Pemuda Beri’tikaf

No comment 126 views


Oleh: Nelly Yuliana
Guru SMAN 1 Koba/Koordinator Biro Pembinaan LPI Bangka Tengah

Masjid, sebuah destinasi ruhiyah terbaik dan paling nyaman. Setidaknya ada lima kali dalam sehari seorang muslim akan berkunjung ke sana. Hampir semua muslim di dunia ini, pernah ke masjid, entah itu saat hari Raya, hari-hari biasa, bahkan saat dalam perjalanan. Konon katanya, ketika dalam perjalanan, masjid adalah tempat singgah yang paling dirindukan. Meski cerita nyinyir akan polusi suara dari corong masjid sempat menggelisahkan, namun alhamdulillah sampai detik ini suara Adzan Maghrib sangat dinantikan. Terkait dengan eksistensi masjid di akhir bulan Ramadhan ini, tentulah identik dengan ibadah i’tikaf.
Memasuki sepuluh malam terakhir, biasanya masjid diramaikan dengan para jama’ah yang berdiam di dalamnya. Muslim yang sadar akan keutamaan i’tikaf, rela menghabiskan hari bahkan malamnya di dalam masjid. Mereka memperbanyak ibadah dengan sholat, dzikir, tilawah serta bermuhasabah. Mereka memilih menyendiri dan membuat romantisme tersendiri bersama Rabb-Nya. Di masjid Habiburrahman Bandung saat ini, dipenuhi tenda-tenda para jama’ah yang beri’tikaf bersama. Sungguh pemandangan yang menyejukkan. Tapi, pertanyaan lainnya kemudian muncul, siapa ja’maah yang melakukan i’tikaf itu? Sebagaimana diketahui fenomena sekarang mengabarkan jika peserta jama’ah sholat fardu setiap harinya di masjid hanyalah para orang tua. Katanya, tidak jarang ditemukan saat sholat subuh di masjid, seorang imam sholat subuh merangkap muadzin, dan tidak menutup pula sekaligus berperan menjadi makmum. Semoga itu hanya kabar angin saja. Sedih rasanya jika memang saat ini para muslim jauh dari masjid.
Kemanakah pemuda muslimnya? Masjid merindukan pemuda muslim berada di shaf paling depan saat sholat fardu berjamaah ditegakkan. Para sesepuh menantikan generasi muda untuk melanjutkan estafet imam masjid apalagi saat saat ini, saat sholat tarawih ditegakkan di setiap masjid. Dan Ramadhan terasa akan lebih menyejukkan jika diisi dengan i’tikafnya para pemuda di masjid. Ironis sekali, ketika perkembangan zaman menggilas para pemuda muslim ke dalam hedonisme zaman. Terjebak dengan virus alay dan demam gadget ala sosial media. Tidak jarang bahkan saat tarawih dilaksanakan, pada pemuda islam sempat-sempatnya mengupdate status, ngetwit, posting di instagram, took in path dan lainnya. Tindakan yang menjadi cermin buram pemuda saat ini. Saat orang sibuk mengisi Ramadhan dengan memperbanyak ibadah, tidak jarang para pemudanya justru mengisi Ramadhan dengan aktivitas harian biasa. Ada pula yang hanya bermain-main, berselfie ria serta mempostingnya di sosial media. Bukan tidak boleh, namun tak bisakah lebih bijak. Generasi ini 10-20 tahun kelak akan menjadi seperti apa.
Disaat raga sehat dan kuat, saat itu pula ibadah dapat dengan mudah dapat dilakukan. Jangankan sholat tarawih selama satu jam, tarawih dengan membaca satu juz surat juga mampu ditunaikan. Berburu masa yang utama. Jangan biarkan usia direnggut gelombang euforia dunia. Pemuda islam yang dirindukan, meski bukan sesosok Muhammad Al Fatih lagi. Namun, setidaknya pemuda-pemuda islam yang dapat menghabiskan akhir Ramadhan dengan i’tikaf penuh kesyahduan. Berlomba merebut malam yang lebih baik dari malam 1000 bulan. Tidak harus membelanjakan seluruh hari, jika memang tidak bisa lepas dengan aktivitas bekerja dan kuliah. Mengambil sebagian malam hari saja, tidaklah menjadi sia-sia. Bahkan apabila belum dapat mengambil sepuluh hari terakhirnya secara penuh, khususkan saja sejenak satu atau dua hari saja. Apalagi pemuda yang masih bersekolah, kalian justru tengah berfoya dengan masa libur sekolah. Jadi, tak ada alasan untuk membuang waktu percuma. Sejenak menjadikan masjid sebagai destinasi wisata ruhani saat ini saja. Jadikan bulan sebagai bulan latihan ibadah untuk memperkokoh ibadah kita di bulan-bulan setelahnya. Maka pemuda, ber’itikaflah.(****).

 

No Response

Leave a reply "Pemuda Beri’tikaf"