Peran Guru tidak Bisa Digantikan oleh Apapun

  • Whatsapp

Oleh: UNTUNG SUGENG. R, S. Pd – Guru SMA Negeri 1 Pemali, Kabupaten Bangka, Babel

Read More

Guru adalah sosok yang digugu dan ditiru, guru masih pendidik dan belum berganti peran. Pada Tahun 2019-2020 ini sudah banyak kasus menenai kekerasan dalam dunia pendidikan dan sering kita dengar dalam beberapa bulan ini. Berdasarkan data yang diperoleh dari Komisi Perlidungan Anak Indonesia (KPAI)  mencatat ada 127 kasus mengenai kekerasan dalam dunia pendidikan, kasus tersebut terhitung sejak bulan januari sampai Oktober 2019 (Tempo.co, 30/10/2019). Kasus kekerasan kelihatannya tidak ada hentinya bahkan ditahun 2020 masih ada kasus kekerasan yang baik yang dialami oleh guru maupun siswa yang menjadi korbannya. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) ini merupakan sebuah lembaga independen Indonesia yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak dalam rangka meningkatkan efektifitas penyelenggaraan perlindungan anak.

Dengan 127 kasus tersebut ada berbagai macam kasus didalamnya yaitu kasus kekerasan seksual dan kasus kekerasan fisik yang dialami oleh guru dan anak didik, kasus kekerasan seksual ini terjadi dijenjang  SD, SMP dan SMA. Dalam kasusus kekerasan fisik dimana guru yang menjadi korbannya, KPAI mencatat ada 4 Kasus. Satu kasus yang terjadi didaerah Sampang, Madura-Jawa Timur. Siswa di Madura guru kesenian hingga tewas. Apa sebenarnya yang sedang terjadi dengan dunia pendidikan kita? Apakah peran guru sudah berganti, atau peran guru sudah berubah seperti teman sebaya atau tidak ada harganya? Guru sudah kehilangan wibawa dan kehilangan tempat yang dimuliakan dan dihormati oleh semua anak didiknya.

Dalam hal ini jelas guru tidak dapat gantikan. Yang namanya guru tetaplah seorang pendidik dan hal itu belum berganti peran. Kasus mengenai penganiayaan terhadap guru oleh siswa, ini terjadi saat kegiatan belajar mengajar berlangsung saat di sekolah pada hari Kamis (1/2/2018) pada pukul 13:00. Kasus ini terjadi awalnya, pada saat sang guru sedang mengajar mata pelajaran Seni Rupadi kelas XII pada jam pelajaran terakhir, dengan materi seni lukis. Setiap siswa diberikan tugas untuk melukis, termasuk MH (palaku).  Namun, MH tidak mendengarkan penugasan yang diberikan korban dengan serius. Dia malah mengganggu teman-temannya, dengan mencoret-coret lukisan milik temannya. Korban kemudian menegur MH. Tetapi bukannya bersikap tertib dan meminta maaf, MH malah terus mengganggu teman-temannya. Korban lalu mencoret pipi MH dengan cat Lukis. “MH malah semakin marah dan tidak terima. Kemudian MH memukul Budi kemudian dilerai oleh siswa dan para guru,” ucap Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol. Frans Barung Mangera.

Berdasarkan keterangan saksi-saksi seusai dilerai, Budi sempat dibawa ke ruang guru untuk dimintai penjelasannya terkait kasus tersebut, sebelum pulang kerumah. Beberapa saat setibanya dirumah, korban mengeluh sakit pada bagian leher. “Budi kesakitan dan tidak sadarkan diri, lalu di bawa kerumah sakit RSUD Dr.Soetomo, Surabaya,”. Setelah melewati kondisi koma, korban pun meninggal dunia di ruang ICU RSUD Dr.Soetomo. Berdasarkan keterangan Dokter, kondisi korban sangat kritis karena lehernya patah dan didiagnosa mengalami MBA (Mati Batang Otak). Sehingga, semua organ dalam tubuhnya sudah tidak berfungsi lagi. MH sendiri berhasil diciduk Polisi di rumahnya di Dusun Brekas, desa Torjun Timur, Sampang, Madura. (Kumparan NEWS,12/11/2018).

Kasus kekerasan dalam pendidikan bukanlah kasus yang dapat dianggap enteng begitu saja, karena jika kasus kekerasan dalam pendidikan ini tidak ditindaklanjuti, maka akan terjadi sebuah ancaman bagi dunia pendidikan untuk kedepannya. Zaman dahulu siswa dibuat takut dan hormat terhadap guru jika siswa itu melakukan sebuah kesalahan, tapi untuk era saat ini hal tersebut berbanding terbalik dimana siswa sudah mulai berani melawan guru. Padahal guru ini merupakan seorang pendidik dan orang orang tua mereka juga saat di lingkungan sekolah, harusnya para siswa sudah menanamkan karakter menghormati guru, bukannya untuk menantang sang guru.

Tantangan zaman yang dihadapi guru semakin besar membuat tugas seorang guru semakin berat pula, karena tugas seorang guru bukan hanya sekedar melaksanakan tugas dalam proses belajar mengajar di dalam ruang kelas, tidak hanya sekadar mengajar dan menyampaikan materi pelajaran, tetapi lebih dari itu guru harus mampu menumbuhkan dan memaksimalkan apa yang ada dalam diri pribadi anak didik. Dari kecerdasan yang terpendam, cara berpikir agar bisa lebih kritis dan dinamis hingga mengerjakan bagaimana anak didik bisa berpikir kreatif serta bagaimana mereka nanti bisa memecahkan masalah yang dihadapi baik sekarang atau di masa yang akan datang. Itulah yang membedakan antara profesi guru dengan  profesi lainnya. Tentu saja hal ini bukan pekerjaan gampang dan tidak semudah membalikan telapak tangan. Banyak rintangan dan hambatan yang pasti dihadapi seorang guru dalam perjalanannya mendidik dan mencerdaskan anak bangsa.

Banyak orang  hanya melihat keseharian guru berangkat pagi hari ke sekolah dan pulang sore hari. Mereka tidak mampu melihat lebih dalam terkait dengan betapa beratnya menjalani profesi sebagai seorang guru karena dibutuhkan jiwa totalitas dan komitmen yang besar untuk mengabdikan hidup sebagai seorang pendidik. Diakui atau tidak, kemajuan zaman dan teknologi ini sudah sangat dirasakan oleh semua orang. Tidak hanya masyarakat perkotaan, masyarakat di kawasan pedesaan pun sudah bisa menikmati perkembangan teknologi tersebut, misalnya pemakaian gadget yang canggih sampai mudahnya mengakses informasi dari internet. Diakui atau tidak, kondisi seperti ini jelas akan sangat mempengaruhi profesi sebagai seorang guru dan menjadi tantangan dalam melaksanakan profesinya sebagai pendidik. Di sisi lain kemajuan teknologi dapat berpengaruh pada hal negatif ketika seorang anak tidak mampu mengendalikan diri dengan kemajuan yang begitu cepat di mana semuanya bisa didapatkan dengan mudah.

Hal yang paling fundamental dalam pembentukan karakter seorang anak adalah peran orang tua.  Peranan orang tua di rumah merupakan suatu hal yang penting untuk membentuk karakter anak, sehingga orang dua diharapkan menjadi public figure pada anaknya, supaya anaknya dapat meniru hal-hal yang baik dari orang tuanya. Faktor lain yang dapat mempengaruhi karakter pada anaknya yaitu faktor lingkungan, dimana jika anak berada dilingkungan yang kurang baik maka karakter anak dapat di pengaruhi oleh keadaan lingkungan tersebut. Sekolah merupakan rumah kedua bagi anak yang menjadi pendukung dari terbentuknya karakter pada anak. Dengan adanya Guru BK akan menadikan tempat pendampingan untuk dapat menyisipkan nilai-nilai pendidikan karakter pada siswanya Peran Pendidikan Karakter yang harus ditanamkan pada siswa dari pihak sekolah yaitu mengenalkan mengenai nilai-nilai karakter pada siswa, dan perlunya pendampingan terhadap siswa yang memiliki catatan kasus atau permasalahan yang pernah terjadi di dalam lingkuan sekolah.

Sedangkan peran pendidikan karakter pada orang tua yaitu dengan memberikan teladan yang baik terhadap anaknya. Dengan berprilaku baik maka anak akan meniru hal tersebut, dan adanya pendekatan orang tua terhadap anak mengenai sikap kepada orang lain, dalam peran pembentukan karakter. Saat ini, harusnya pendidikan karakter menjadi tanggung jawab bagi banyak pihak, dibutuhkan kerja sama yang baik bagi warga, dan sekolah dalam usaha membentuk karakter anak. Dengan adanya kerja sama antara kedua belah pihak, diharapkan pendampingan pada siswa dapat berjalan dengan maksimal, sehingga tidak akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti pada Kasus tersebut. Dengan adanya kasus-kasus yang terjadi pada dunia pendidikan yang melibatkan anak pada permasalahan hukum, sebaiknya pihak sekolah dapat menjadikan bahan evaluasi terhadap kinenerjadalam pembentukan karakter pada siswa. Jadi pendidikan karakter pada anak itu harus menjadi tanggungjawab dan kerja sama dengan pihak keluarga dan sekolah. (***)

Related posts