Pemudalah yang Harus Memperbaharui

Tidak ada komentar 132 views

Oleh: Andi Saputra
Mahasisa Sosiologi FISIP UBB /Ketua PRM Bangka Barat

Andi Saputra

Indonesia merupakan Negara kepulauan yang berserakan pulau terpisah secara geografis, namun bersatu dalam Ideologi. 72 tahun Indonesia merdeka dari penjajahan Belanda dan Jepang. Jika flashback ke 72 tahun yang silam, Indonesia berada dikegentingan yang sangat amat dahsyat. Pribumi jadi budak ditanahnya sendiri, pendidikan adalah hal yang langka, kemiskinan adalah hal biasa, kekerasan ada dimana-mana, itulah gambaran Indonesia 72 tahun yang silam.
Indonesia Merdeka tidak secara instant, merdeka bukan karena hadiah, tapi Indonesia bisa Merdeka karena perjuangan yang tak kenal lelah. Berkat Rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa serta perjuangan para pendiri bangsa, para ulama, tokoh nasionalis dan Pemuda, akhirnya Indonesia bisa merdeka. Tentu, untuk mencapai suatu kebebasan (Merdeka) bukanlah hal yang mudah. Para pejuang bangsa dan Pemuda kala itu, bukan hanya mengorbankan waktu, bahkan harta dan nyawapun mereka korbankan untuk mencapai kemerdekaan dengan cita-cita agar penerus bangsa Indonesia dapat menggarap sawah, dapat berniaga, dapat menjalankan segala aktivitas tanpa harus membayar upeti, dapat belajar tanpa harus takut untuk ditembak. Dengan persatuan dan kesatuan yang kuat antara tokoh Nasionalis, Ulama, serta Pemuda kala itu, sehingga mereka bisa mengusir para penjajah dari Tanah Air tercnta.
Pemuda kala itu, dapat bersatu padu, saling menghomati, saling mendukung walau berbeda suku, ras, agama. Hal itu dapat terbukti walaupun mereka berbeda suku ada Pemuda yang dari jawa jong java, dari Sulawesi jong Celebes, Sumatera sumateranan bond dan lain sebagainya, berbeda pulau namun dapat bersatu demi kepentingan bersama dibuktikan dengan adanya sumpah Pemuda. Mereka dapat bersatu dapat bertemu bukan karena group whatsapp, bbm, twitter ataupun facebook dan media sosial lainya. Mereka dipertemukan karena semangat untuk meraih kemerdekaan.
Jika Pemuda dulu dapat meneriakan merdeka dengan lantang, tak takut akan lawan, menjaga persatuan, peperangan melawan penjajah sudah mendarah daging, keberjayaan, keberanian, ketanguhan mereka mampu untuk menumpas tirani kebatilan mampu mengusir penjajah dari bumi pertiwi. Lantas bagaimana dengan Pemuda sekarang? Bisakah Pemuda sekarang meneruskan perjuangan mereka, apakah perjuangan Pemuda kini yang mereka lakukan sebanding dengan perjuangan Pemuda dulu, apakah yang Pemuda kini asa kan sama dengan Pemuda dahulu.
Banyak Pemuda kini yang cenderung membuang waktunya dengan hal yang sia-sia ketimbang berkarya untuk mencapai cita. Berapa banyak Pemuda yang terjerat kasus Narkoba, pergaulan bebas, percobaan bunuh diri, tawuran, pencurian, balap liar, bahkan pemerkosaan dan masih banyak lagi. Sementara di satu sisi ada sebagian Pemuda yang memperjuangkan kebenaran dan cita, namun yang lain merusak citra Pemuda dengan melakukan hal yang tidak bermanfaat. Akankah Pemuda kini mampu membangun bangsa?
“Berikan aku seratus orang tua, maka akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku sepuluh Pemuda maka akan kugoncangkan dunia” (Ir.Soekarno). Bung karno begitu yakin dengan kekuatan Pemuda dan besar harapanya terhadap para Pemuda. Penulis yakin dan percaya, selagi ada Pemuda yang masih peduli akan nasib bangsa, yang mau berpikir keras berpikir cerdas untuk membuat Indonesia lebih hebat, maka disitu ada jalan buat Pemuda untuk menjawab tantangan bahwa Pemuda mampu membangun bangsa.
Toleransi harus dibangun dan dimulai dari Pemuda, saling menghormati dan berusaha menciptakan perdamaian sebagaimana pesan Bung Karno “Bangunlah suatu dunia dimana semua bangsa hidup dalam dan persaudaraan”. Mari para Pemuda bangkit, karena Indonesia juga diperjuangkan para Pemuda. Pemudalah yang harus memperbaharui Tanah Air Bangsa, gelorakan semangat 45 untuk Indonesia, untuk kita semua. Tanamkan dalam diri bahwa kita adalah bangsa yang kuat, bangsa yang besar, bangsa yang mampu mandiri tanpa bantuan pihak luar.
“Kita Bangsa Besar Bukan Bangsa Tempe, kita tidak akan mengemis, kita tidak minta-minta. Apalagi jika bantuan-bantuan itu di embel-embeli dengan syarat ini syarat itu!
Lebih baik makan gaplek tetapi merdeka, daripada makan bestik tapi budak.” (Bung Karno, Pidato HUT Proklamasi).(****).

Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Pemudalah yang Harus Memperbaharui"