Pentingnya Komunitas Debat Bagi Milenial

  • Whatsapp

Oleh: Swi Idayati Simanjuntak, S.S
Guru di Perguruan Sutomo 1 Medan

Sebutan milenial sedang ramai digunakan sekarang, dan sangat erat kaitannya dengan siswa, teknologi, bahasa dan gadget. Berbicara tentang penggunaan gadget, penggunaan aplikasi instagram kini jadi salah satu aplikasi yang sangat didominasi oleh kaum milenial. Aplikasi ini memang sangat digandrungi oleh siswa, karena selain bisa mendapatkan informasi juga bisa berbagi momen atau gambar yang disertai dengan caption atau keterangan gambar yang menarik. Namun ada hal yang menarik saat ini yakni ramainya penggunaan bahasa inggris dalam caption postingan.
Tentu hal ini jadi hal yang membanggakan untuk dipublikasikan di media sosial karena kerap sekali kita mengganggap bahwa postingan yang berbau Bahasa Inggris akan terlihat lebih keren atau swag. Namun pertanyaannya, sebandingkah penilaian ini dengan prestasi siswa dalam penggunaan bahasa Inggris terkhusus di bangku sekolah? Benarkah anak milenial yang acap kali menggunakan caption bahasa Inggris sudah benar-benar mampu berbahasa Inggris?
Ini jadi sesuatu yang dilematis, terkhusus kepada guru-guru ketika mengetahui bahwa anak didiknya tidaklah sekeren caption berbahasa Inggris mereka. Hal ini terbukti dalam penelitian tahunan English Proficiency Index (EPI) yang diselenggarakan oleh Education First (EF) bahwa kemampuan berbahasa Inggris masyarakat Indonesia menurun dibanding tahun sebelumnya.
Saat ini, Indonesia hanya menempati peringkat 51 dari 88 negara sementara tahun sebelumnya menempati urutan 39 dengan penurunan skor menjadi 51,58 dari sebelumnya 52,14. Sementara untuk kawasan Asia, Indonesia hanya menempati posisi 13 dari 21 negara dan masih berada di bawah nilai rata-rata kecakapan bahasa Inggris kawasan Asia (53,94). Indonesia bahkan masih berada dibawah Vietnam (53,12).
Sangatlah miris ketika di jaman yang seharusnya sudah siap untuk menghadapi era 4.0 namun ternyata kemampuan berbahasa Inggris di Indonesia masih dalam kategori di bawah rata-rata. ‘Practice makes perfect’, alah bisa karena biasa. Pepatah ini sungguh benar adanya, diperlukan latihan dan pembiasaan agar siswa bisa menguasai bahasa Inggris dengan benar dan tepat.
Namun tentu saja jam di kelas tidaklah cukup mengingat banyaknya jumlah siswa dan rencana pembelajaran yang harus di jalankan dalam proses belajar mengajar. Di sinilah salah satu peran sekolah dibutuhkan untuk mendorong keterampilan siswa dalam bahasa Inggris. Ada banyak hal yang bisa dilakukan sekolah untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris bagi siswanya, salah satunya adalah komunitas debat bahasa Inggris. Namun fakta di lingkungan pendidikan menunjukkan bahwa sekolah-sekolah swasta justru lebih berhasil memajukan komunitas debat bahasa Inggris di banding sekolah negeri lainnya.
Hal ini terbukti dengan keikutsertaan siswa Indonesia dalam World School Debating Championship (WSDC) 2018 yang diadakan di Zagreb, Kroasia, tanggal 17-27 Juli 2018. Dari 5 utusan siswa Indonesia, 4 diantaranya merupakan berasal dari sekolah swasta di Indonesia seperti SMAK 1 Penabur Jakarta, SMAK Immanuel Pontianak, SPH Kemang Village dan SMA Sutomo 1 Medan.
Ini merupakan tantangan sekaligus evaluasi bagi dunia pendidikan di Indonesia baik sekolah negeri maupun sekolah swasta, karena bagaimana pun ada banyak dampak positif dari komunitas debat bahasa Inggris. Pertama, mendorong siswa untuk rajin membaca dan mendapatkan pengetahuan tentang cabang ilmu lain.
Tidak dapat dipungkiri bahwa topik dalam debat bahasa Inggris berasal dari berbagai macam cabang ilmu seperti hukum, politik, pendidikan, kebudayaan bahkan ekonomi. Selain melatih kemampuan otak dengan membaca, tentu ini akan menambah pengetahuan siswa secara global dan semakin peka terkait isu-isu baik nasional maupun internasional.
Kedua, berpikir kritis dalam menganalisa suatu masalah. Sebagai mahluk sosial, tentu perbedaan pendapat sangat lumrah. Di sinilah siswa ditantang untuk berani menganalisa masalah dari sudut pandang yang berbeda tanpa menjatuhkan pendapat orang lain. Dampak ini akan sangat berguna bagi siswa yang kelak akan menghadapi dunia kerja dimana diharapkan menjadi pribadi yang tangguh dan melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda.
Ketiga, meningkatkan kepercayaan diri. ‘Confidence is not learnt, it is experienced’ (kepercayaan diri tidak dipelajari dalam bangku sekolah namun dilatih). Dengan berani mengemukakan pendapat dan berbicara di depan umum tentu merupakan salah satu cara untuk meningkatkan mental dan kepercayaan diri siswa.
Keempat, melatih menyampaikan buah pikiran dengan rapi dan terstruktur. Seringkali ditemukan dalam presentasi atau diskusi penyampaian yang tidak runtut. Di dalam komunitas debat tentu akan terbiasa menyampaikan pendapat sesuai pola dan kaidah yang benar. Ini akan sangat bermanfaat nantinya bagi siswa untuk terbiasa menyampaikan gagasan yang mudah dimengerti dan terstruktur.
Dengan menyadari hal-hal tersebut, kita menyadari bahwa pentingnya komunitas bahasa Inggris di sekolah tidak hanya untuk meningkatkan kemampuan berbahasa saja, namun ada banyak soft skill yang akan sangat berguna dan dibutuhkan bagi generasi milenial. Penguasaan bahasa Inggris tentu merupakan modal yang harus dimiliki oleh setiap siswa dalam menghadapi era 4.0.
Jika ingin mampu menghadapi globalisasi dan menjadi generasi yang tidak hanya cakap dalam media sosial, maka persiapkanlah dari usia dini. Berdebat bahasa Inggris bukanlah beradu pendapat, namun bagaimana bisa mengutarakan pendapat dengan percaya diri tanpa menjatuhkan pendapat orang lain.(***).

Related posts