by

Pengusaha Jakarta Dijebloskan ke Tahanan

KE LAPAS – Pengusaha Jakarta, RH–kontraktor proyek Rehab Kolam Renang Loka Tirta Sungailiat (rompi tahanan) didampingi penasihat hukumnya, digiring petugas kejaksaan ke Lapas Bukit Semut, kemarin. Direktur PT Dame Uli Jadiaman Indah ini dijebloskan ke tahanan setelah dua kali mangkir panggilan penyidik dan diduga merugikan negara Rp218 juta. Dua PNS selaku PPK dan PPTK yang juga tersangka segera menyusul. (Foto: Zuesty Novianti)

Dua PNS Pemkab Bangka Ikut Tersangka
Dugaan Korupsi Rehab Kolam Renang

SUNGAILIAT – Penyidik Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Negeri (Pidsus Kejari) Bangka, kembali menjebloskan tersangka korupsi ke Lembaga Pemasyarakatan Bukit Semut Klas II B Sungailiat, Kabupaten Bangka. Setelah menahan Direktur CV Johar Putra selaku kontraktor Rehabilitasi DAS Hutan Lindung Desa Air Anyir pada akhir tahun 2017, kini di awal tahun 2018 giliran seorang pengusaha asal Jakarta yakni RH ikut dijebloskan ke tahanan.
RH adalah kontraktor dalam proyek Rehabilitasi Kolam Renang Loka Tirta Sungailiat, yang sudah disidik sejak tahun 2015 namun baru ditetapkan sebagai tersangka di tahun 2018. RH merupakan Direktur PT Dame Uli Jadiaman Indah yang memenangkan lelang proyek dan memugar kolam renang.
Dan setelah sempat mangkir dua kali dalam panggilan penyidik Pidsus Kejari Bangka sebelumnya, RH baru hadir pada Selasa kemarin (15/1/2018) didampingi dua orang penasihat hukumnya. Usai dilakukan pemeriksaan beberapa jam, RH langsung diterbitkan surat penahanan dan dibawa ke Lapas Bukit Semut Sungailiat.
“?Kita melakukan penahanan terhadap kontraktor kasus rehab kolam renang tahun anggaran 2014 ke LP Bukit Semut selama 20 hari kedepan,” ujar Kepala Seksi Pidsus Kejari Bangka, M.F. Hasibuan seizin Kepala Kejari, Supardi.
Menurut dia, tersangka RH ini dilakukan penahanan berdasarkan lebih dari dua alat bukti yang dikumpulkan penyidik.
“Kita sudah menemukan lebih dari dua alat bukti sesuai dengan Pasal 184 KUHAP dan kita yakin dalam melakukan penahanan ini sudah sesuai prosedur tanpa mengurangi hak hak dari tersangka,” katanya.
Selain itu, ?berdasarkan perhitungan yang dilakukan, proyek rehab kolam renang yang dikerjakan tersangka telah merugikan keuangan negara sebesar Rp218 juta.
“Kontraktor ini banyak permasalahannya, terutama dalam spesifikasi rehab kolam renang, terus pemalsuan dokumen pada saat lelang dan banyak lagi,” tukas Hasibuan.
Atas perbuatannya, tersangka RH dijerat Pasal 2 jo Pasal 18 Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 KUHP. Subsider Pasal 3 jo Pasal 18 Undang Undang Nomor 20 Tahun 2001 jo Pasal 55 KUHP.
Hasibuan menegaskan, setelah Direktur PT Dame Uli Jadiaman Indah ini yang dijebloskan ke LP Bukit Semut, selanjutnya akan ada dua tersangka lain yang mengikuti jejak RH. Mereka adalah MH dan ES yang tercatat sebagai PNS di Pemerintah Kabupaten Bangka.
“Ada sebanyak dua orang lagi yang berstatus PNS yakni PPK (Pejabat Pembuat Komitmen) dan PPTK (Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan) dan akan segera menyusul,” tukasnya.
?Menurut Hasibuan, untuk sementara waktu Tim Pidsus Kejari Bangka baru menetapkan 3 orang tersangka dalam kasus proyek rehabilitasi Kolam Renang Loka Tirta Sungailiat ini. Namun tidak menutup kemungkinan akan ada tersangka lain berdasarkan hasil penyidikan pihaknya kelak.
Saat disinggung kenapa baru satu orang tersangka saja yang dilakukan penahanan, Kasi Pidsus Kejari Bangka ini menyebutkan kontraktor rehab kolam renang ini terlebih dahulu ditahan karena tidak kooperatif untuk memenuhi panggilan pemeriksaan penyidik.
“Selama penyidikan Pak RH selaku kontraktor sudah dua kali kita panggil tidak datang dan tinggalnya jauh di Jakarta. Intinya tersangka kita tahan untuk mempermudah proses penyidikan,” ujarnya.
Sayangnya, baik RH maupun penasihat hukumnya saat hendak diwawancara awak media ketika keluar dari gedung Kejari Bangka menuju mobil yang akan membawanya ke Lapas Bukit Semut, tak mau berkomentar.

Namun untuk diketahui, proyek Rehab Kolam Renang Loka Tirta Bangka ini dikerjakan oleh PT Dame Uli Jadiaman Indah dengan nilai kontrak sebesar Rp1.7 miliar lebih pada tahun 2014 bersumber dana dari APBD.Kontraktor dalam kontrak harus melaksanakan pekerjaan dari tanggal 3 September 2014 hingga 13 Desember 2014. Tapi hasilnya, pekerjaan yang dilakukan diduga tidak sesuai spek dan tidak rampung hingga batas waktu yang ditentukan sehingga merugikan negara.
Kasus ini mulai ditangani sejak 2015 dan penyidikannya sempat ngambang hingga bertahun tahun. Dan semenjak ditangani Kasi Pidsus yang baru, sebanyak 28 orang saksi diambil keterangan lalu kasus ini langsung naik ke tahap penyidikan dan tersangkanya pun ditetapkan sebanyak 3 orang. (2nd/1)

Comment

BERITA TERBARU