Pentingnya Digitalisasi UMKM di Era Ekonomi Digital

  • Whatsapp

Oleh: IRSYADINNAS
Statistisi Pemda Belitung Timur

Berkembangnya pemanfaatan teknologi digital secara masif dewasa ini telah mempengaruhi cara berinteraksi para pelaku ekonomi: produsen, distributor, konsumen. Lihat saja, maraknya perkembangan belanja online (e-commerce), dan hampir di segala lini pasar telah terdigitalisasi akibat disrupsi teknologi, mulai dari pasar skala besar grosir sampai ke skala kecil retail mengubah formatnya (bertransformasi) dari model konvensional menuju digital. Lalu pertanyaannya, apa kabar sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) hari ini? Apakah upaya digitalisasi di sektor UMKM menjadi sebuah keharusan agar sektor tersebut mampu bertahan dan bersaing di era Revolusi Industri 4.0?

Jika kita cermati data statistik yang diterbitkan oleh Kementerian Koperasi dan UMKM Tahun 2018 lalu, jumlah usaha mikro telah mencapai sekitar 63,5 juta unit, lalu usaha kecil sekitar 783 ribu unit, sedangkan usaha menengah mencapai sekitar 60,7 ribu unit. Kemudian berdasarkan hasil Sensus Ekonomi yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2016 lalu, dengan jumlah UMKM sebanyak itu, Kontribusi UMKM telah mencapai 60,34 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional, dan berkontribusi sekitar 14,17 persen dari total ekspor.

Selain itu, sektor UMKM juga telah ikut membantu penyerapan tenaga kerja domestik. Penyerapan tenaga kerja pada sektor UMKM telah mencapai sekitar 97-an persen dari total tenaga kerja secara nasional. Data statistik di atas mengarahkan kita pada pertanyaan selanjutnya, apakah kemampuan bertahan UMKM ini akibat telah bertransformasinya sebagian besar UMKM kita ke model digital? Ataukah karena UMKM memang memiliki kemampuan bertahan yang tinggi terhadap perubahan perilaku ekonomi akibat digitalisasi? Jika memang iya, seberapa lama kemampuan bertahan ini? Karena perubahan adalah keniscayaan, bahwa setiap entiitas ekonomi yang tidak mampu beradaptasi terhadap perubahan akan tersingkir dengan sendirinya.

Bicara tentang ketahanan ekonomi UMKM, fakta menarik bisa kita cermati dari sejarah masa lalu, sekitar lebih kurang dua dekade lalu, UMKM kita juga telah mampu membuktikan kemampuannya dalam bertahan dan menjaga eksistensinya di dalam jagat perekonomian bangsa ini. Masih lekat di ingatan kita bahwa krisis moneter yang melanda Indonesia dan negara-negara lain di Asia Tenggara sekitar Tahun 1998 lalu telah meluluhlantakkan ekonomi kita, banyak perusahaan-perusahaan yang gulung tikar dan terpaksa mem-PHK-kan sebagian besar pekerjanya untuk memangkas biaya faktor produksi. Pada saat itu, fondasi ekonomi Indonesia tidak mampu menopang beban krisis moneter yang diawali dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Nilai tukar rupiah yang semula 2.500 rupiah per dolar AS merosot tajam hingga mencapai sekitar 15 ribu rupiah per dolar AS.

Namun menariknya, bisa kita cermati dari data statistik publikasi BPS tentang perkembangan jumlah UMKM dari tahun ke tahun, meskipun jumlah UMKM sempat jatuh dari angka 39 ribu unit pada Tahun 1997 menjadi sekitar 36 ribu pada Tahun 1998 akibat krisis, namun kembali bangkit berkembang secara cepat, dalam waktu 2 tahun kemudian pada Tahun 2000, jumlah UMKM meningkat lagi seperti semula menjadi sekitar 39 ribu, dan terus mengalami peningkatan cukup signifikan pada tahun-tahun setelahnya dengan persentase pertumbuhan jumlah UMKM sekitar 2-4 persen tiap tahunnya. Statistik di atas sebagai bukti bahwa UMKM memang mampu bertahan, dan menjadi penopang gerak roda perekonomian Indonesia untuk bisa bangkit lagi bersaing di dunia global.

Kembali ke isu perkembangan era digital di berbagai bidang kehidupan, khususnya ekonomi sebagaimana telah disinggung pada ulasan awal di atas, jika dihadapkan pada isu perkembangan UMKM di negara kita, maka Kekuatan digital pada dasarnya dapat dimanfaatkan sebagai mesin penggerak bisnis UMKM di Indonesia. Bagaimana tidak, melalui pemanfaatan internet, seorang penjual Sambal Lingkong, kue Getas, dan Kerupuk Ikan di Bangka Belitung dapat menjual dagangannya ke seorang pembeli yang berada di Papua. Dengan kata lain, kekuatan digital dapat mendorong penciptaan pasar yang semakin luas yang secara tidak langsung akan meningkatkan jumlah transaksi dan omset dari setiap bisnis UMKM. Selain itu, para pebisnis UMKM juga bisa menjadi lebih inovatif dan kreatif dalam penciptaan produk dan/atau jasa dalam rangka memenuhi permintaan pasar.

Jika kita dengar dan baca di banyak media mainstream, Pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM telah menargetkan sebanyak kira-kira 50 persen dari total jumlah UMKM akan diupayakan untuk masuk ke sektor ekonomi digital pada 2024 mendatang. Kebijakan ini dituangkan dalam Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, dan menjadi salah satu target kinerja pemerintahan Jokowi pada periode kedua ini. Tidak hanya pemerintah, ternyata Google Indonesia selama lebih kurang tiga tahun belakangan ini, juga telah berhasil melatih sekurangnya satu juta pelaku UMKM dalam memperluas jaringan usahanya melalui pemasaran produk-produknya secara online.

Pemahaman di atas sedikit banyak akan menggiring cara kita berpikir bahwa digitalisasi UMKM kemudian menjadi sesuatu yang krusial untuk dilakukan melalui pemanfaatan kemajuan teknologi yang sedemikian pesatnya saat ini. Peningkatan pemanfaatan kekuatan ekonomi digital dapat membantu UMKM lokal membuka pasar dan melebarkan permintaan yang potensial.

Sebuah keharusan bahwa mau tidak mau, suka tidak suka, digitalisasi UMKM mendesak untuk dilakukan. Jika tidak beradaptasi, maka akan semakin berpotensial tersingkirkan. Pendampingan dan pelatihan digitalisasi UMKM bagi pelaku usaha harus terus dilakukan untuk mempersiapkan diri bersaing di era globalisasi ini. Adalah hal mutlak semua pengambil kebijakan publik mulai dari pusat sampai daerah memikirkan hal ini, karena membesarkan UMKM berarti juga membesarkan perekonomian Indonesia. UMKM kita jangan sampai tertinggal untuk mengambil manfaat kemajuan teknologi digital ini, mengingat bahwa UMKM ini merupakan representasi dari 90-an persen jumlah pelaku usaha di Indonesia.

Akhirnya, kita berharap ke depan akan semakin banyak pelaku UMKM kita yang memperoleh pelatihan serupa, sehingga target 50 persen UMKM yang go-online di tahun 2024, sebagaimana ditargetkan oleh pemerintah bisa tercapai. Karena bagaimanapun era digital adalah sebuah keniscayaan. UMKM kita harus mau beradapatasi dan memanfaatkan kemajuan di sektor teknologi digital dewasa ini agar mampu meningkatkan daya saing produk-produk yang dihasilkannya. Ke depan, diharapkan para pelaku UMKM kita dapat mengadopsi dan mengimplementasikan teknologi digital dalam keseluruhan lini bisnis mereka, sehingga usaha mereka mampu terus bertahan dan semakin berdaya bersaing di kancah persaingan global. (***).

Related posts