Pendidikan Kreatif, Solusi Atasi Pengangguran Akademis

  • Whatsapp

Oleh: Leny. S.Pd
Pendidik SMA Negeri 1 Merawang, Kabupaten Bangka

Dilihat dari historinya, pendidikan di Indonesia mengikuti sistem pendidikan Belanda yang mana jenjang pendidikan menengah terdiri dari sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas umum maupun kejuruan (SMA/SMK). Umumnya masing-masing jenjang menengah diselesaikan dalam waktu tiga tahun. Idealnya siswa memasuki jenjang pendidikan menengah pertama (SMP) pada usia 12 tahun dan memasuki jenjang menengah atas (SMA/SMK) pada usia 15 tahun. Kemudian mereka akan memasuki perguruan tinggi atau dunia kerja pada kisaran usia 18 tahun.

Lulusan sekolah menengah atas yang kemudian melanjutkan studi ke perguruan tinggi mungkin dapat menyelesaikan persoalan pengangguran bagi lulusan jenjang ini. Namun faktanya, berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), pada Bulan Agustus 2018 persentase jumlah pengangguran lulusan jenjang menengah adalah persentase terbesar yaitu di angka 19,36% sangat jauh melampaui dari persentase pengangguran lulusan universitas yang hanya sebesar 5,89%. Lantas, bagaimana seharusnya sekolah membekali siswa agar apabila lulusannya tak melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi tak lantas menjadi pengangguran akademis?

Hal yang paling rasional dapat direalisasikan segera tentunya dengan mengubah mindset para stakeholder sekolah. Di sini sekolah bukan hanya mencetak lulusan yang memiliki ilmu pengetahuan maupun keterampilan yang dapat dipergunakan untuk mencari pekerjaan / job seeker saja, namun sekolah juga memiliki tanggung jawab untuk membangkitkan jiwa kreatif dan inovatif, menumbuhkan mental wirausaha serta jeli melihat peluang sehingga lulusan jenjang menengah atas mampu menjadi lulusan yang mencetak job creation / lapangan kerja sehingga permasalahan pengangguran ini dapat diselesaikan secara integratif dan substantif bukan secara superfisial (permukaan).

Yang harus kita sadari, kreatif bukanlah suatu keniscayaan yang diturunkan secara genetik. Orang-orang kreatif itu pada dasarnya adalah orang-orang biasa sama seperti manusia pada umumnya. Penulis teringat dulu ada seorang usahawan di Pangkalpinang mengembangkan bisnis air minum dalam kemasan yang kala itu usaha tersebut tidak populer untuk dibisniskan. Bahkan banyak yang menyangsikan usahanya bakal menuai sukses. Tak sedikit pula yang meragukan dan menganggap aneh usaha yang tidak umum ini. Bukan tanpa alasan mereka menganggap remeh bisnis ini, ibu pertiwi adalah negeri yang tanahnya subur dengan curah hujan yang tinggi, negeri dimana belum pernah terjadi kelangkaan air minum bahkan air minum dapat diminta dengan mudah dan gratis ketika berkunjung ke rumah siapa saja.

Namun, nyatanya inilah yang dinamakan kreatif. Usahawan tersebut jeli melihat peluang dengan respon yang melebihi respon orang-orang kebanyakan. Lihat saja sekarang, banyak sekali bermunculan usaha sejenis dan menjadi follower setelah usahawan tersebut membuktikan dengan keberhasilan bisnis air minum dalam kemasan memang memiliki masa depan yang cerah. Kemudian setelah semakin banyak pengusaha dengan bisnis sejenis, disitulah strategi inovatif harus di kais. Dengan produk yang sama, namun memiliki keunggulan dibandingkan yang lain, entah itu berinovasi dalam kemasan atau packagingnya, dapat pula menambahkan manfaat lebih dari kandungan yang terdapat dari produk, dan sebagainya.

Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana sekolah menciptakan lulusan yang memiliki sense of creativity and innovation sehingga mampu menciptakan lulusan yang membuka lapangan kerja / job creation bukan hanya sebagai job seeker / pencari kerja? Pertama, harus dilakukan penyegaran visi misi dan budaya di sekolah berbasis kreativitas dan inovatif didukung penuh oleh semua stakeholder utamanya kepala sekolah. Dan sekolah yang hebat bukan karena kurikulumnya yang hebat, kurikulum sekolah-sekolah di Indonesia utamanya yang negeri tentulah sama, tetapi visi sekolah yang luar biasa dijabarkan pencapaiannya dalam misi yang terukur dan budaya sekolah yang sarat motivasi dalam berkreasi dan berinovasi tentu akan menghasilkan lulusan yang extraordinary. Visi misi dan budaya sekolah itu adalah penggerak sekolah hendak dibawa kemana. Ibarat energi, visi misi dan budaya sekolah yang luar biasa akan menghasilkan energi yang luar biasa pula. Energi yang mampu membangkitkan motivasi dan menggerakan energi-energi yang berada dilingkungannya.

Kedua mata pelajaran yang diajarkan tidak hanya bersifat teoritis tetapi juga aplikatif dengan menyertakan penggunaan teknologi yang berkembang saat ini. Menjadi kreatif berarti membiasakan gaya hidup kreatif dalam kehidupan sehari-hari seperti suka mengamati, suka mencoba, dan suka mencari solusi dengan lebih dari satu alternatif solusi. Dalam salah satu sesi Talk Show Kick Andy yang ditayangkan oleh salah satu stasiun TV, terbukti sejumlah guru mampu menggunakan kreativitas mereka dalam membuat alat bantu pembelajaran berbasis teknologi, padahal guru-guru tersebut bukan berlatar belakang IT seperti Guru SMAN 1 Prembun, Kebumen, Jawa Tengah yang menciptakan gamelan virtual karena perangkat gamelan sesungguhnya berharga mahal. Begitu pula dengan Guru SMAN 2 Madiun, Jawa Timur yang menciptakan animasi virtual berkaitan dengan mata pelajaran yang diampunya, Fisika.

Bisakah kreatif menjadi budaya di sekolah? Tentu bisa. Karena siapapun bisa menjadi kreatif tak terkecuali para guru, asalkan mengaktifkan kemauan menjadi pribadi yang kreatif tentu didampingi oleh organisasi sekolah yang siaga dalam menyelesaikan hambatan dan masalah dalam pelaksanaannya. Meminjam kata dari praktisi pendidikan Hudaya Latuconsina “selama kita kreatif pasti akan selalu ada cara-cara kreatif untuk menjadikan anak-anak kita kreatif”. Eureka……(***).

Related posts