Pengembangan Pariwisata Bahari untuk Mewujudkan Poros Maritim Dunia

  • Whatsapp

Oleh: Muhammad Tahir
Pegiat Literasi

Saat ini, perkembangan dunia kemaritiman sudah sangat ditonjolkan oleh Pemerintah. Kesadaran Pemerintah telah hadir dalam nuansa “jati diri” bahwa sejatinya negara Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki luas wilayah total 7,81 juta km2 yang terdiri dari luas daratan 2,01 juta km2 dan luas lautan 3,25 juta km2 serta Zona Ekonomu Eksklusif (ZEE). Hal ini sudah menandakan bahwa tanpa sadar kita Indonesia di dominasi oleh luas lautan atau perairan daripada luas daratan, sehingga Indonesia dikatakan negara maritim.
Maritim Nusantara adalah sala satu julukan yang akrab terdengar di telinga masyarakat pada umumnya. Dunia kemaritiman sering disangkutpautkan bahwa bagian Indonesia Timur lah yang memiliki segala kekayaan laut yang melimpah dan pengembangan wisata bahari yang lebih mencolok dibandingkan dengan Indonesia bagian barat, dalam hal ini yakni Pulau Sumatera. Pulau Sumatera secara geografis merupakan bagian kepulauan Indonesia yang juga berada pada garis kalustiwa, sehingga potensi dunia kemaritiman sangat memungkinkan untuk dikembangkan secara intens. Dalam sejarah peradaban maritim ternyata memiliki kontribusi yang signifikan dalam kehidupan masyarakat. Terkhusus pada masyarkat pesisir yang memang notabennya seorang nelayan, sehinggga ada pepetah “nenek moyang ku seorang pelaut” yang hingga kini masih sering terbesit dalam pikiran kita semua.
Hal di atas sesuai dengan apa yang dicita-citakan oleh Presiden Joko widodo dalam mewujudkan Indonesia sebagai Poros maritim dunia. Sebagai mimpi besar Indonesia menjadi poros maritim dunia. Oleh karenanya, pemerataan dalam pengembangan wisata bahari telah dilakukan. Oleh sebab itu, sedikit menyinggung masalah potensi maritim di Pulau Sumatera, terkhusus lagi pada Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menjadi sorotan bahwa Bangka Belitung ini adalah Pulau yang sangat strategis dalam mewujududkan poros maritim dunia. Sesuai yang dikatakan oleh Menteri Pariwisata RI Arief Yahya, bahwa Babel adalah poros maritim dunia. “Itu kenapa saya menyutujui tiga daerah yang menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), yakni di Lampung, Jawa Barat dan Bangka Belitung,” ungkap Menteri Yahya. Potensi ini sangat besar dalam hal pariwisata bahari dan pengembangan daerah serta tidak terlepas dari peningkatan pendapatan daerah setempat.
Namun, pada dasarnya untuk mewujudkan poros maritim dunia, ada beberapa hal yang harus dipenuhi yakni: Pertama, amenitas memberikan pelayanan kepada wisatawan dengan baik sehingga kalimat yang baik untuk meningkatkan ini adalah “jangan pernah meninggalkan kesan yang tidak baik kepada orang lain”. Dengan penanaman prinsip demikan kepada pegawai jasa pariwisata, maka dalam bentuk pelayanan kepada wisatwan akan baik. Kedua, Aksestabilitas persedianan akses tranportasi yang mudah dan memberikan kenyaman kepada wisatawan. Ketiga, atraksi keunikan, keindahan dan ciri khas dari destinasi yang didatangi wisatawan.
Ketika hal demikian telah terpenuhi, maka wisatawan yang akan hadir tidak akan sungkan kembali lagi untuk menikmati kawasan wisata yang kita tawarkan kepada mereka. Untuk itu, pengembangan wisata bahari di Bangka Belitung adalah salah satu bentuk penguatan ekonomi maritim menuju Indonesia poros maritim dunia. Sementara itu, perlu kita lestarikan kembali adalah semangat budaya maritim di Indonesia terkhusus pada masyarakat Bangka Belitung yang semestinya memiliki tempat dan ruang serta zona sendiri dalam pengembangannya, maka perlu adanya sebuah pemetaan wilayah sebagaimana dalam pemetaan potensi dari setiap wilayah yang ada guna dijadikan sebagai kawasan wisata bahari di Bangka Belitung. Semisal sudah mendapatkan hal demikian dilakukan dengan serius dan komitmen untuk tidak diganggu dengan aktivitas apapun, kecuali hal – hal yang berkaitan dengan pengembangan dunia kemaritiman dan pariwisata bahari itu sendiri.
Melakukan hal tersebut tidak hanya dapat dilakukan oleh satu pihak semata, maka pentingnya sebuah mitra atau sinergisitas antar pihak yang bergerak dibidang tersebut, baik itu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Organisasi Kemasyarakatan (Ormas), Organisasi Kepemudaan (OKP) dan Organisasi Kemahasiswan. Pihak yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah pihak pemerintah yang memiliki wewenang dibidang tersebut, harus bekerjasama dengan organisasi yang bergerak piur dengan bidang kemaritiman seperti organisasi Maritim Muda Nusantara yang telah terbentuk di seluruh Indonesia termaksud di daerah Bangka Belitung. Selain itu, seyogyanya sebagai pemuda daerah yang ingin ikut berkontribusi terhadap daerahnya, maka harus semua pihak mendukung apa-apa yang dilakukan selagi hal yang dilakukan bendampak positif bagi masyarakat sekitar.(***).

Related posts