Pengebom Perairan Terancam Hukuman Berat

  • Whatsapp

Penyidik Lengkapi Berkas Tersangka

PANGKALPINANG – Penyidik Subdit Gakkum Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara Polda Kepulauan Bangka Belitung (Ditpolairud Polda Babel), hingga saat ini masih menunggu berkas terduga pelaku yang melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak/bom ikan di Perairan Provinsi Kepulauan Babel, dinyatakan lengkap atau P21 oleh pihak kejaksaan.

Demikian diutarakan oleh Kasubdit Gakkum Ditpolairud Polda Babel, Kompol Nuryono mewakili Direktur Polairud (Dirpolairud), Kombes Pol M. Zainul saat dihubungi Rakyat Pos via ponselnya, Rabu (7/8/2019) siang.

Ia menuturkan, terduga pelaku yang melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan bom ikan tersebut, juga masih mendekam di sel Rutan Ditpolairud Polda Babel.

“Tersangka masih kita tahan, belum dilimpahkan karena belum P21. Nanti, setelah P21, baru kita limpahkan bersama barang buktinya,” ulasnya.

Lebih lanjut Nuryono menyebutkan, penyidik hanya menetapkan RU (51) sebagai tersangka tunggal dalam perkara ini. “Tersangkanya hanya satu orang. Sedangkan keterlibatan teman-temannya masih kita dalami,” sebutnya.

Mantan Kasubdit 2 Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Babel ini menambahkan, pihaknya telah melengkapi semua kekurangan berkas yang diminta oleh jaksa.
“Masih tinggal nunggu P21. Mudah-mudahan dalam Minggu-minggu ini sudah P21,” tukasnya.

Dalam berita sebelumnya, RU (51), terduga pelaku yang melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak/bom ikan di Perairan Bangka Belitung (Babel), kini ditahan di sel Rutan Ditpolairud Polda Babel.

Nelayan yang beralamat di Dusun Baru Utara I, Kelurahan Baru, Kecamatan Manggar, Kabupaten Belitung Timur ini, diduga melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak/bom ikan di Perairan Babel yang terdapat terumbu karang.

Dijelaskan Kabid Humas Polda Babel, AKBP A. Maladi, anggota Kapal Patroli (KP) XXVIII – 2001 Ditpolairud Polda Babel melaksanakan patroli rutin di Perairan Manggar, Kabupaten Belitung Timur Provinsi Kepulauan Babel pada Jum’at (12/7/2019) lalu sekitar pukul 13.15 Wib.

Alhasil, patroli tersebut berhasil mengamankan satu unit Kapal Motor (KM). tanpa pada titik koordinat 02º 50’ 807” S – 108º 17’ 408” T yang sedang berlayar untuk melakukan kegiatan penangkapan ikan.

“Setelah anggota kita dari Ditpolairud Polda Babel melakukan pemeriksaan pada kapal tersebut dan menemukan bahan baku peledak/bom, yang diduga akan digunakan untuk menangkap ikan dengan cara meledakkan/mengebom ikan.

Selanjutnya, anggota mengamankan kapal, dan barang bukti lainnya beserta Nahkoda dan ABK ke pangkalan sandar Manggar,” kata Kabid Humas saat konferensi pers di Gedung Ditpolairud Polda Babel, Kamis (18/7/2019).

Pada saat dilakukan penangkapan, ia menyebutkan, barang bukti yang diamankan berupa satu unit kapal, delapan botol berwarna hitam ukuran kecil, empat botol berwarna hitam ukuran besar, 29 kotak korek api, 10 buah busa/gabus penutup botol dan satu gulung amplas.

Selain juga, empat Kilogram bubuk diduga bahan baku bom, satu jerigen yang berisikan sekitar lima Liter BBM jenis solar dan satu buah ember.

“Tersangka ini diduga melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan bom ikan secara tidak dan melanggar hukum. Hasil tangkapannya kini ada di kapal,” sebutnya.

Ditempat yang sama, Kasubdit Gakkum Ditpolairud, Kompol Nuryono menegaskan bahwa penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak sangat dilarang.

“Bom ikan ini dirakit oleh tersangka sebelum melakukan penangkapan. Barang-barang ini dibawa ke tengah laut untuk mengelabui pemeriksaan aparat,” ujarnya.

Oleh karena dia menegaskan, pelaku untuk sementara ini dipersangkakan dengan Pasal 84 ayat (2) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan Jo. Pasal 53 ayat (1) KUHPidana atau Pasal 1 ayat (1), (3) Undang – Undang Darurat Nomor. 12 Tahun 1951, yang berbunyi : ’’ Nahkoda atau pemimpin kapal perikanan, ahli penangkapan ikan, dan anak buah kapal yang sengaja di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan bahan kimia, bahan biologis, bahan peledak, alat dan /atau cara bangunan yang dapat merugikan dan/atau membahayakan kelestarian sumber daya ikan dan/atau lingkungannya.

Mencoba melakukan kejahatan dipidana, jika niat itu telah ternyata dari adanya permulaan pelaksanaan, dan tidak selesainya pelaksanaan itu, bukan semata- mata karena kehendaknya sendiri atau barang siapa, yang tanpa hak memasukkan ke Indonesia membuat, menerima, mencoba memperoleh, menyerahkan atau mencoba menyerahkan,menguasai,membawa,mempunyai persediaan padanya atau mempunyai dalam miliknya, menyimpan, mengangkut, menyembunyikan, mempergunakan, atau mengeluarkan dari Indonesia sesuatu senjata api, amunisi atau sesuatu bahan peledak.

Sedangkan, Pasal 84 ayat (2) diancam dengan hukuman penjara 10 (sepuluh) tahun dan denda Rp. 1.200.000.000,- (satu milyar dua ratus juta rupiah). Sedangkan Pasal 1 Undang-Undang Darurat dihukum dengan hukuman mati
atau hukuman penjara seumur hidup atau hukuman penjara sementara setinggi-tingginya dua puluh tahun. (bis/6)

Related posts