Penyidik Bantah ‘Endapkan’ Laporan Kejahatan Asal-Usul Perkawinan

Pengacara Lapor Polisi

Pangkalpinang — Enam bulan kasus dugaan kejahatan asal-usul perkawinan yang dilaporkan seorang pengacara bernama Ferizal bin Zailani warga Jalan KH Abdullah Addari Kelurahan Batin Tikal Pangkalpinang, saat ini masih didalami serius penyidik Polres Bangka Barat.

” Saat ini penyidik masih mengumpulkan bukti-bukti atas laporan tersebut, karena ada beberapa barang bukti berupa dokumen sedang dilengkapi untuk mengungkap kasus ini,” kata Kasat Reskrim Polres Bangka Barat AKP Elpiadi dalam keterangan tertulisnya, Selasa (17/10).

Sambung AKP Elpiadi, penyidik telah melakukan upaya penyidikan secara Maximal mengumpulkan alat bukti guna memenuhi unsur-unsur pasal yang dipersangkakan, sehingga dengan minimal 2 (dua) alat bukti yg sah dapat menentukan tersangkanya.

” Kami meminta pihak terkait dalam perkara ini dapat berfikir positif, tidak beropini dan proaktif untuk dapat membuat terang perkara ini, sehingga didapatkan suatu kepastian hukum yg tepat dan berkeadilan,” tegasnya.

Seperti diwartakan sebelumnya, sejak laporan dibuat enam bulan lalu, dirinya baru baru sekali menerima SP2HP.

Sambung Ferizal, awalnya ia sangat mengapresiasi kinerja penyidik Polres Bangka Barat yang merespon cepat laporannya, sejak dirinya di BAP Mei 2017 lalu, dilanjutkan dengan diperiksanya parasaksi terlapor, hingga gelar perkara yang sudah digelar pihak penyidik.

” Sepengetahuan saksi pelapor sudah diperiksa, dan sudah dilakukan gelar perkara. Nah, terkait perkembangan saat ini abang lom tahu karena belum menerima kembali SP2HP dari penyidik,” kata Ferizal.

” Abang tetap yakin kasus ini akan tetap naik, dan berkasnya akan dilanjutkan ke pihak kejaksaan. Abang tetap berpikir positif, mungkin masih ada beberapa berkas yang harus dilengkapi pihak kepolisian,” tukasnya.

Seperti diwartakan sebelumnya, kasus ini berawal keluarnya surat nikah 12 Juli 2008 antara orangtuanya (Alm) Zailani dengan seorang wanita berinisial RN, yang mana saat itu status yang tertulis di surat nikah seorang Jejaka. Hal ini baru ia ketahui sebelum ayahnya meninggal 2009 lalu, yang mana surat nikah yang dimaksud dikeluarkan ternyata berdasarkan surat nikah siri.

” Memang setelah perceraian dengan ibu Saya. Ayah almarhum pernah menikah beberapa kali, termasuk dengan RN ini. Mereka tahu, kalau saya anak pertama dari almarhum bapak. Yang Saya heran koq bisa surat nikah itu keluar dengan menggelapkan status orang tua Saya, tidak serta merta harus mengeluarkan begitu saja N1,N2,N3,N4 untuk menikahkan seseorang tanpa ada kroscek terlebih dahulu, apalagi surat nikah itu dibuat berdasarkan sura nikah siri yang telah dilangsungkan, ini kan lah dak bener lagi,” terangnya.

Disinggung apakah ini ada kaitannya dengan waris?. Dijelaskan Ferizal, ini berbicara masalah hak. Menurutnya, persoalan ini muncul saat dirinya mengetahui ada asset orang tuanya yang dijual tanpa sepengetahuannya sebagai ahli waris. Hal ini sempat dipersoalkan kepada keluarganya di Muntok, namun mereka terkesan menutupi tanpa ada yang berani menjelaskan secara langsung.

” Waktu bapak almarhum meninggal, Saya sempat disarankan keluarga besar untuk menyimpan beberapa surat tanah, serta asset. Namun suasana berkabung saat itu, Saya tak mau dianggap sebagai anak yang serakah dengan harta yang kemudian diletakan kembali dirumah ayah (lemari-red),” paparnya.

Masih kata Ferizal, persoalan inilah yang memunculkan ketika mengetahui ada surat nikah yang terbit pada 2008 lalu. Dan setelah ia kroscek, ada dugaan penyalahgunaan prosedur, termasuk penggelapan status ayahnya yang secara aturan memenuhi unsur pidana, dan tujuannya ingin membatalkan status perkawinan dalam surat nikah yang telah dikeluarkan KUA Muntok. (rev/7)

 

No Response

Leave a reply "Penyidik Bantah ‘Endapkan’ Laporan Kejahatan Asal-Usul Perkawinan"