Penjaga Makam

Tidak ada komentar 224 views

Karya: Rusmin

Sudah hampir 30 tahun, pemakaman umum di kampung kami amat rapi dan artistik. Semenjak diurus Mang Sidik, pemakaman yang terletak diujung kampung itu tak terlihat sebagaimana makam yang terkesan angker dan menyeramkan. Malah kini areal pemakaman dijadikan lokasi tempat bermain bagi anak-anak kampung, terutama di sore hari menjelang matahari mulai kembali ke peraduan.
Dan sudah tiga puluh tahun pula, Mang Sidik mengabdikan diri sebagai petugas kebersihan tanpa digaji. Pria berusia sekitar 60-an tahun itu tampak sangat bahagia dengan pekerjaannya. Ada rasa kebagiaan yang tak dapat terlukiskan saat dirinya mengabdi sebagai penjaga makam Kampung.
“Ini adalah ladang amal saya menjelang masuk ke dalam kubur. Siapa tahu bisa meringakan beban dosa saya,” ungkapnya kepada para warga.
Dulunya Mang Sidik adalah veteran. Seorang pejuang. Dan dia adalah salah seorang yang ikut memerdekakan bangsa ini. Bersama para pejuang lainnya, pria lajang ini bertempur melawan Belanda di kampung kami. Usai kemerdekaan Mang Sidik mengabdi di salah satu pabrik tembaga yang ada di kecamatan. Dan Mang Sidik mengakhiri masa pensiunnya dengan kembali ke kampung kami.
“Di kampung ini saya dilahirkan. Dan di kampung ini pula saya akan menghabiskan masa hidup saya dengan berusaha menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan masyarakat. Salah satunya dengan mengabdi sebagai penjaga makam dan mengurus makam,” kata Mang Sidik.
Dibandingkan dengan para veteran lainnya yang tinggal di kecamatan, Mang Sidik jauh dari kata sukses. Rumah tempat tinggalnya hanya terbuat dari papan. Sementara aktivitasnya hanya dengan sepeda ontel. Kemana-mana selalu dengan sepeda tuanya dengan ciri khasnya bersiul seolah-olah sedang menyenandungkan sebuah lagu.
Menurut cerita teman seperjuangannya, pada era penjajahan, Mang Sidik dikenal sebagai pejuang yang gagah berani. Tak ada kata takut saat menghadapi musuh. Tak heran era perjuangan dulu dia dikenal sebagai Singa pertempuran. Setiap menggempur pasukan penjajah, pasukan Mang Sidik selalu menang dan membuat pasukan penjajah lari tunggang langgang dengan korban yang tak sedikit.
“Mang Sidik sangat pandai membaca tanda-tanda alam sehingga pergerakan musuh sangat mudah diketahuinya. Dari gerakan dedaunan saja beliau tahu bahwa ada musuh di sekitar mereka. Tak heran kalau pasukan penjajah selalu kalah bertempur melawan pasukan Mang Sidik,” cerita teman seperjuangannya.
Masih menurut cerita temannya itu, dalam suatu pertempuran di ujung kampung, pasukan penjajah kocar kacir dibuat oleh pasukan Mang Sidik karena Mang Sidik tahu ada pasukan penjajah yang datang dan melewati daerah ini hanya dari bunyi sebuah dahan kayu yang diinjak pasukan penjajah.
“Dalam pertempuran di ujung kampung kita itu korban dari pasukan musuh sangat banyak. Hampir semuanya tewas. Sementara dari kita hanya seorang perawat yang ikut mengawal perjalanan pasukan beliau,” ceritanya.
“Apa itu yang membuat Mang Sidik belum kawin juga sampai sekarang?” tanya seorang warga.
“Mang Sidik merasa bersalah atas kejadian itu karena perawat itu berada dalam pasukan beliau. Padahal perawat pasukan itu meninggal karena kaget dengan bunyi senjata yang terdengar sangat keras saat kontak senjata dalam pertempuran. Bukan karena ditembak musuh,” cerita teman seperjuangan Mang Sidik.
Hari itu adalah tanggal 17 Agustus. Semua warga tampak antusias menyambut hari kemerdekaan dengan mengibarkan bendera Merah Putih di halaman rumah mereka. Tapi warga sangat heran dengan tidak terpasangnya bendera Merah Putih di halaman rumah Mang Sidik. Biasanya usai sholat Subuh Merah Putih sudah menghias halaman rumah veteran itu.
Sejuta tanda tanya melanda pikiran warga kampung. Bersama kepala kampung, warga mendatangi rumah Mang Sidik. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Tak ada suara aktivitas dari dalam rumah. Hening sekali. Atas persetujuan bersama, petugas hansip kampung lantas mendobrak pintu rumah Mang Sidik.
Mereka semua terkejut saat melihat seorang lelaki dengan berpakaian veteran terbaring di kursi sambil memeluk bendera Merah Putih. Dan koor sakral Innalillahi Wainnalilahi Rojiun pun terlontar dari mulut para warga yang menggema di jagad raya hingga menembus langit tujuh yang biru. Alam terasa sangat religius. Sementara cahaya matahari bersinar sangat temaram sebagai tanda ikut berduka. Toboali, Bangka Selatan. (***)

Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Penjaga Makam"