Pendidikan Kepemimpinan dalam Islam

No comment 113 views

Oleh: Ucu Kausariah
Mahasiswi STAIN SAS BABEL

Baginda Nabi Besar Muhammad Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallampernah bersabda, “Sebaik-baik pemimpin kalian, ialah mereka yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian; mereka mendo’akan kalian dan kalian pun mendo’akan mereka. Seburuk-burukpemimpin kalian ialahmereka yang kalian bencidanmereka pun membenci kalian; kalian melaknatmereka, danmereka pun melaknat kalian.”

Menjadi seorang pemimpin sudah sepantasnya seorang muslim mencontoh kepemimpinan Baginda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam.Kepemimpinan Rasulullah tidak dipungkiri lagi untuk diteladani, karena beliau langsung mendapat bimbingan dari Allah dan sebagai manusia yang ma’sum. Selain Rasulullah, tauladan yang bisa kita ikuti yaitu kepemimpinan Khalifah yang empat, yaitu Syaidina Abu Bakar Ash-Shiddiq, ‘Umar ibn al-Khaththab, Utsman ibn ‘Affan, dan Ali ibn Abi Thalib yang telah dijanjikan sebagai kepemimpinan yang mengikuti manhaj kenabian. Kepemimpinan mereka juga menjadi dasar ijma’ shahabat atau dalil syar’i dalam Islam baik dalam fiqih kepemimpinan maupun fiqih Islam lainnya.

Sebagaimana hadist di atas yang lengkapnya diriwayatkan di dalam kitab Imam Muslim yang menyatakan: Kami diberitahu oleh Ishaq Bin Ibrahim Al Handhali: Kami diberitahu oleh Isa Bin Yunus: Kami diberitahu oleh Al Auza’i dari Zaid Bin Yazid dari Jabir, dari Zariq Bin Hayyan, dari Muslim Bin Qurthah, dari Auf Bin Malik, dari Rasulullah saw. yang bersabda, “Sebaik-baik pemimpin kalian, ialah mereka yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian; mereka mendo’akan kalian dan kalian pun mendo’akan mereka. Seburuk-burukpemimpin kalian ialahmereka yang kalian bencidanmereka pun membenci kalian; kalian melaknatmereka, danmereka pun melaknat kalian.”DitanyakankepadaRasulullah: “WahaiRasulullah, tidakkahkitaperangisajamerekaitu?” Beliaumenjawab: “Jangan, selamamerekamasihmenegakkanshalat (hukum Islam) di tengah-tengahkamusekalian. Apabila kalian melihatsesuatu yang kalian bencipadaparapemimpin kalian, makabencilahperbuatannyasaja, danjangansekali-kali melepaskantangandariketa’atankepadanya.”

Mari kita didik diri kita sebagai Khalifah di muka bumi dengan kepemimpinan berpegang teguh pada Syariah Islam. Karena setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap yang dipimpinnya. Kepemimpinan diri sendiri akan dimintai pertanggungjawaban atas penggunaan anggota tubuh kita; kepemimpinan kepala keluarga akan dimintai pertanggungjawaban atas seluruh anggota keluarga (seluruh anak dan istri); begitu juga kepemimpinan terhadap rakyat, semakin tinggi jabatan di emban, maka semakin banyak rakyat yang kita pimpin. Dan semua rakyat akan menuntuk kepemimpinan pemimpinnya.

Hari ini, sulit ditemukan bahkan tak tampak lagi di negeri manapun di muka bumi ini yang pemimpin tersebut dicintai umatnya. Yang ada bahkan sang penguasa negeri mendzalimi rakyatnya dengan memeras keringat rakyatnya untuk membiayai negara kemudian sang penguasa pun menghambakan dirinya dan menyerahkan negerinya untuk tuannya. Demi memenuhi keinginan tuannya sang penguasa pun rela menerapkan hukum-hukum tuannya, dan kadang hingga menyalahi hukum-hukum Tuhannya. Rakyatpun membalas dengan mem-bully penguasanya di media sosial dengan cara-cara yang tak pantas malah juga hingga menyalahi syariat-Nya.

 

Pemimpin yang Dicintai

Seorang pemimpin yang dicintai rakyatnya akan selalu takut kepada Allah bila diingatkan atas pelanggaran syariah Islam. Maka sudah sepatutnya yang dipimpin menunjukkan kecintaannya kepada seorang pemimpin dengan menjaga sikap pemimpin agar selalu terikat syariah Islam. Bila kepemimpinan menyalahi syariah, lakukan muhasabah kepada pemimpin dan adab pemimpin kembali terikat kepada Islam. Hal ini sebagaimana yang dilakukan shahabiyah ketika Khalifah kedua, Amiirul mu’minin Syaidina ‘Umar ibn Al-Khaththab ra mengeluarkan Perppu tentang Mahar.

Situasi mendesak ketika itu di Madinah, dimana banyak shahabat yang miskin sulit menikah karena mahar yang ditetapkan kaum muslimah yang sangat tinggi. Melihat situasi seperti itu kemudian sang Khalifah menetapkan Perppu dengan membatasi Mahar seusai shalat. Kemudian rakyatnya langsung berdiri mengkritisi Perppu tersebut, karena telah menyalahi syariah dimana mahar telah Allah tetapkan merupakan hak prerogatif rakyatnya. Jadi, Perppu Khalifah menyalahi ketentuan syariah. Amirul mu’minin pun langsung menyadari kesalahannya yang kemudian serta merta seketika itu mencabut Perppu tersebut, sehingga beliau batalkan sendiri tanpa menunggu keputusan Hakim ataupun Majelis Umat (wakil rakyat).

Wajarlah kepemimpinan para shahabat menjadi syariah untuk diteladani. Mereka memenuhi syarat sebagai pemimpin yang baik sebagaimana hadist di atas. Para Khilafah sungguh dicintai rakyatnya sebagaimana mereka mencintai rakyatnya. Mereka pun selalu didoakan rakyatnya sebagaimana mereka pun mendoakan rakyatnya hingga Rasulullah SAW menjelang ajalnya masih memikirkan rakyatnya. Mereka selalu memberikan yang terbaik buat rakyatnya dengan selalu berpegang teguh pada Syariah-Nya. Ketika mereka mengeluarkan kebijakan yang menyalahi syariah-Nya, kemudian diingatkan rakyatnya maka segera mereka cabut kebijakan tersebut.

Kepemimpinan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam juga pernah dilakukan koreksi (muhasabah) oleh rakyatnya ketika beliau memberikan izin tambang garam kepada seseorang. Tambang tersebut ternyata memiliki deposit yang melimpah yang harusnya hal tersebut menjadi milik umat. Kemudian shahabat menyadari kekeliruan tersebut langsung mengkritisi kebijakan tersebut yang kemudian langsung Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallammencabut izin tambang tersebut.

 

Pemimpin Terikat Syariah

Sudah lama kita merindukan kepemimpinan yang baik, amanah, adil dan tidak dzalim. Sejak kemerdekaan Republik Indonesia di Proklamirkan, telah disusun Piagam Jakarta yang mengamanahi pemimpin menerapkan Islam kepada kaum muslimin. Aturan yang benar kemudian diganti dan tak jadi diberlakukan. Perjuangan rakyat agar para pemimpin bangsa ini terikat syariah-Nya terus dilakukan. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’alatelah menetapkan tugas para pemimpin sebagaimana firman-Nya, “Dan hendaknya kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah.” (TQS. Al Maidah: 49). “Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili di antara manusia dengan apa yang Allah wahyukan kepadamu.” (TQS. An-Nisa’: 105).

Di dalam dua ayat di atas jelas sekali tugas para pemimpin kaum muslimin, yaitu memutuskan perkara dan menerapkan sebagaimana yang Allah SWT turunkan yaitu berpegang teguh pada dalil Syar’i (Al-Qur’an, Al-Hadist, Ijma’ Shahabat dan Qiyas). Penguasa harusnya mewajibkan apa yang telah Allah wajibkan dan mengharamkan apa-apa yang telah Allah haramkan, bukan malah sebaliknya. Selain kedua ayat di atas, sangat banyak ayat-ayat yang lain yang menegaskan perkara yang sama untuk mengingatkan penguasa agar menjadi pemimpin yang baik.

Kehidupan kaum muslim baik di bumi nusantara maupun belahan bumi yang lain, telah terjadi kemerosotan baik dari pemikiran maupun kehidupannya. Seorang muslim yang memanggul amanah sebagai seorang penguasa sudah waktunya untuk kembali kepada aturan Allah. Indonesia sebagai negeri mayoritas muslim; negeri yang dipimpin oleh individu muslim; tiada hujjah dihadapan Allah kecuali mereka memimpin dengan berpegang teguh kepada syariah Islam untuk mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

Khatimah

Melalui tulisan ini, kami serukan kepada seluruh kaum muslim yang memangku jabatan Pemimpin, jadilah pemimpin yang mencintai rakyatnya, sehingga rakyatpun mencintai kalian. Doakan rakyatmu, sehingga rakyatpun pasti akan mendoakan kalian. Terapkanlah aturan Allah sehingga tak terjadi saling laknat antara para pemimpin dan yang dipimpin.

Keteladanan kepemimpinan dalam Islam, belajarlah dari kepemimpinan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalallam dan para Shahabat yang memiliki keutamaan. Tidaklah aturan manusia bisa menjadi hujjah diakhirat, hanya Syariah Allahlah yang berlaku untuk mengadili seluruh manusia. Apalagi pemimpin yang memimpin banyak rakyat, maka hawatirlah akan hisab atas kepemimpinan tersebut. sehingga di akhirat nanti kita bisa saling memberi syafaat agar selamat dar azab neraka Jahannam.Wallâhua’lam bi ash-Shawâb..(****).

 

No Response

Leave a reply "Pendidikan Kepemimpinan dalam Islam"