Penguatan Nilai Karakter dalam Pendidikan Olahraga

  • Whatsapp

 Oleh: RINDU CHRISTINE ANTONETTA, S. Pd, KOR – Guru SMA Negeri 1 Pemali, Kabupaten Bangka, Babel

Penguatan pendidikan karakter yang sedang digalakkan oleh pemerintah khususnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam Kurikulum 2013 menjadi sangat penting dan stretegis untuk mendapat dukungan. Nilai-nilai karakter bangsa tidak hanya menjadi tanggungjawab guru PKn dan Agama, melainkan seluruh mata pelajaran dapat mengintegrasikan penguatan nilai-nilai karakter kebangsaan yang bersumber dari nilai-nilai Pancasila. Pendidikan karakter dan pendidikan ilmu pengetahuan seperti sains dan matematika satu kesatuan integral. Berpikir scientific dan analitis berbasis dari karakter yang sehat dan kuat yang harus dimiliki oleh generasi penerus bangsa. Tujuan pendidikan yang baik adalah untuk merevolusi karakter bangsa tidak terlepas dari strategi pendidikan (kewargaan) bagaimana menerapkan Pancasila menjadi cermin kehidupan bangsa sehari-hari.

Read More

Kondisi kesejahteraan masyaraat yang belum kunjung merata, korupsi yang seakan membudaya, menipisnya rasa toleransi, pengingkaran terhadap perbedaan, keanekaragaman, dan rasa keadilan sosial yang belum terwujud, belum menunjukkan karakter bangsa berlandaskan Pancasila. Pada masa kini banyak sekali kita mendengar dan melihat kasus-kasus kekerasan yang dilakukan oleh siswa kepada guru, seharusnya hal tersebut tidak boleh terjadi karena guru adalah orang tua siswa di sekolah. Apa yang menyebabkan anak-anak pada masa kini banyak yang melawan guru? Mengapa etika atau sopan santun para siswa melenceng dari yang apa yang telah diajarkan oleh orang tua di rumah dan guru di sekolah? Hal tersebut senada dengan data penelitian yang dilakukan oleh Kholifah, Tri Aimah dalam Jurnal Sains Sosial dan Humaniora, 2017 (available On Line At). Dalam Penelitian tersebut yang dilakukan kepada 61 peserta didik secara sampling, dapat disimpulkan bahwa pada nilai kesopanan yang dikategorikan sangat tinggi sebesar 3,3% yaitu 2 peserta didik, kategori tinggi sebesar 19,7% yaitu 12 peserta didik, kategori sedang sebesar 41,0% yaitu 25 peserta didik, kategori rendah sebesar 34,4% yaitu 21 peserta didik, kategori sangat rendah sebesar 1,6% yaitu 1 peserta didik.

Sehingga dari gambaran data penelitian di atas, sangat ironis dengan program pemerintah untuk menanamkan pendidikan karakter dan etika dalam sanubari setiap peserta didik. Karakter dan etika juga tercermin dalam sikap Fair Play. Peserta didik yang memiliki sifat Fair Play dan kepercayaan pasti akan lebih berprestasi daripada peserta didik yang tidak memiliki sifat tersebut. Memang dalam pembelajaran pendidikan jasmani, sikap fair play dan kepercayaan secara konsep tidak bisa dilihat dan bersifat abstrak, sehingga dalam pemberiannya harus lebih banyak melalui perilaku dan contoh-contoh secara konstruktif, dan sebagai alat untuk mempercepat peserta didik dalam mengembangkan konsep tentang etika. Istilah etika dan moral secara etimologis berasal dari bahasa Yunani yaitu dari kata ethics, ethike yang berarti ilmu tentang moral atau karakter (Kamus Besar Bahasa Indonesia: 2018).

Para ahli menerapkan apa yang disebut dengan pendekatan “Kantong Kebajikan “ (Kohlberg, 1981), dimana dalam teori ini percaya bahwa seseorang mencontoh perilaku orang lain sebagai model atau teladan yang ia nilai memiliki sifat-sifat tertentu atau yang menunjukkan perilaku berlandaskan nilai yang diharapkan. Pengajaran etika dalam pembelajaran pendidikan jasmani membutuhkan contoh. Pepatah mengatakan bahwa tindakan lebih baik daripada kata-kata. Freeman dalam bukunya Physical Education on and Sport in A changing Society (2001:210) menyarankan 5 area dasar dari etika yang harus diberikan yaitu : 1) Keadilan dan persamaan; 2) Respek terhadap diri sendiri; 3) Respek dan pertimbangan terhadap yang lain; 4) Menghormati peraturan dan kewenangan; 5) Rasa terhadap perspektif atau nilai relatif. Namun, sering kita jumpai adanya proses pembelajaran pendidikan jasmani, dimana seorang guru olahraga identik memberikan bola kepada peserta didik, dan guru tersebut hanya menunggui para siswanya dengan berdiri dibawah pohon dengan menghisap rokok dan bermain alat komunikasi atau smartphone sampai jam pelajaran hampir habis, tanpa menghiraukan apa yang terjadi pada para peserta didiknya. Kemudian, dalam pembelajaran renang, dimana guru olahraga lebih mengedepankan jumlah anak yang akan mengikuti kegiatan renang dengan harapan semakin banyak peserta didik, maka semakin banyak pula keuntungan dan hasil dari pembayaran di loket tersebut.

Mata pelajaran Pendidik Jasmani (PJOK) alam proses pendidikan sebaiknya mengembangkan karakter. Karakter menurut David Shield dan Brenda Bredemeir adalah empat kebajikan dimana seseorang mempunyai karakter bagus yang menampilkan: Compassion (rasa belas kasih); Fairness (keadilan); Sportmanship (ketangkasan) dan integritas. Dengan adanya rasa belas kasih, murid dapat diberi semangat untuk melihat lawan sebagai kawan dalam permainan, sama-sama bernilai, sama-sama patut menerima penghargaan. Keadilan melibatkan tidak keberpihakan, sama-sama tanggungjawab. Ketangkasan dalam olahraga melibatkan berusaha secara intens menuju sukses. Integritas memungkinkan seseorang untuk membuat kesalahan pada orang lain, sebagai contoh meskipun tindakannya negatif penerimaannya oleh wasit, teman satu tim ataupun fans. Dalam bermain terdapat unsur ketegangan yang tidak lepas dari unsur etika dan moral seperti semangat yang sekaligus mengji ketangguhan, keberanian, dan kejujuran pemain walau tanpa wasitpun, permainan anak-anak terlihat menyenangkan dan gembirayang merupakan bentuk permainan yang belum tercemar.

Dalam bermain, pendidikan etika dan moral yang ada tidak mengenal pada suatu ajaran tertentu, karena anak bermain tidak melihat sisi religius dalam bentuk permainan. Pendidikan etika disini yang membentuk manusia baik dan kritis, sehingga proses pemberian pembelajarannya lebih bersifat mengembangkan daya pikir kritis dengan mengamati realitas kehidupan. Seperti halnya pada proses pembelajaran yang menekankan pada materi permainan, dimana setiap peserta didik akan meniru contoh atau teknik yang diyakini sudah baik dan teruji. Dalam perebutan bola, masing-masing anak akan mencoba memberikan contoh yang baik dengan tidak mencurangi temannya sendiri. Bermain dalam pikiran peserta didik memberikan konsep agar anak lebih bertanggung jawab terhadap permainan tersebut.

Pada permainan sepak bola misalnya, dimana peserta didik ditunjuk sebagai keeper, maka ia akan berusaha mempertahankan gawangnya dari serangan lawan agar tidak terjadi gol. Ketika terjadi perselisihan, maka tanggungjawab anak terhadap permainan ini membantu dalam pengembangan moralnya. Kita pun menyadari, bahwa pendidikan jasmani dan olahraga adalah laboratorium bagi pengalaman manusia. Oleh sebab itu, guru pendidikan jasmani haruslah mencoba mengajarkan etika dan nilai dalam proses belajar mengajar yang mengarah pada kesempatan untuk membentuk karakter anak. Karakter anak didik yang dimaksud juga tidaklah lepas dari karakter bangsa Indonesia serta kepribadian utuh anak, selain harus dilakukan oleh orang tua dalam keluarga, juga dapat diupayakan melalui pendidikan di sekolah. Dampak dari pembelajaran pendidikan jasmani dan olahraga yang  menekankan pada etika adalah untuk menumbuhkan rasa percaya diri dan penilaian positif terhadap kemampuan diri. Hal ini sangat penting, karena selain untuk menumbuhan pada anak tentang penguasaan tugas belajar, juga untuk membangkitkan motivasi diri agar lebih berani mengambil langkah dan keputusan yang tepat dalam mendorong keadaan sehat secara mental pada diri seseorang maupun secara batiniah. Perasaan positif yang timbul pada peserta didik tentunya akan meningkatkan penilaian diri yang merasa semakin mampu untuk menyelesaikan tugas dan terlebih untuk ke arah prestasi anak. Selanjutnya peserta didik akan dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk jika tingkat emosionalnya stabil dan selalu berfikiran positif.

Pendidikan jasmani merupakan sebuah pengalaman bagi manusia. Oleh sebab itu, guru pendidikan jasmani harus mengajarkan etika dalam proses belajar mengajar, yang mengarah pada kesempatan untuk membentuk karakter bangsa Indonesia serta kepribadian utuh anak. Melalui aktifitas jasmani dimana nilai etika dan moral tetap ditanamkan kepada peserta didik, juga bisa ditanamkan nilai-nilai yang lainnya semisal toleransi antar sesama, gotong royong, menghargai kerja keras, mengutamakan mutu dan lain sebagainya. Maka seseorang akan memperoleh kesempatan bergaul dan berinteraksi antara satu dengan lainnya.

Sikap dan perilaku yang direstui masyarakat dapat dibina melalui lingkungan olahraga. Melalui pendidikan nilai di sekolah, seharusnya dapat mengupayakan melalui seluruh komponen sekolah dengan mencerminkan penghargaan nyata terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang mau diperkenalkan dan ditumbuhkembangkan penghayatan dalam diri peserta didik, tindakan nyata dan penghayatan hidup dari para pendidiknya dengan sikap keteladanan mereka dalam menghayati nilai-nilai yang mereka ajarkan seperti kedisiplinan, maka akan lebih efektif disegani oleh para peserta didiknya. Guru pendidikan jasmani haruslah lebih jeli dalam melihat peluang yang ada, baik secara kurikuler maupun ekstrakurikuler untuk senantiasa menyadarkan pentingnya sikap dan perilaku positif dalam hidup bersama dengan orang lain, baik dalam keluarga, sekolah maupun dalam masyarakat. Saran yang bisa diangkat yaitu seluruh komponen dan iklim sekolah sendiri sebagai lingkungan sosial terdekat yang setiap hari dihadapi, selain di keluarga dan masyarakat luas, perlu mencerminkan penghargaan yang nyata terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan ditumbuhkembangkan pada peserta didik. (***)

Related posts