Pengangguran Terdidik di Pangkalpinang, Mau Dibawa Kemana ?

  • Whatsapp

Oleh: Rahma Nurhamidah, S. ST
Statistisi Pertama BPS Kota Pangkalpinang

Pendidikan yang tinggi tentunya akan membuka peluang untuk mendapatkan lapangan kerja yang layak. Namun kenyataannya, pasar tenaga kerja saat ini, belum mampu menampung semua pasokan tenaga kerja yang tersedia. Struktur ekonomi dan lapangan pekerjaan di Kota Pangkalpinang sepertinya belum terlalu membutuhkan skilled labour sebagai hal utama. Tidak mengherankan jika angka TPT angkatan kerja pendidikan tinggi (universitas) terbesar kedua setelah TPT angkatan kerja lulusan SMA. Bahkan, TPT pendidikan lebih dari SMA meningkat sebesar 0,11 persen pada tahun 2017. Apakah kita akan terus bertahan dengan jumlah pengangguran terdidik yang kian bertambah?

Hasil Sakernas Agustus 2017 Kota Pangkalpinang mencatat ada sekitar 153729 penduduk usia kerja, dan 63,42 persennya merupakan angkatan kerja. Ini berarti, dari 100 penduduk usia 15 tahun ke atas (usia kerja), 63 orang bersedia bekerja atau terlibat dalam kegiatan ekonomi untuk memproduksi barang dan jasa tertentu. Selebihnya, tidak berminat bekerja dikarenakan masih bersekolah, mengurus rumah tangga, atau karena alasan lainnya.

Meskipun antusias masyarakat untuk bekerja masih cukup tinggi, pasar tenaga kerja saat ini masih belum bisa menampung pasokan tenaga kerja yang tersedia. Pada Agustus 2017, terdapat 5.652 orang yang tidak memperoleh pekerjaan (pengangguran). Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kota Pangkalpinang tahun 2017 sebesar 5,80 persen, turun dua kali lipat dibandingkan dua tahun sebelumnya yang merupakan tingkat pengangguran tertinggi selama 8 tahun terakhir. Namun, angka ini masih cukup tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata TPT provinsi yang masih berada di kisaran 3,78 persen.

Apabila dikaji menurut lapangan pekerjaan utama, Sektor Pedagangan besar, eceran, rumah makan dan hotel serta Sektor selain pertanian, industri pengolahan, perdagangan dan jasa kemasyarakatan menempati dua posisi teratas yang paling banyak menyerap tenaga kerja laki-laki, masing-masing sebesar 91,29 persen atau 16910 orang dan 51,70 persen atau 15603 orang. Sedangkan tenaga kerja perempuan mayoritas bekerja di Sektor Perdagangan dan Sektor jasa kemasyarakatan, social dan perorangan masing-masing sebesar 48,29 persen atau 14576 orang dan 50,88 persen atau 15397 orang.

Melihat sektor dominan ini, struktur ekonomi dan lapangan pekerjaan di Kota Pangkalpinang sepertinya belum terlalu membutuhkan skilled labour sebagai hal utama. Tidak mengherankan jika angka TPT angkatan kerja pendidikan tinggi (universitas) mencapai 27,26 persen, terbesar kedua setelah TPT angkatan kerja lulusan SMA yang bertengger di angka 38,26 persen. Bahkan, TPT pendidikan lebih dari SMA meningkat sebesar 0,11 persen pada tahun 2017. Lantas yang menjadi pertanyaan, mau dibawa kemana pengangguran terdidik tersebut? Apakah kita akan terus bertahan dengan jumlah pengangguran terdidik yang terus bertambah?

Di samping itu dapat dirasakan bahwa persaingan atau kompetisi dalam kehidupan semakin berat dan ketat. Artinya ketersediaan lapangan kerja dengan pencari kerja yang tidak berimbang. Dengan demikian maka menuntut untuk adanya kemampuan lain (skill lain) yang harus dimilki oleh setiap individu agar mendapatkan pekerjaan yang layak. Pekerjaan yang layak semestinya adalah sebuah efek yang diakibatkan dan didapatkan oleh individu- individu. Namun kenyataannya belumlah demikian.

Kecenderungan dari orang tua umumnya berfikiran bahwa setelah tamat Perguruan Tinggi, maka harapannya adalah si anak dapat lulus untuk dapat bekerja dengan profesi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Hanya sedikit orang tua yang benar- benar menyekolahkan anaknya dalam rangka mencerdaskan anaknya sehingga si anak memilki pengetahuan dan kepribadian. Biasanya, orientasi dari kebanyakan orang tua untuk menyekolahkan anaknya adalah untuk ‘keberlangsungan hidup’ anak terutama dalam menopang perekonomiannya kelak. Indikasinya kita lihat hanya sedikit dari orang tua yang mau dan mampu untuk menyekolahkan si anak setinggi- tingginya. Walaupun masih dilatarbelakangi oleh mahalnya biaya pendidikan saat ini.

Lantas apakah persoalan ini dibiarkan saja? Tentu tidak. Masalah pengangguran terdidik bukan hanya menjadi masalah ayah atau ibu atau individu saja, melainkan juga menjadi masalah di Kota Pangkalpinang. Oleh karena itu, diperlukan untuk mencarikan solusi terbaik untuk menyelesaikan permasalahan pengangguran ini. Salah satu solusinya adalah membenahi dunia pendidikan. Salah satu caranya adalah dengan ‘mengubah’ metode dalam proses belajar mengajar itu sendiri yaitu dari metode monolagis menjadi dialogis, memberikan kesempatan dan fasilitas bagi peserta didik untuk berkreasi dan berinovasi. Dengan metode tersebut, diharapkan dapat menciptakan lulusan yang yang kreatif, inovatif, memiliki mental dan skill sehingga dapat ‘melahirkan’ lulusan yang mandiri dan memiliki semangat kewirausahaan tinggi. Hal ini tentu didukung oleh sumber daya para pendidik yang juga kreatif, komunikatif serta sarana dan prasarana yang memadai.

Dalam mencapai harapan ini, perlunya dukungan dari berbagai macam pihak di dalamnya baik pemerintah maupun masyarakat. Kedua, solusi lainnya adalah membangun budaya kreatif dan inovatif. Cara untuk meraihnya adalah dengan tidak membiasakan sifat malas yang telah berurat berakar dalam diri para peserta didik. Membangun karakter pantang menyerah, mau mencoba dan gigih serta mandiri. Pembentukan budaya ini sangat penting untuk menciptakan generasi yang tangguh dan berani dalam menghadapi persaingan serta tantangan yang ada. Budaya ini dapat ‘ditularkan’ melalui budaya diskusi, ajang kreatifitas yang dapat difasilitasi oleh berbagai macam pihak, baik pemerintah maupun swasta. Dengan dilakukannya solusi di atas, masalah pengangguran ini dapat diatasi atau setidaknya dikurangi. Namun, jika solusi itu tidak dilakukan, maka pengangguran terdidik di Kota Pangkalpinang ini, mau dibawa Kemana ? (***).

Related posts