Pentingnya Pembentukan Karakter Anak Dalam Keluarga

Oleh : Sabpri Aryanto. S.Pd
Penulis / Wakil Ketua PWPM Babel Bidang Pendidikan Kader

Sabpri Aryanto. S.Pd

Anak itu ibarat kanvas lukisan yang berwarna putih bersih tanpa ada goresan apapun. Akan tetapi, jika diberikan sebuah goresan hitam, maka akan menjadi hitam. Diberi goresan kuning, maka akan menjadi kuning. Atau yang lebih tepat, anak itu ibarat pohon kayu. Dan kita, orang-orang dewasa disekitarnya, adalah yang membentuk pohon kayu itu. Akan berbentuk apa pohon kayu itu, hal itu tergantung pada kita yang membentuknya mau menjadi apa benda ini apakah kursi, meja atau kasau pendiri rumah atau mau dijadikan kayu bakar lagi-lagi kembali pada peran kita keluarga dalam mengelolah maunya menjadi apa. Begitu halnya mengenai sifat dan karakter anak, bisa dibentuk sama keluarga juga seorang pendidik agar menjadi baik. Ibarat sebuah bangunan jika pondasinya kokoh, maka bangunan itu juga akan kuat. Begitupun juga anak, jika pondasi atau pendidikan yang dibeikan oleh keluarga ini baik, maka anak kelak akan menjadi orang yang bijak dalam segala hal, karena ia telah memiliki dasar yang kuat yang diberikan oleh keluarga.
Ada 18 karakter yang dapat ditanamkan dalam kehidupan anak-anak. Diantaranya; religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta Tanah Air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.
Kunci utama keberhasilan dalam membangun karakter positif pada anak adalah keteladanan dimana orang tua harus menjadi orang yang memiliki karakter positif. Perbuatan dan amal baik. Hal ini bukan hanya menjadi contoh nyata bagi anak tentang bagaimana karakter positif terwujudkan dalam segala sikap, perkataan dan perbuatan kita, tetapi juga menjadi penyemangat sekaligus untuk memudahkan anak kita dalam proses tumbuh kembangnya. Karena memahami karakter anak memang terkadang begitu sulit bahkan kita seringkali tidak mampu melakukannya. Kebanyakan kita bahkan dibuat bingung oleh anak sehingga mereka enggan membagi banyak hal misalnya cerita di sekolah, masalah mereka, hingga cerita-cerita yang biasa kepada kita sebagai orang tua. Ketika anak mulai tidak nyaman berbicara dengan kita, mungkin itu berarti kita belum mampu mendapatkan kepercayaan dan memahami karakter anak itu sendiri.
Keluarga adalah wadah yang sangat penting diantara individu dan group dan merupakan kelompok sosial yang pertama dimana anak-anak menjadi anggotanya. Dan keluargalah sudah barang tentu yang pertama-tama pula untuk mengadakannya sosialisasi kehidupan anak-anak.Ibu,ayah serta saudara-saudara serta keluarga-keluarga yang lain adalah orang-orang pertama dimana anak-anak mengadakan kontak dan pertama pula untuk mengajar pada anak-anak itu sebagaimana dia hidup dengan orang lain.
Anak haruslah ditanamkan nilai-nilai agama yang baik sehingga apapun tindakan yang ia ambil berdasarkan norma agama sehingga memjauhkan fenomena penyimpangan yang ada di dalam masyarakat khususnya terhindarnya dari rasa kagum yang berlebihan kepada sosok ayah yang menjadikan ia berfikir orang yang ia cintai adalah sosok ayahnya bukanlah seorang pria lain di luar sana yang sebaya dengannya.
Menurut Ki Hajar Dewantoro, susasana kehidupan keluarga merupakan tempat yang sebaik-baiknya untuk melakukan pendidikan seseorang atau pendidikan individual atau pendidikan sosial. Keluarga itu tempat pendidikan yang sempurna sifat dan wujudnya untuk melangsungkan pendidikan kearah pembentukan pribadi yang utuh, tidak saja bagi kanak-kanak tapi juga bagi para remaja.peran orang tua dalam keluarga sebagai penunutun, sebagai pengajar, dan sebagai pemberi contoh. Betapa pentingnya pendidikan keluarga bagi anak-anak yang sedang berkembang. Pentingnya pembentukan sumber daya manusia berbasis keluarga juga bisa dilihat dari konsep investment in children memahami perlunya penguatan keluarga sebagai wahana pengembangan sumber daya manusia dari sudut pandang orientasi nilai dan perkembangan daya nalar anak.
Konsep Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan beliau tuangkan melalui “Tri Sentra Pendidikan” yang dikembangkan di Perguruan Taman Siswa, yaitu sentra keluarga, sentra perguruan dan sentra masyarakat. Dalam konteks sentra keluarga, pendidikan keluarga telah melahirkan konsep “among”, di mana konsep ini menuntut para orang tua untuk bersikap, yaitu: (a) ing ngarso sung tolodo, (b) ing madya mangun kasra, (c) tut wuri handayani.
Mempertegas kita para orang tua, bahwa pendidikan anak-anak hendaknya sedari awal telah diberikan oleh para orang tua. Bila memungkinkan pendidikan anak-anak tersebut bisa diberikan di saat seorang ibu mengandung sang jabang bayi. Begitu urgensinya pendidikan keluarga telah mengisyaratkan kepada para orang tua untuk sungguh-sungguh dalam menjadikan pendidikan keluarga sebagai fondasi yang kuat. Proses pendidikan anak sangat berguna untuk mengembangkan potensi yang dimiliki mereka. Sehingga anak menjadi sosok yang berkepribadian cerdas, sempurna dan unggul dalam merajut masa depan anak yang didambakan oleh semua para orang tua, masyarakat dan negara.
Era globalisasi memang telah mengubah segalanya. Beratnya persaingan hidup telah menyebabkan orang lupa memperhatikan kebutuhn anak karena sibuk mencari nafkah.
Sementara perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah menyebabkan budaya luar baik atau buruk mengalir bagitu derasnya. Dampaknya bila tidak ada pengawasan dan bimbingan yang cukup buruk dari luar. Oleh karenanya, sejak dini pada anak perlu ditanamkan nailai-nilai moral sebagai pengatur sikap dan perilaku individu dalam melakukan interaksi sosial di lingkungan keluarga, masyarakat maupun bangsa Pola asuh yang seimbang (authoritative) akan selalu menghargai individualitas akan tetapi juga menekankan perlunya aturan dan pengaturan. Mereka dangat percaya diri dalam melakukan pengasuhan tetapi meraka sepenuhnya mengahrgai keputusan yang diambil anak, minat dan pendapat serta perbedaan kepribadiannya.
Orang tua dengan pola asuh model ini, penuh dengan cinta kasih, mudah merinci tetapi menuntut tingkah laku yang baik. Tegas dalam menjaga aturan bersedia memberi hukuman ringan, tetapi dalam situasi hangat dan hubungan saling mendukung. Mereka menjelaskan semua tindakan dan hukuman yang mereka lakukan dan minta pendapat anak. Anak dari orang tua yang demikian akan merasa tenang dan nyaman. Mereka akan menajadi paham kalau mereka disayangi, tetapi sekaligus mengerti terhadap apa yang diharapkan dari orang tua.
Seorang tokoh didaktik terkenal, John Amos Comenius(1592-1670), dalam bukunya “Didaktica Magna” selain mengemukakan azaz-azaz dikdaktiknya juga menekankan beberapa pemikiran tentang pendidikan yang salah satunya yakni pentingnya pendidikan keluarga. Dalam pemikirannya, Comenius juga menyampaikan bagaimana orang tua harus mendidik anak-anaknya secara bijaksana. Hal ini merupakan bentuk tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan anaknya dimulai dari lingkungan keluarga. Perlu diingat, pendidikan anak sebenarnya bukan hanya di sekolah semata. Disinilah peranan orang tua atau keluarga dalam pendidikan anak mulai dipertanyakan. Perlu ditekankan bahwa sekolah bukanlah satu-satunya tempat untuk mendidik anak menjadi insan mulia. Sekolah hanya merupakan salah satu tempat yang dipercaya dalam rangka pendidikan bangsa. Mengapa? Karena masih ada satu hal penting yang tak bisa ditawar lagi yakni pendidikan dalam keluarga.(****).

No Response

Leave a reply "Pentingnya Pembentukan Karakter Anak Dalam Keluarga"