mendapat akses izin perhutanan sosial dalam program rehabilitasi mangrove itu. Juga akan di coba dikembangkan dengan pola silvovishery, yaitu budidaya kepiting dengan tanaman mangrove sebagai insentif bagi kelompok masyarakat yang telah melakukan rehabilitasi mangrove. Jika program ini, berkembang dengan baik, maka banyak manfaat yang dapat diperoleh dengan menerapkan silvofishery pada tambak budidaya seperti: 1). Peningkatan produksi dari hasil tangkapan alam dan ini akan meningkatkan pendapatan petani ikan; 2). Mencegah erosi pantai dan intrusi air laut ke darat, sehingga pemukiman dan sumber air tawar dapat dipertahankan; 3). Dengan model sistem silvofishery, aspek ekonomi masyarakat dapat terpenuhi dari kegiatan budidaya ikan dan udang dalam tambak, sedangkan aspek perlindungan pantai dan konservasi bakau dilakukan dengan tetap menjaga bakau-bakau di pematang tambak dan bagian luar dari tambak; 4). Kegiatan penanaman bakau dan pembuatan tambak dilakukan sepenuhnya oleh masyarakat tanpa bantuan pemerintah, sehingga konsep social forestry atau community forestry tercipta dengan sendirinya di wilayah pesisir tersebut. Secara tidak langsung akan menjaga kelestarian hutan mangrove dan terciptanya suatu mitigasi bencana guna mengurangi perubahan iklim secara global.

Selamat Hari Mangrove Sedunia tahun 2020, Hutan mangrove lestari, rakyat sejahtera, ekonomi berdikari dan mencegah bencana. Mari kita suarakan dan sukseskan Mamo My Darling (Mari Move On Masyarakat Sadar Lingkungan).(***).

Related posts