by

Pemuda Sebagai Katalisator Revitalisasi Identitas Kultural Indonesia di Tengah Digitalisasi Kehidupan

-Opini-210 views

Oleh : Maulid Robiansyah

Maulid Robiansyah

Sejak berakhirnya perang dingin, dunia dilanda oleh suatu arus perubahan yang bersifat global. Pada mulanya wujud perubahan tersebut terlihat dalam perkembangan sistem informasi dan komunikasi dengan fenomena yang mempersingkat jarak didalam hubungan antara negara atau antar wilayah baik dalam arti ruang maupun waktu. Jelas sekali bahwa perkembangan yang demikian telah dimungkinkan oleh terjadinya kemajuan-kemajuan yang menakjubkan salah satunya bidang IPTEK. Seiring dengan kian pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dengan arus globalisasi yang semakin menyebar ke segenap penjuru dunia mengakibatkan eksistensi identitas kultural suatu bangsa semakin meredup di era modernisasi sekarang ini. Dalam konteks itu, globalisasi menjadi sebuah fenomena yang tak terelakkan (Scholte, 2001). Semua golongan, suka atau tidak suka, harus menerima kenyataan bahwa globalisasi merupakan sebuah ancaman besar bagi eksistensi budaya-budaya lokal.
Sebagai bagian dari tatanan global, meluapnya arus globalisasi juga terpampang nyata terjadi di negeri ini. Harus diakui, merasuknya nilai-nilai barat yang menumpang arus globalisasi ke kalangan masyarakat bukan tidak mungkin mengancam keberkahan budaya asli yang mencerminkan lokalitas khas daerah-daerah Indonesia. Inilah masalah terbesar budaya lokal di era kekinian. Ketika gelombang globalisasi menggulung daerah Indonesia, kekuatannya mampu menggilas budaya-budaya lokal. Menurut Saidi (1998), proses itu sudah berlangsung sejak dimulainya era liberalisasi Indonesia pada zaman Soeharto. Sejak zaman liberalisasi, budaya-budaya asing masuk Indonesia sejalan dengan masuknya pengaruh-pengaruh lainnya. Sementara, Wihelm (2000) berpendapat bahwa perusakan budaya dimulai sejak masa teknologi informasi seperti satelit dan internet berkembang. Sejak masa itu, konsumsi informasi menjadi tidak terbatas. Masa-masa haram untuk mengkonsumsi sesuatu ternyata menjadi halal begitu saja. Pemuda sudah mulai tergiur dalam buaian modernitas dan meninggalkan budaya keIndonesiannya. Dahulu, jauh sebelum globalisasi merekah, pemuda begitu bangga akan kesenian daerahnya, mempelajarinya, bahkan memperkenalkan dalam setiap festival daerah kepada pelancong-pelancong lokal maupun luar yang menganguminya. Kebalikannya, sekarang pemuda-pemuda begitu mencintai lagu dan tarian barat ketimbang mempelajari kesakralan budaya tradisionalnya sendiri. Ditambah lagi, pemuda sekarang cenderung konsumtif, hedonis, dan materialistik. Mereka lantas mengalami krisis identitas dan akibatnya meninggalkan the self untuk bergabung dalam the net. Inilah masalah terbesar dalam relasi globalisasi dan identitas Indonesia di era kekinian.
Indonesia merupakan salah satu pasar potensial bagi pencapaian tujuan homogenisasi global. Sebagai negara berkembang Indonesia menghadapi serbuan globalisasi terhadap identitas kultural. Modus dan skala globalisasi di masa ini memang telah berubah. Sekarang dunia mengalami resolusi 4T (Technology, Telecomunication, Transportation, Tourism) yang memiliki efek pendorong global dominan sehingga batas antar wilayah semakin kabur dan berujung pada terciptanya global village seperti yang pernah diprediksikan Marshall McLuhan (Saptadi, 2008). Situasi ini menyebabkan permasalahan pada pudarnya nilai-nilai identitas kultural suatu bangsa. Identitas kultural sebagai bagian khazanah dari kebudayaan sekarang ini juga ikut memperihatinkan. Bagaimana tidak kebudayaan lantas harus dipaksa untuk mengakomodasi pengaruh globalisasi.
Kebudayaan sendiri diartikan Bourdieu (Bourdieu dalam Soedarsono 1999) sebagai peta sebuah tempat, sekaligus perjalanan menuju tempat itu. Peta adalah aturan dan konvensi, sedangkan perjalanan adalah tindakan aktual. Di dalam peta itu terkandung keseluruhan pengertian, nilai, norma, ilmu pengetahuan dan keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, serta segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat (Eppink dalam Soedarsono 1999). Tak heran apabila Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi (dalam Soedarsono 1999) menyatakan bahwa kebudayaan merupakan sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Kuatnya penetrasi budaya yang terglobalkan menyebabkan sebagian orang merasa identitas aslinya telah usang karena tidak sejalan dengan globalisasi. Sebut saja, eksistensi bahasa Indonesia yang lahir sebagai peranakan dari kejayaan bahasa Melayu, dahulu masyarakat pribumi Indonesia begitu mengangungkan kiprahnya dalam rekam sejarah. Berbeda sekali dengan zaman pemilik jargon “now” ini, kedudukan bahasa Indonesia seakan ingin dilengserkan oleh penggunaan bahasa asing yang kian menjamur dan tidak dapat dipungkiri juga dicampuradukkan dengan penggunaan bahasa asing sehingga muncul kata-kata “didelay”, “disoundingkan” dan banyak kata campuran lainnya. Inilah permasalahan terbesar pada abad ini, Ketika globalisasi tidak terelakkan lagi, pemuda lantas melebur dalam buaian konsep modernitas yang kian salah arah.
WHO mendefinisikan pemuda sebagai “young people” dengan rentang usia 10-24 tahun, sedangkan usia 10-19 tahun disebut “adolescenea” atau remaja. Definisi yang kedua, pemuda adalah individu dengan karakter yang dinamis, bahkan bergejolak dan optimis namun belum memiliki pengendalian emosi yang stabil (Mulyana. 2011:12). Sebagai harapan bangsa, pemuda sudah sepatutnya menjadi garda terdepan dalam setiap tindakan keteladanan. Jejak sejarah mencatat bahwa rubik-rubik kobaran semangat ketika Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 diikrarkan, mencuatkan eksistensi pemuda pada zaman itu, Pemuda negara ini telah melahirkan tekad untuk bertanah air, berbangsa, dan berbahasa Indonesia. Bagaimana pula dengan semangat nasionalisme dan kepeloporan pemuda abad ini? inilah sekiranya pertanyaan yang mengambarkan potret pemuda yang selalu diagung-agungkan namanya sebagai agent of change. Menelisik pijakan globalisasi di bumi pertiwi sekarang ini, Arus globalisasi adalah keniscayaan yang tidak dapat dicegah, tetapi efeknya yang mampu mematikan identitas kultural harus dicegah.
Karena itu, pemuda sebagai warisan bangsa diharapkan dapat menjadi Katalisator eksistensi identitas kultural agar tetap hidup. Revitalisasi identitas kultural Indonesia perlu dilakukan secara berkala dengan berpartisipasi lebih dari biasanya dalam arakan budaya masyarakat, contohnya adalah pemuda dapat berperan aktif dalam membangun kearifan lokal melalui festival kebudayaan yang tidak hanya dilaksanakan diruang lingkup kampus melainkan ditengah-tengah masyarakat. Hal ini tentu bertujuan untuk mengobarkan kecintaan pada budaya atau produk lokal untuk terus hidup dalam benak setiap pemuda. Jauh seperti apa kita menerka globalisasi sekarang ini, dengan berbagai dampak nilai-nilai homogenisasi dalam segala bidang kehidupan yang terus menjamur. kebanggaan menjadi pemuda Indonesia tak lantas pudar dan harus tetap dihadirkan dalam setiap pijakan dan citra dari nilai-nilai moral lokalitas budaya daerah. Saatnya pemuda Indonesia pewaris tongkat estafet kepepimpinan bangsa. Hidup Pemuda! (****).

Comment

BERITA TERBARU