Penghasilan Kosasi Rp12 Juta dari Telur Semut

  • Whatsapp
Kosasi, pemburu kroto memisahkan semut dan sarangnya dengan mengipaskan handuk. Dari pekerjaannya mencari kroto, pendatang ini mendapat penghasilan Rp12 juta perbulan. (Foto: M. Tamimi)

Seorang pencari kroto atau telur semut bernama Kosasi (45) di Kecamatan Koba, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Bangka Belitung mampu meraup untung sebesar Rp12 juta per bulan atau rata-rata Rp300 ribu per hari dari kerja kerasnya.
Pria yang kerap disapa Kang Kos ini mengaku, setiap hari berpenghasilan minimal Rp300 ribu, bahkan sering memperoleh Rp400 ribu perhari dengan memburu kroto di kawasan hutan yang ada di daerah tersebut.
“Pekerjaan mencari telur semut ini saya lakukan sejak tahun 2014. Setiap hari saya berhasil mengumpulkan sekitar empat kilogram kroto dengan harga Rp100 ribu per kilo gram,” ungkapnya.
Warga pendatang dari Provinsi Jawa Barat yang tinggal di Koba ini, tidak harus mengeluarkan modal besar untuk meraup penghasilan belasan juta rupiah dalam sebulan. Ia hanya berbekal wareng atau jaring dan sebatang kayu untuk memecahkan sarang semut. Selanjutnya, telur semut yang jatuh ke dalam wareng, diambil untuk dijual kepada pecinta burung dan lain sebagainya.
“Pekerjaan ini tidak butuh modal, hanya butuh upaya lebih keras dan rajin masuk hutan dan keluar hutan memburu telur semut itu,” terangnya.
Diakui Kosasi, untuk mendapatkan empat kilogram kroto dirinya hanya butuh waktu tiga jam saja. Dan untuk pemasaran telur semut ini pun sudah ada yang menampungnya.
“Kroto ini peminatnya banyak, saya sampai sekarang punya langganan sehingga tinggal diantar saja kalau barangnya ada dan satu kilogram saya jual Rp100 ribu,” ucapnya.
Ia mengungkapkan, kroto diminati masyarakat untuk makanan burung dan belakangan ini juga digunakan sebagai makanan tambahan ikan dan ayam peternak.
“Sebelum dilepas ke pasar, kroto itu harus dibersihkan dulu yaitu dipisahkan sampah serta induk semut dari telurnya. Sehingga telur semut yang saya jual benar-benar bersih,” paparnya.
Kosasi menambahkan, proses pembersihan kroto yaitu dikipas dengan menggunakan kain handuk dan pengipas dari anyaman. Tujuannya agar sampah dan induk telur langsung terpilah.
“Kalau proses pengambilan telur dari sarangnya tidak sulit, saya hanya membaca arah angin. Kalau angin arah ke Barat maka saya mengambil telur semut dengan menggunakan kayu berada di posisi Timur agar semut tidak menyerang saya,” katanya.
Diakhir wawancara, Kosasi menjelaskan, sarang semut yang dijolok dengan menggunakan kayu panjang itu disambut dengan menggunakan wareng, sehingga telurnya langsung terkumpul dalam wareng.
“Tidak ada tantangan mengambil telur semut kendati binatang itu menggigit tetapi tidak berbisa, hanya saja kita harus tahu kemana arah angin,” pungkasnya. (M. Tamimi)

Related posts