Penanganan HIV/AIDS Berbasis Masyarakat

No comment 265 views

Alghi Fari Smith, SST
Social Worker

Alghi Fari Smith, SST

Pembaca yang budiman, tanggal 1 Desember 2017 kemarin, merupakan hari peringatan AIDS sedunia. Penetapan tanggal ini, pertama kali disepakati pada pertemuan Menteri Kesehatan sedunia tahun 1988, yang saat itu membahas program-program pencegahan AIDS.
Tema nasional peringatan hari AIDS sedunia tahun ini, yaitu “Saya berani, saya sehat”.
Tema ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian seluruh masyarakat terhadap HIV/ AIDS dengan cara melakukan tes HIV serta bila hasilnya positif dilanjutkan dengan pengobatan ARV.

Negara Indonesia merupakan salah satu negara di Asia yang mengalami epidemi HIV. Prevalensinya meningkat tajam dan belum menunjukkan penurunan signifikan meskipun dilakukan berbagai upaya penanggulangan. Indonesia bagian dari dunia internasional berperan aktif bersama negara lain mewujudkan pencapaian tujuan pembangunan kesehatan dalam MDG’s. Tujuannya, yaitu terselenggaranya pembagunan yang berhasil guna dan berdaya guna dalam upaya mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.

Jumlah pengidap HIV/AIDS bak fenomena gunung es, berdasarkan data dari Ditjen P2MPL-Depkes RI Subdit AIDS dan PMS, hingga akhir septembel 2006 silam tercatat 11.604 kasus HIV/AIDS padahal jumlah sebenarnya bisa lebih dari angka tersebut.
Menurut Prof . Dr. Zubairi Djoerban yang merupakan Ketua Masyarakat Peduli AIDS Indonesia saat itu memperkirakan sudah 200 ribu kasus dan ia menegaskan telah terjadi ledakan HIVAIDS
di Indonesia.

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dr. H.M. Subuh menuturkan sampai dengan November 2017, ditemukan kurang lebih 220.000 orang dengan HIV/AIDS.
Pembaca yang budiman, tahun 2006 saja diprediksi jumlah sebenarnya 200.000 jiwa, apalagi jumlah yang sebenarnya untuh tahun ini. Fakta tersebut sangat mengkhawatirkan, tentu jumlah yang sebenarnya (yang tidak tercatat) untuk tahun 2017 jauh lebih besar lagi.

Epidemi HIV/AIDS seringkali dianggap sebagian masyarakat sebagai masalah (penyakit) medis (kesehatan) saja tanpa ada pembahasan tentang faktor moral (perilaku) dan agama
di dalamnya. Padahal sejatinya, HIV/AIDS merupakan jenis penyakit disebabkan karena perilaku yang menyimpang. Inveksi HIV/AIDS pertama kali ditemukan di kalangan gay San Fransisco tahun 1978. Kasus HIV/AIDS pertama kali ditemukan di Denpasar, Bali. Penyakit ini ditemukan pada seorang turis Belanda dengan kecenderungan homoseksual yang kemudian meninggal
pada April 1987.

Laporan survey CDC Desember 2002 mengungkap beberapa pola penularan HIV/ AIDS ke seluruh dunia. Pola pertama, ditemukan pada kalangan homoseksual, biseksual dan pecandu obat bius. Ini terjadi di Amerika Utara Eropa Barat, Australia, New Zealand dan sebagian Amerika. Hingga akhir tahun 2005 di Amerika Serikat, tansmisi melalui kontak seksual tetap menempati urutas teratas. Pola kedua, yaitu ditemukan di kalangan heteroseksual dan ini terjadi di Afrika Tengah, Afrika Selatan, Afrika Timur dan beberapa daerah Karibia. Kasus AIDS pada daerah ini sejalan meningkat dengan adanya perubahan sosial dan maraknya industri prostitusi.

Pembaca yang budiman, data ini secara langsung mengonfirmasi bahwa seks bebas dengan berbagai variannya merupakan faktor penyumbang meningkatnya jumlah pengidap HIV/AIDS. Faktor lain yang menjadi penyebab, yaitu pertama ganasnya serangan “virus” sekulerisme (sebuah paham yang memisahkan antara agama dan kehidupan). Virus ini menyebabkan seseorang tidak berpikir waras, bersikap dan berprilaku melabrak semua nilai
dan norma yang berlaku di tengah masyarakat terutama ajaran agama (Islam). Standar berpikir, bersikap dan berprilaku disandarkan pada mashlahat (nafsu) tidak bersandar pada apakah perbuatan itu halal atau haram, dibolehkan atau tidak dalam agama yang diyakini.

Kedua, kurangnya pemahaman fakta dan informasi berkenaan dengan HIV/AIDS, sehingga tidak sedikit yang terjerusmus ke dalam penyakit yang mengerikan ini.
Ketiga, lemahnya ketahan keluarga dalam melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap anggota keluarganya. Keempat di karenakan lemahnya kontrol sosial masyarakat terhadap kecenderungan meningkatnya angka pengidap HIV/AIDS. Kelima kurang maksimalnya peran pihak yang memiliki otoritas dalam pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS.

Pembaca yang budiman, kali ini penulis akan paparkan bagaimana solusi atas permasalahan di atas. Pertama, untuk membentengi diri dari ganasnya virus sekulerisme,
setiap individu henaknya mulai menumbuhkan semangat yang tinggi untuk belajar agama (Islam) dengan baik dan benar. Rem (kontrol) pertama seseorang untuk tidak melakukan perbuatan menyimpang sesungguhnya ada di dalam diri setiap individu, yaitu bernama iman dan takwa. Dengan modal ini, seseorang bisa membedakan mana perbuatan yang boleh dilakukan dan mana yang tidak, serta mana yang bernilai pahala dan yang bernilai dosa.

Kedua, kita harus memperbanyak referensi bacaan dan bertanya kepada ahlinya
(baca: pakar tentang HIV/AIDS) untuk memperkaya pengetahuan tentang apa itu HIV/AIDS, bagaimana cara penularannya dan bagaimana dampak terkena HIV/AIDS serta solusi atas persolan tersebut. Berikut ini penulis paparkan informasi umum berkenaan HIV/AIDS. Pengertian HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus penyebab AIDS, sedangkan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah sindrom/ gejala menurunnya kekebalan tubuh yang disebabkan oleh virus HIV.

Penularan HIV/AIDS melalui tiga cairan, yaitu lewat cairan darah (contoh transfusi darah dan ibu hamil ke anaknya yang berada dalam kandungan), air susu ketika sang ibu menyusui anaknya, lewat cairan sperma dan vagina melalui hubungan seksual. Selain itu juga, penyakit ini bisa menular melalui perantara alat seperti jarum suntik, jarum tato, tindik, pisau cukur dan lain sebagainya yang telah bersinggungan dengan orang yang positif HIV. Virus ini tidak menular melalui gigitan serangga dan media udara. Virus ini akan cepat mati jika berada di luar tubuh.

Seseorang dengan HIV yang belum masuk fase kondisi AIDS, tidak dapat dikenali dengan melihat secara kasat mata. Mereka akan terlihat normal seperti orang sehat lainnya dan mungkin dia sendiri tidak tahu bahwa dirinya mengidap HIV. Oleh karenanya cara yang aman, yaitu sebaiknya melakukan tes HIV. Apabila seseorang positif kena HIV/AIDS, berbagai penyakit akan mudah menjangkitinya seperti TBC, penyakit kelamin (sipilis, raja singa) herpes dan lain sebagainya.

Pembaca yang budiman, sejak tahun 1994 hingga sekarang, salah satu solusi untuk menekan angka HIV/AIDS, yaitu dengan mengkampanyekan pemakaian kondom saat berhubungan seks dengan pasangan. Padahal di Amerika Serikat, kampanye kondom yang dilaksanakan sejak tahun 1982 telah gagal bahkan menjadi bumerang. Prof. Dr.dr. Dadang Hawari berkata, “Saya bisa pastikan salah besar! Kondom dibuat dari latex, berarti berserat berpori-pori 1/60 mikron. Kondom dirancang untuk keluarga berencana, untuk mencegah sperma. Ukuran virus di banding sperma 1/450 kali lipat. Jadi, virus HIV sangat kecil sekali dibandingkan sperma..” Ia juga menyebutkan penelitian lain, “Di Amerika, 1/3 jumlah kondom yang beredar di pasar bocor. Kesimpulan dari penelitian dari badan POM di Amerika tahun 2005, tidak dikampanyekan lagi kondom karena mulai gagal. Kondom untuk sperma bukan untuk virus HIV yang sangat kecil,” pungkasnya.

Setelah kita memahami fakta dan informasi tentang HIV/AIDS, langka ketiga yang bisa dilakukan sebagai solusi yaitu memperkuat ketahanan keluarga. Keberfungsian sosial anggota keluarga terutama orang tua dapat menjadi benteng dari HIV/AIDS. Orang tua berperan penting mengajarkan agama (Islam) kepada anak-anaknya agar terhindar dari seks bebas yang menjadi penyebab rentan terkena HIV/AIDS.

Orang tua mengajarkan anak-anaknya untuk tidak mendekati zina, tidak berkhalwat (berduaan dengan yang bukan mahrom dalam hal ini sering disebut pacaran), tidak berikhtilat (campur baur antara laki dan perempuan yang bukan mahrom), selalu menutup aurat, memalingkan pandangan dari aurat dan lain sebagainya. ”Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”
QS. Al Isra’: 32. Selain itu juga, orang tua harus memberikan perhatian, kasih sayang dan menciptakan kondisi rumah yang ramah anak sehingga sang anak tidak mencari kebahagiaan dari orang lain (baca:pacaran).

Langkah keempat, yaitu dengan memperkuat kontrol sosial masyarakat. Caranya, yaitu dengan membentuk masyarakat peduli orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Komunitas ini nantinya dibekali dengan pengetahuan tentang seputaran HIV/AIDS dan keterampilan dalam melakukan aksi sosial bersama ODHA dan masyarakat setempat. Langkah ini sudah dilaksanakan di Jakarta Timur, sebanyak 80 warga peduli AIDS (WPA) dikukuhkan dalam acara peringatan HIV/AIDS sedunia 2017 yang bertepat di Walikota Jakarta Timur.

Bambang Musyawardana selaku Wali Kota Jakarta Timur mengatakan bahwa puluhan warga ini diupayakan dapat memberikan sosialisasi kepada masyarakat agar menghindari perbuatan yang rentan terkena HIV/AIDS. Program ini beliau rancang dengan melibatkan semua elemen termasuk masyarakat di dalamnya dengan berkolaborasi dengan unsur pemerintah setempat. “Jadi camat dan lurah dapat membina dan mendampingi tugas WPA yang telah dibentuk. Sehingga kemitraan yang strategis dengan semua pihak terkait dapat memastikan upaya penanggulangan berjalan dengan lebih efektif, terpadu, menyeluruh dan saling mendukung..” tuturnya.

Masyarakat dibekali dengan pengetahuan bahwa ODHA tidak boleh di bully
dan didiskriminasi. Hal ini berpotensi justru mereka sulit untuk bersosialisasi dan teralieniasi dari lingkungan. Efek terburuknya bukannya mereka semangat menjalani hidup justri mereka malah berpikiran untuk bunuh diri karena semua orang sudah tidak menerima keberadaannya atau yang lebih mengerikan mereka malah berpikiran untuk menyebarkan virus tersebut kepada orang lain sebagai bentuk balas dendam. Padahal di dalam Islam ini dilarang, sabda Rasulullah Saw yang artinya: “Sekali-kali janganlah orang yang berpenyakit menularkan kepada yang sehat” (HR Bukhori).

Masyarakat dibekali tentang keterampilan bagaimana membangun komunikasi dan relasi yang efektif kepada ODHA. Ini menjadi modal dasar untuk membangun kepercyaan kepada mereka. Dengan kepercayaan tersebut, masyarakat bisa menguatkan ODHA untuk terus semangat dalam menjalani kehidupan, mengondisikan agar ODHA rutin kontrol kesehatan dan mengonsumsi obat dan agar ODHA tidak kembali melakukan seks bebas yang merupakan pintu masuk tersebarnya virus terebut. Masyarakat pun dapat secara langsung berpartisipasi megnurangi HIV/AIDS dengan berinisiatif untuk melakukan tes HIV sebagaimana tema hari AIDS sedunia tahun 2017, “Saya berani, saya sehat.”

Pembaca yang budiman langkah yang terakhir adalah dengan memperkuat kewenangan pihak yang bertanggung jawab atas urusan rakyat. Seringkali seks bebas yang merupakan pintu masyk tersebarnya HIV/ AIDS muncul karena maraknya rangsangan-rangsangan syahwat baik dari sinetron atau tayangan, iklan pornografi pornoaksi baik di media cetak maupun elektronik. Maka dalam hal ini semua tayangan tersebut harus ditutup dan dilarang peredarannya. Selain itu juga, harus ada larangan tegas terhadap operasional diskotik, pelacuran, peredaran miras, narkoba dan lain sebagainya karena ini juga termasuk faktor pemicu.

Harus ada sanksi yang tegas dan memberikan efek jera terhadap para pezina apapun bentuknya, baik dari kalangan homoseksual (gay/lesbian) maupun heteroseksual (biseksual). Di dalam Islam, pelaku zina muhshan (sudah menikah) dirajam, sedangkan pezina ghoiru muhshan dicambuk 100 kali dan diasingkan selama satu tahun. Adapun pelaku homoseksual dihukum mati; dan penyalahgunaan narkoba dihukum cambuk.

Para pegedar dan pabrik narkoba diberi sanksi tegas sampai dengan mati. Semua fasilitator seks bebas yaitu pemilik media porno, pelaku porno, distributor, pemilik tempat-tempat maksiat, germo, mucikari, backing baik oknum aparat atau bukan, semuanya diberi sangsi yang tegas dan dibubarkan.Sanksi diterapkan dengan tegas setelah pembinaan dilakukan kepada mereka dilakukan. Inilah fair-nya Islam, di satu sisi melakukan pembinaan terhadap umat,
di sisis lain, penegakan sanksi apabila selama dibina masih melakukan maksiat.

Bagi ODHA, pihak yang berwenang harus melakukan pendataan dengan akurat dikarenakan akan mempengaruhi penanganan terhadap ODHA itu sendiri. ODHA berhak mendapatkan hak-hak dasar hidupnya (sandang, pangan, papan) bahkan mereka di dalam Islam diberikan pengobatan gratis, memberikan santunan selama rehabilitasi, diberikan akses pendidikan, peribadatan dan keterampilan. Kesimpulannya, kelima tahapan solusi tersebut harus dilaksanakan secara terintegrasi dan berkelanjutan. Demikian paparan yang penulis sampaikan, semoga bermanfaat. Wallahu’alam [****].

No Response

Leave a reply "Penanganan HIV/AIDS Berbasis Masyarakat"