by

Pemprov Desak Maskapai Turun 60 Persen

-NEWS-206 views

Pangkalpinang- Pemprov Babel tidak tinggal diam menyikapi kenaikan harga tiket pesawat yang berdampak terhadap pariwisata serta perekonomian masyarakat Babel.

Asisten II Setda Pemprov Babel, Yanuar meminta, agar maskapai penerbangan betul-betul sepakat dalam penurunan harga tiket hingga 60 persen.

“Tolong sampaikan ke maskapai penerbangan karena ada peluang hingga 60 persen penurunannya, kalau bisa ya ada penyesuaian, ini cukup menggembirakan, karena di satu sisi slot penerbangan ada tapi jumlah seat/penerbangan berkurang,” katanya, Selasa kemarin.

Ia menegaskan, saat ini pesawat terbang sudah menjadi kebutuhan masyarakat, bukan lagi hal mewah seperti dulu dimana tak semua orang bisa menaiki pesawat.

Ia juga meminta, agar menjelang Imlek ini, maskapai tidak kembali menaikkan harga, karena dikhawatirkan jika harga tinggi, masyarakat Babel yang ada di luar Babel tidak bisa merayakan Imlek di Babel.

“Kalau diterapkan batas atas, masyarakat akan keberatan dan akan kurangi daya beli, produk UMKM kita tidak ada yang beli, hotel dan restoran sepi, jadi mohon dukungannya,” ulas Yanuar.

Kepala Dinas Perhubungan Babel, KA. Tajuddin menambahkan, pihaknya akan kembali berkirim surat kepada maskapai penerbangan di Jakarta, meminta agar penurunan tarif ini bisa dilakukan.

“Kami berharap masih ada ruang dilakukan kaji ulang terhadap harga tiket yang berlaku, komparasinya baik domestik dan keluar negeri memang sangat jauh harganya dibandingkan ke Babel,” tambahnya.

Ia mencontohkan rute Jakarta-Surabaya (1,5 jam penerbangan) paling tinggi harga Rp500 ribu, dihari yang sama Jakarta-Pangkalpinang Rp706 ribu.

“Komponen apa yang menyebabkan harga ke kita lebih tinggi, secara resmi kita coba lah dianalisis kembali, komponen harga mana yang bisa diefisienkan, sehingga harga dikurangi,” pintanya.

Frekuensi penerbangan yang dikurangi, lanjutnya ini mungkin strategi juga dari maskapai, tapi berdampak luas ketika seat dikurangi permintaan banyak dan harga sama, sehingga ia meminta pengurangan frekuensi penerbangan ditinjau kembali.

“Kami akan surati kepada maskapai untuk meninjau kembali apa yang sudah dilakukan ini,” tandasnya.

Mantan Kadis Kominfo Babel ini meminta, sesuai kesepakatan INCA, akan menerapkan kelas tiket promo (ekonomi) lebih banyak hingga 30 persen, hal ini tegasnya harus konsekuen dilakukan maskapai.

“Apabila ini konsekuen dipegang saya rasa sangat membantu, jangan hanya komitmen di media tapi di lapangan enggak,” tegasnya.

Dilain sisi, kenaikan harga tiket pesawat jelas-jelas sudah mempengaruhi pariwisata di Babel. Bahkan, pada akhir tahun lalu okupansi atau tingkat keterisian hotel hanya 70-80 persen.

Ketua PHRI Babel, Bambang Patijaya menegaskan, saat ini kenaikan tiket berdampak para pariwisata di Babel yang mulai lesu. Hotel-hotel mengeluhkan keterisian kamar yang tidak sampai 100 persen.

“Pada akhir tahun 2018 dan situasi bisnis pada awal Januari, industri pariwisata lesu, karena enggak ada orang datang,” katanya, Selasa (22/1/2019).

Pada Desember kemarin sangat jarang terjadi, dimana ternyata okupansi hotel di Belitung hanya satu hotel 100 persen. Sisanya 90 persen ke bawah, dan di Bangka lebih parah 70-80 persen.

Hal ini, kata dia, memang ada beberapa hal yang menyebabkan terjadi, pertama ada tsunami di Banten sehingga agak mengurungkan niat orang berlibur ke pantai, dan kedua biaya berpergian ke Bangka dan Belitung mahal.

Ia melihat, dalam pasar dalam negeri dua grup maskapai besar ini menguasai di Babel, dan jangan sampai masyarakat dirugikan.

“Kami tau, tahun 2018 Garuda rugi Rp2,8 triliun, jangan sampai dikapitalisasi, sehingga tiket mahal, jangan berusaha ambil keuntungan untuk situasi operasional,” tegasnya.

Jika kondisi ini terus berlanjut, Bambang khawatir akan mempengaruhi operasional hotel dan restoran.

“Jangan sampai berkelanjutan, kita lihat mulai dari November Desember Januari sepi, Kalau berlarut kita khawatir berdampak pada operasional hotel. Kami mendapat dampak langsung terhadap tingginya harga tiket pesawat,” tegasnya.

Pengurus Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI), Andi menuturkan, selain industri pariwisata, kenaikan harga tiket ini juga berdampak pada industri rumahan seperti souvernir dan produk UMKM Babel.

“Kalau saat ini tidak hanya travel agent yang terkena, biro perjalanan wisata , disini tidak hanya memikirkan bagaimana mendatang wisatawan kalau hargaa tiket tinggi, promosi akan nol, enggak mau orang datang, dampaknya UMKM juga ikut merasakan,” tukasnya.

Hal ini, katanya, ditambah dengan kebijakan Lion Air memberlakukan tarif bagasi, yang dikhawatirkan akan membuat penumpang semakin enggan membawa banyak barang.

“Saat orang datang enggak bawa oleh-oleh dampaknya UMKM. Saat ini wisatawan domestik di Babel kita masih nomor satu dan bergantung disitu,” sebutnya.

“Tapi dari sisi UMKM yang menunggu pembeli, restoran juga menunggu pembeli, ada hotel yang menunggu okupansi kamar terisi. Babel masuk10 daerah wisata, tapi kalah dengan Pontianak untuk perlakuan pariwisata,” singgungnya.

Andi menilai, harga tiket ini bukan saja dikeluhkan Biro perjalanan wisata saat ini saja, bahkan sudah sejak dulu harga tiket menjadi pertimbangan wisatawan akan datang ke Babel, dengan membandingkan penerbangan ke beberapa daerah lain termasuk ke Singapura yang lebih murah.

“Tawaran maskapai ke luar negeri lebih murah, apakah kita dianjurkan untuk berwisata ke luar negeri, padahal Indonesia kalau dijelajahi sangat indah, itulah kenapa segmen wisatawan kita masih domestik, tetapi kalau ke Babel harganya lebih mahal ini akan berpengaruh,” ulas Andi.

Ia menyampaikan, beberapa travel agent juga sudah beralih ke bisnis lain dikarenakan harga tiket untuk perjalanan wisata yang cukup tinggi.

Ia berharap, PR bersama dapat dicarikan solusi dan kebijakan yang diambil, entah mencari alternatif supaya ekonomi berjalan wisatawan tetap berkunjung.

“Kalau bisa ada intervensi dari pemerintah dan mungkin alternatif lain seperti kapal laut dan kapal cepat bisa dipertimbangkan,” sarannya.

Mega, mewakili ASITA berharap, pemerintah bisa mengambil kebijakan dengan penerapan sistem layanan jasa penyediaan tiket bagi ASN yang berpergian.

“Sebenarnya saya memahami betul kondisi dialami airline, tetapi dampaknya sangat dirasakan hampir seluruh yang terlibat di pariwisata, travel agent, PHRI dan masyarakat,” sebutnya.

“ASN yang melakukan perjalanan dinas yang sering membeli tiket di travel, saat ini tak ada komisi, kami hanya minta solusi, bagaimana dikukuhkan (aturan) agar kami bisa buat service fee, biasanya dinas beli tiket PP tapi bayarnya nanti, sementara kami harus putar modal, makanya kalah ada biaya jasa harus diseragamkan supaya tidak ada perbedaan,” sarannya. (nov/6)

Comment

BERITA TERBARU