Penentu Kepribadian Seorang Anak

  • Whatsapp
UNTUNG SUGENG RIYADI, S. Pd
Guru SMA Negeri 1 Pemali, Bangka, Babel

Setiap orang yang sudah menikah pasti mendambakan kelahiran seorang anak dalam keluarga, karena anak adalah anugerah yang Tuhan titipkan kepada orang tua. Oleh sebab itu orang tua memiliki kewajiban yang sangat besar dihadapan Tuhan.  Kepribadian dan karakter seorang anak dipengaruhioleh bagaimana cara orang tua mengasuhnya. Semua pola asuh baik yang terlalu kaku atau bebas akan mempengaruhi kepribadian seorang anak. Setiap keluarga pasti memiliki harapan dan keinginan terhadap anaknya, sehingga segala macam cara diusahakan untuk hal tersebut. Tetapi terkadang cara yang ditempuh atau pola asuh yang diberikan terlalu berlebihan. Pola asuh yang diberikan orang tua pada anaknya bisa dalam bentuk perlakuan fifik maupun psikis yang tercermin dalam tutur kata, sikap, perilaku dan tindakan yang yang diberikan.

Sebenarnya tidak ada pola asuh yang benar atau salah terhadap anak. Pola asuh yang paling tepat adalah  menyesuaikannya dengan situasi atau menggunakan teknik tarik ulur. Pengaruh pola asuh terhadap kepribadian dan karakter si anak nantinya sangat besar. Apa yang diberikan oleh orang tuanya sejak anak dilahirkan hingga ia remaja akan membentuk kepribadian si anak. Meskipun pada usia tertentu saat anak sudah memiliki teman atau dapat bersosialisasi. Anak yang baru lahir dengan fitrahnya tidak bisa membedakan mana yang baik dan serta memiliki daya ingat yang tinggi. Semua yang ada dilihat cenderung  di copy dan dikirim dari short term memory ke long term memory. Sehingga anak cenderung meniru apa yang terlihat didepannya dan mengimplementasikan dalam kehidupannya sehari-hari. Saat yang ditiru oleh si anak adalah hal yang baik, maka dia akan menjadi baik, namun sebaliknya, saat yang ditiru adalah hal yang kurang baik, maka kemungkinan seperti itu pula hasilnya. Hal tersebut akan berpengaruh terhadap penanaman karakter seorang anak. Maka dari itu, faktor utama yang perlu diperhatikan atau ditiru seorang anak adalah orang tuanya, selanjutnya lingkungan merupakan faktor berikutnya yang berpengaruh dalam kehidupan seorang anak.

Lingkungan keluarga sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter seorang anak. Karakter merupakan salah satu sifat atau watak yang tumbuh di dalam diri seseorang untuk membedakan antara yang satu dengan lain. Karakter tumbuh sejak kita terlahir ke dunia. Dalam hal ini orang tua merupakan media utama dalam pembentukan seorang anak. Sebagai orang tua harus mampu memahami anak-anaknya dan harus selalu berhati-hati dalam mengambil keputusan. Jangan sampai orang tua mengambil keputusan sepihak, karena anak akan memberontak. Orang tua harus mampu mengenali anak dan lingkungan sekitarnya. Saat anak hidup dilingkungan yang kurang baik, bukan berarti orang tua mengekangnya agar terus di dalam rumah dan tidak bergaul dengan siapapun, karena hal tersebut sangat berpengaruh terhadap perkembangan mental anak. Anak akan merasa kekurangan teman bermain, susah diajak bergaul, susah diajak komunikasi dan akan takut dalam menyampaikan pendapat dihadapan banyak orang. Namun jika anak dibiarkan begitu saja bergaul dengan lingkungan yang kurang mendukung pada proses pembentukan karakter anak, maka anak akan gampang terpengaruh dan anak tidak akan mempunyai pendirian tetap. Anak akan cenderung meniru sesuatu yang dia suka, baik itu yang positif maupun negatif. Sehingga orang tua harus pandai menyeimbangkan di antara keduanya agar anak mampu membedakan mana yang baik dan tidak baik, serta memiliki pendirian dan mental yang kuat. Hal yang harus dilakukan orang tua hanyalah menjadi orang tua yang ideal. Menjadi orang tua ideal sebenarnya tidaklah sulit, tinggal bagaimana menerapkan pola asuh yang sesuai dengan keadaan anak.

 

Baca Lainnya

Pola Asuh Demokrasi

Pola asuh demokrasi biasanya ditandai dengan adanya sikap terbuka antara orang tua dan anaknya. Namun dalam pelaksanaannya orang tua tidak boleh kaku atau terbatas pada pola suh yang itu-itu saja. Tapi harus disesuaikan dengan konteks kebutuhan dan kemampuan yang dimiliki anak. Yang tidak boleh atau harus dihindari orang tua adalah pola asuh yang terlalu berlebihan, karena segala sesuatu yang berlebihan akan menjadi tidak baik. Pola asuh ini lebih condong pada pengasuhan secara bersama-sama. Dalam artian orang tua dan anak sama-sama merasa nyaman atau tidak merasi terbebani dengan adanya aturan-aturan yang ditetapkan, karena semua yang ada dalam pola pengasuhan ini atas kesepakatan bersama.

Pengasuhan ini membebaskan seorang anak, akan tetapi masih terdapat batasan-batasan yang harus diperhatikan. Semua keputusan yang diambil oleh anak harus dapat dipertanggungjawabkan. Adapun dampak dari pola asuh demokrasi ini adalah anak cenderung lebih mandiri, tegas terhadap diri sendiri, mampu introspeksi diri dan mengendalikan diri, mudah bekerja sama secara sinergis dengan orang lain, serta ramah terhadap orang lain,  mudah bergaul dengan lingkungan sekitar. Pada masa kini orang tua harus bijaksana dalam mengasuh anak, karena anak zaman sekarang tantangan dan keadaan zamannya sudah berbeda dengan kondisi dulu. Anak zaman sekarang  dipengaruhi kemajuan teknologi.

 

Pola Asuh Otoriter

Pola Asuh otoriter ditandai dengan orang tua yang melarang anaknya dengan mengorbankan kebebasan anak. Pola asuh otoriter adalah pola asuh yang sifatnya memaksakan. Biasanya orang tua yang menerapkan pola asuh ini cenderung memiliki standar atau target yang harus dicapai oleh anaknya. Selain itu, orang tua sering memaksa, memerintah, dan menghukum anaknya serta tidak mengenal kompromi. Orang tua tidak menyadari bahwa pola asuh yang dipakai akan bersifat fatal dikemudian hari, bahkan akan membuat masalah makin rumit. Meskipun dengan pola asuh ini anak memiliki kompetensi dan tanggungjawab yang cukup, namun dia tidak berani untuk bersosial, kurang spontan dan kurang percaya diri. Akan lebih rumit lagi jika pola asuh ini diterapkan pada anak laki-laki. Hal tersebut akan beresiko pada perilaku antisosial, agresif, impuls dan perilaku maladaptif lainnya, misalnya membunuh, mencuri, narkoba dan lain sebagainya.

 

Pola Asuh Memanjakan Anak

Pola pengasuhan ini kebalikan dari pola asuh Otoriter. Jika pola asuh otoriter semua kebijakan ada ditangan orang tua, pada pola asuh permisif semua kebijakan berada di tangan anak. Orang tua tidak berani menegur anak, mereka hanya beranggapan bahwa semua yang anak kerjakan adalah benar. Hal tersebut terjadi karena orang tua tidak ingin mengecewakan anak dan membuatnya menangis. Biasanya pola asuh ini terjadi pada orang tua yang sudah lama menunggu kehadiran sang anak. Anak dengan pengasuhan ini cenderung lebih energik dan responsif dibandingkan pola asuh yang otoriter. Namun mereka tampak manja, impulsif, mementingkan diri sendiri dan kurang percaya diri (cengeng). Adapaun kelebihan dari pengasuhan ini adalah orang tuanya bersifat hanga sehingga disenangi oleh anak.

 

Pola Asuh Membiarkan Anak

Pola suh ini merupakan pola asuh yang mana orang tua tidak mau tahu dengan perkembangan anak, bergaul dengan siapa, dimana keberadaannya, dan sedang apa. Biasanya pola asuh ini  diterapkan oleh orang tua yang sama sekali tidak mengharapkan kehadiran anak tersebut, sehingga orang tua lebih mementingkan kepentingannya sendiri. Anak tersebut akan lebih berpotensi terlibat dalam penggunaan obat-obatan terlarang (narkoba) dan tindakan kriminal lainnya. Dengan beberapa pola asuh di atas, orang tua pastinya sudah mempunyai gambaran pola asuh apa yang akan digunakan, serta dampak apa yang akan di dapatkan. Jika masih bingung pola asuh apa yang akan digunakan, maka ambillah salah satu pola asuh yang sesuai dengan keadaan anak yang sekiranya tidak memberatkannya dan harus membawa kebaikan kepadanya. Pilihan pola asuh orang tua adalah penentu masa depan anak. Apabila orang tua salah mendidik, maka anak akan tumbuh menjadi orang yang tidak sesuai harapan kedua orang tuanya. (***).

Related posts