Penghapusan Ujian Nasional 2021

  • Whatsapp
Foto: ilustrasi

Oleh: Deffi Pradina
Mahasiswa Prodi PAI IAIN Syaikh Abdurahman Siddik Babel

UJIAN Nasional tahun ajaran 2019/2020 dilaksanakan pada pertengahan bulan Maret sampai akhir April, sesuai yang diumumkan oleh Badan Nasional Standarisasi Pendidikan (BNSP). Rencanya, Ujian Nasional tingkat SMK akan dimulai tanggal 16 sampai 19 Maret, sedangkan untuk SMA/MA akan dimulai tanggal 30 Maret sampai 2 April. Untuk jadwal pelajaran yang akan diujikan dalam Ujian Nasional pun sudah di rilis oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan beberapa waktu lalu.

Read More

Tidak berbeda dari tahun sebelumnya, Ujian Nasional tahun ini pun berbasis komputer atau yang lebih dikenal dengan UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer). Dimana, sistem pelaksanaan Ujian Nasional yang diselenggarakan tidak menggunakan kertas dan pensil lagi melainkan menggunakan komputer sebagai media ujiannya. Untuk sistem pelaksanaan UNBK sendiri sudah dilaksanakan sejak tahun 2014, atau bisa dikatakan sudah berjalan kurang lebih enam tahun.

Pelaksanaan Ujian Nasional sebenarnya adalah bentuk evaluasi yang dilakukan oleh Pemerintah guna melihat apakah suatu proses pendidikan itu berjalan dengan baik atau tidak. Jika hasil rata-rata Ujian Nasional dari suatu sekolah itu tinggi, maka proses pendidikan di sekolah itu pun tergolong sukses, pun juga sebaliknya. Namun, Ujian Nasional akan berbeda dalam pandangan siswa maupun orang tua siswa.

Mereka beranggapan bahwa sebuah Ujian Nasional adalah tolak ukur kepintaran seseorang. Dengan tingginya nilai Ujian Nasional dari seorang siswa, maka siswa itu dianggap paling pintar dan selalu di elu-elukan. Padahal, sebenarnya kepintaran seseorang itu tidak bisa dilihat hanya dari nilai Ujian Nasionalnya saja, melainkan dari aspek-aspek yang lainnya juga.

Seorang siswa yang tidak pandai menghitung dalam matematika bukan berarti dia bodoh, namun ia memiliki kemampuan lain yang bukan di dalam angka-angka matematika. Bisa jadi ia pintar di pelajaran bahasa atau memiliki banyak prestasi di bidang olahraga. Sehingga, penilaian kepintaran seseorang itu sama sekali tak dapat diambil dari nilai Ujian Nasionalnya saja. Untuk itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim memutuskan penghapusan Ujian Nasional pada tahun 2021, atau tahun ini adalah tahun terakhir pelaksanaan Ujian Nasional di Indonesia.

Dalam keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu, tentu saja banyak pro dan kontranya. Banyak yang tidak setuju dengan keputusan penghapusan Ujian Nasional karena dianggap bermain-main dalam dunia pendidikan yang notabenenya merupakan kebijakan Pemerintah sejak dulu. Namun, banyak juga yang berpendapat sama dan mendukung keputusan penghapusan Ujian Nasional. Penghapusan Ujian Nasional yang dilakukan ini diharapkan dapat memajukan pendidikan Indonesia.

Data menunjukkan, Indonesia menempati urutan ke-72 dari 77 negara dalam survei kualitas pendidikan. Hal ini sangat disayangkan karena secara tidak langsung, dunia mengatakan bahwa pendidikan di Indonesia masih sangat buruk. Indonesia kalah dengan negara Malaysia dan Brunei Darussalam, malah pendidikan di Indonesia masih jauh di bawah mereka. Hal ini tidak semerta-merta terjadi karena guru dan siswa saja, namun dipengaruhi juga oleh kebijakan pendidikan yang berlaku.

Negara Finlandia contohnya, pendidikan di negara ini menempati urutan pertama sistem pendidikan terbaik di dunia. Padahal, sistem pendidikan mereka sangat berbeda dengan sistem pendidikan di Indonesia yang mengutamakan teori cukup banyak daripada prakteknya. Di Finlandia, pendidikan akan sesuai dengan minat dan bakat dari masing-masing siswa. Mereka tidak dibebani oleh pelajaran-pelajaran yang sama sekali tak dapat mereka kuasai, ereka memiliki kebebasan dalam pendidikan. Selain itu juga, Negara Finlandia tidak pernah mengadakan Ujian Nasional seperti yang dilakukan di Indonesia. Dari sini bisa kita lihat, bahwa Ujian Nasional sama sekali tidak berdampak pada kualitas pendidikan di Indonesia dan hendaknya, kita bisa mencontoh negara Finlandia dalam sistem pendidikannya.

Sebenarnya, masih banyak hal yang dipertimbangkan dalam penghapusan Ujian Nasional ini, terlepas dari beberapa fakta yang telah disebutkan. Pertama, melihat dari kemampuan siswa yang berbeda-beda. Ada kalimat, Jangan pernah menyuruh ikan untuk memanjat pohon, ini tepat sekali diibaratkan kepada siswa yang berbeda-beda kemampuan. Tidak semua siswa hebat dalam materi eksak seperti matematika, fisika atau kimia. Tidak juga semua siswa hebat dalam bahasa, dan olahraga. Kemampuan siswa berbeda-beda, sehingga tak mungkin memaksa siswa untuk memahami semua mata pelajaran.

Kedua, Ujian Nasional menjadi beban untuk siswa, guru serta orang tua. Tidak dielakkan lagi, bahwa Ujian Nasional menjadi beban untuk siswa. Selain menghadapi Ujian Akhir, mereka juga harus menghadapi Ujian Nasional. Artinya, beban mereka menjadi dua kali lipat untuk mempelajari materi-materi yang diujikan. Beban guru dan orang tua menjadi bertambah, sebab guru harus menyisihkan waktu lebih untuk mengulangi materi yang di ujikan dalam Ujian Nasional. Namun, terkadang menambah waktu belajar untuk mengulangi materi yang diujikan ini tidaklah efektif.

Ketiga, menyebabkan kesenjangan sosial. Pendapat yang terjadi di masyarakat sekarang adalah mereka mengatakan bahwa Ujian Nasional sebagai tolak ukur kepintaran. Sehingga, nilai Ujian Nasional menjadi sangat penting bagi siswa, terlebih untuk orang tua siswa. Hal ini menyebabkan, nilai Ujian Nasional anak dapat menjadi bahan pamer. Mereka berlomba-lomba membanggakan anak-anak mereka masing-masing. Sehingga, orang tua siswa dengan nilai Ujian Nasional rendah akan merasa malu.

Keempat, Ujian Nasional tidak lagi menjadi syarat masuk suatu sekolah. Semenjak Pemerintah merilis sistem zonasi tahun lalu, maka nilai Ujian Nasional tidak diperlukan lagi dalam syarat masuk sekolah Menengah Pertama, atau Menengah Atas. Sistem zonasi ini adalah sistem penerimaan siswa baru sesuai dengan kedekatan tempat tinggal dengan sekolah tersebut. Dalam Permendikbud Nomor 14 Tahun 2018, telah di atur tentang sistem zonasi ini dan diharapkan tidak ada lagi anggapan sekolah favorit.

Kelima, Ujian Nasional tidak menjamin suksesnya seseorang. Kesuksesan seseorang bukan dilihat dari tinggi rendahnya nilai Ujian Nasional, melainkan kegigihannya serta kemauannya dalam meraih kesuksesan. Banyak kasus yang membenarkan hal ini, orang-orang dengan nilai Ujian Nasional rendah dapat sukses melebihi orang-orang dengan nilai Ujian Nasional Tinggi, sebab kesuksesan bukan di nilai dari kemampuan menghitung matematika atau menghafal rumus kimia. Namun kesuksesan didapatkan dengan kerja keras dan pantang menyerah.

Maka dari itu, dengan alasan-alasan tersebut, penghapusan Ujian Nasional menjadi hal yang bagus dalam tatanan sistem pendidikan. Dengan dihapusnya Ujian Nasional ini, diharapkan dapat mengurangi beban siswa dalam belajar serta beban guru dan orang tua. Sehingga siswa dapat lebih mendalami kemampuan yang ia miliki, bukan hanya teori umum saja yang dikuasai melainkan juga pendalaman ilmu tersebut. Kemudian, tidak akan ada kesenjangan sosial yang terjadi antar orang tua siswa dan antarsiswa, karena sudah tidak adanya nilai Ujian Nasional yang akan dibanggakan.

Disamping itu, penghapusan Ujian Nasional juga diharapkan dapat membawa perubahan baik terhadap kualitas pendidikan di Indonesia, sehingga dapat menjadi lebih baik ke depannya. Tentunya, hal ini juga tidak cukup dalam merubah kualitas sistem pendidikan Indonesia, elemen-elemen lain juga dibutuhkan dalam memajukan sistem pendidikan, yaitu peran guru-guru, siswa dan orang tua. Keempat elemen ini, harus bekerja sama agar di tahun 2024, Indonesia bisa menghasilkan produk-produk terbaik dari sistem pendidikan yang berkualitas. (***)

Related posts