Pemimpin Bangka Selatan Pilihan Rakyat

  • Whatsapp

Oleh: Rusmin
Penulis Buku yang tinggal di Toboali

Menjelang Pemilihan Presiden, Gubernur, Bupati/Walikota, bahkan hingga kepemilihan RT sekalipun, kata pemimpin menjadi bahan diskusi. Hal ini sangat beralasan, mengingat tanpa kepemimpinan yang solid (siapa pun orangnya) akan susah membawa suatu lingkungan, daerah,negeri dan bangsa tercinta ini mewujudkan cita-cita dan harapan bersama sebagaimana yang diamanatkan UUD.

Kita semua menyadari bahwa jauh sebelum sosiologi modern berkembang jauh sebelum tuntutan moral bagi kepemimpinan mengkristal. Jauh sebelum Mahatma Gandhi atau pemikir lainnya mengedepankan gagasan non kekerasan, kita telah mengenal Plato dengan konsep ” Philosopher Kings ” dan pemikir konfusianisme yang mengajarkan moral kepemimpinan melalui keteladanan. Bahkan jauh sebelum biografi modern dikenal, kita telah mencatat Nabi Muhammad SAW memberikan keteladanan sebagai seorang pemimpin umat yang memerangi jahilyah dan membangun masyarakat madani.

Pada sisi lain, kita juga mencatat sepakterjang Bung Karno sebagai pemimpin bangsa ini. Usai menjalani ” kehidupan baru ” selepas dari penjara, Bung Karno menyatakan : seorang pemimpin tidak akan berubah karena hukuman. Saya masuk penjara untuk memperjuangkan kemerdekaan. Dan saya meninggalkan penjara untuk pikiran yang sama,”.

Di tengah himpitan depresi ekonomi dan rezim yang refresif ” rust en orde ” pada dekade 1930-an, dengan setegar baja Bung Karno menyatakan,” Betul banyak orang bertukar haluan karena penghidupan. Tetapi pemimpin yang suci senantiasa terjauh dari godaan iblis itu,”.Dikatakannya, ketetapan hati dan keteguhan iman adalah salah satu syarat yang kardinal untuk menjadi seorang pemimpin. kalau seorang pemimpin kata Bung Hatta tidak mempunyai moril yang kuat dan setegar baja, maka seorang pemimpin tidak dapat memenuhi kewajibannya dan lekas terhindar dari pergerakkan.

Dalam tipologi Max Weber, ada tiga (3) macam tipe kepemimpinan yaitu kepemimpinan Tradisional, Kharismatik dan Legal Rasional. Kepemimpinan tradisional tergantung kepada kekerabatan tradisi masa lampau yang selalu diingat dari kenyataan yang mendahului. Kepemimpinan Kharismatik merupakan kepemimpinan yang mengaksentuasikan kualitas yang unik dan luar biasa dari perorangan sang pemimpin. Sementara itu, kepemimpinan Legal Rasional bertumpu pada kekuataan impersonal dan abstrak pada cakupan tugas secara hukum dan pemangku yang mendapat kekuasaan berkat hukum itu sendiri.

Pada sisi lain seorang pemimpin memang harus punya kelebihan di atas rata-rata. Seorang pemimpin harus lebih cerdas, lebih percaya diri, lebih liberal dan lebih bermoral. Singkatnya lebih baik dibanding rata-rata warga masyarakatnya.

Sosilog UI Imam Prasojo justru mengkhawatirkan dimasa mendatang bangsa Indonesia lebih banyak memiliki kepemimpinan kerumunan daripada kepemimpinan Legal Formal.Pemimpin kelas ini, jelas Prasojo muncul dari ” kerumunan ” tanpa memiliki rekam jejak yang jelas.

Guru bangsa Nurcholis Madjid (Alm) yang akrab dipanggil Cak Nur tak henti dan dengan kesabaran selalu mengngatkan tentang pentingnya menegakkan standar moral bangsa. Dalam analisa Cak Nur, lemahnya standar moral inilah yang menyebabkan kita kini menjadi salah satu halaman belakang Asia Timur. Ditinggalkan oleh negara-negara tetangga yang sudah berkembang menjadi negara maju. Dan penyebabnya lanjut Cak Nur adalah etos kerja yang lembek dan sarat korupsi yang gawat. Sumber malapetaka ini terjadi karena pengelolaan yang lemah dalam urusan pemerintahan dan kekuasaan.

Bung Hatta sungguh sangat tidak suka, bila rakyat dikondisikan membeo pemimpin. Apalagi menjadi obyek tipudaya penguasa. Negeri yang rakyatnya hanya tau menerima perintah dan tidak pernah turut memerhatikan atau mengatur pemerintahan negerinya, tidak memiliki kemauan dan melakukan kemauan ini dengan penuh tanggungjawab penuh, ungkap Bung Hatta. Jika rakyat dalam kondisi menyedihkan semacam ini, Hatta meramalkan walaupun Indonesia MERDEKA, rakyat tetap tertindas oleh yang berkuasa. Pemimpin sekaliber Bung Hatta tidak pernah menghambakan diri kepada kekuasaan.

Bagi Bung Hatta, kekuasaan adalah alat untuk memperjuangkan cita-cita bersama demi kepentingan yang lebih besar, yakni kepentingan bangsa dan negara. Tokoh proklamator ini juga tidak pernah mengambil keuntungan pribadi, baik saat menjabat sebagai Wakil Presiden maupun saat pensiun, tetap menjaga nama besar, teguh memegang prinsip dan menjaga martabat diri. Seorang pemimpin yang baik sebagaimana yang dicita-citakan Bung Hatta adalah pemimpin yang ingin mendidik rakyatnya menjadi cerdas. Bukan hanya cerdas otaknya, tetapi cerdas hidupnya. Tahu akan harkat dan martabatnya, tidak rendah serta berkarakter.

Negeri Ibu Pertiwi ini memang sangat membutuhkan pemimpin flamboyan. Pemimpin yang mampu memberikan pesona hidup bagi rakyatnya dan mencurahkan amanah yang diembannya untuk membahagiakan rakyatnya. Seorang pemimpin yang tahu diri dan tidak rakus akan kekuasaan serta mampu memberikan pencerdasan buat rakyatnya, sehingga rakyatnya sejahtera dan kritis solutif. Dan mampu mewarisi aroma prestasi harum sepanjang masa bagi generasi mendatang kendati seorang pemimpin telah wafat. Pemimpin flamboyan bukan sekedar impian di republik mimpi. Pemimpin flamboyan ada di negeri Indonesia yang terbentang dari Pulau Miangas hingga Rote.

Tak terkecuali di Kabupaten pemekaran Bangka Selatan yang didirikan dengan semangat kegotongroyongan oleh masyarakat Negeri Junjung Besaoh yang dimotori kaum intelektual Bangka Selatan era itu. Sebagai masyarakat Negeri Junjung Besaoh, kita percaya dan sangat berkeyakinan bahwa dalam pesta demokrasi tahun 2020 mendatang akan terlahir pemimpin baru Bangka Selatan yang lahir dari pilihan masyarakatnya yang datang ke di TPS-TPS dengan hati yang bahagia berbalut kegembiraan dan memilih pemimpinnya dengan nuraninya untuk marwah daerahnya Bangka Selatan.

Dan kita sangat percaya bahwa Pemimpin Bangka Selatan Pilihan Rakyat periode mendatang akan sangat serius mengabdi untuk kepentingan rakyat Bangka selatan yang berdiam dari Sebagin hingga Pulau Lepar. Dan kita sangat percaya bahwa pemimpin pilihan rakyat Bangka Selatan periode mendatang akan sangat serius membahagiakan masyarakat Bangka Selatan dengan kebijakannya, dimana pemimpin pilihan rakyat itu sangat tahu tentang perasaan yang dialami warganya.Tentang apa yang dirindukan masyarakatnya. Tentang kehidupan yang didambakan warganya. Tentang cita-cita penduduknya. Dan pemimpin itu dilahirkan rakyat dan bukan elite politik yang menugaskannya maju dalam percaturan pesta demokrasi di negeri ini. Dia adalah pemimpin flamboyan dari Selatan. Salam Junjung Besaoh….(***).

Related posts