Pemilik 12.000 Botol Mihol Menghilang

  • Whatsapp
Foto ilustrasi

PANGKALPINANG – Penyidik Subdit Gakkum Ditpolairud Polda Kepulauan Bangka Belitung (Babel), masih melakukan proses penyidikan terhadap perkara dugaan 12.000 botol minuman alkohol ilegal. Selain itu, Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) sudah perpanjangan penahanan dan tinggal menunggu berkas selesai untuk dilimpahkan ke kejaksaan.

Demikian diungkapkan oleh Kasubdit Gakkum Ditpolairud Polda Babel, Kompol Ade Zamrah kepada Rakyat Pos, Selasa (25/2/2020).

“Pemiliknya masih kita cari karena tidak gampang mencarinya. Yang jelas, penghubungnya sudah kita amankan,” tuturnya.

Sekarang ini, menurut Kasubdit Gakkum, tersangka dalam perkara miras ilegal ini telah bertambah dua orang lagi.

Baca Lainnya

“Kan yang lama ada delapan tersangkanya ditambah dua lagi, jadi seluruhnya ada 10 orang tersangka. Yang dua ini sebagai penghubung dari perusahan ke pemilik barang atau pengangkutan kemudian pengambilan barang dari Singapore,” terangnya.

Lebih lanjut dia menegaskan, kedua orang penghubung miras untuk sementara ini sama dipersangkakan polisi dengan jeratan pasal tentang Undang-Undang Perdagangan.

“Jadi, untuk BB (Barang Bukti) akan kita limpahkan yang kini masih di dermaga Ditpolairud Polda Babel. Jumlah BB masih sama dengan waktu kita lakukan penangkapan,” tandas Ade Zamrah.

Seperti diketahui, Ditpolairud Polda Babel dan Personel Heli Korp Poludara Baharkam Polri berhasil mengamankan sebanyak 12.000 botol minuman keras impor ilegal yang akan diselundupkan ke Provinsi Lampung pada Selasa (4/2/2020) sekitar pukul 11.15 WIB.

Miras ilegal tersebut diamankan dari sebuah kapal berkapasitas mesin 2.100 PK di Perairan Maspari perbatasan Lampung dan Bangka Selatan.

Polisi juga mengamankan satu unit kapal cepat tanpa nama dan delapan orang anak buah kapal, yaitu No selaku nahkoda, Wa selaku mekanik, Re, Sy, Da, Su, La dan Je selaku ABK.

Para pelaku akan dikenakan Pasal 323 UU No 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran dan Pasal 106 UU No 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan dengan ancaman pidana penjara paling lama lima tahun.

Operasi Arak dan Tuak
Sementara itu, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten berhasil mengamankan peredaran minuman berakohol (minol) jenis arak dan tuak, Senin (24/2/2020) malam. Kali ini Satpol PP Kabupaten Belitung mengamankan sekitar 3 ¼ jerigen dan satu kantong plastik kulit kayu Raru yang digunakan sebagai bahan campuran pembuatan tuak.

Kepala Seksi (Kasi) Penertiban, Operasional, dan Pengendalian Satpol PP Kabupaten Belitung Rully Hidayat mengatakan peredaran minol tersebut juga atas laporan dari masyarakat yang resah akan peredaran tuak tersebut.

Selain itu juga, kata Rully anggotanya selalu patroli rutin, sebagai penegak Peraturan Daerah (Perda).
“Laporan dari masyarakat yang memang resah akan adanya peredaran tuak ini,” kata Rully kepada Rakyat Pos, Selasa (25/2/2020).

Bukan hanya satu tempat saja, Rully mengungkapkan kalau 3 ¼ jerigen arak dan tuak tersebut diamankan dari tiga tempat yang berbeda. Warung pertama dengan nama pemilik Sandi Febri Josua Panggabean (22) terletak di Jalan A.Yani Desa Air Rayak Kecamatan Tanjungpandan tepatnya di depan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Belitung.

“Di depan itu kan ada Bengkel, nah belakang bengkel itu ada pondok-pondok. Apalagi menurut laporan dari masyarakat disitu biasanya banyak wanitanya,” ungkapnya.

Kemudian, tempat kedua dengan nama pemilik Edis Silaban (39) terletak di Jalan Serma Abdullah Desa Air Ketekok Kecamatan Tanjungpandan. “Ini di sebuah warung makan non muslim,” lanjut Rully.

Kemudian terakhir ketiga dengan nama pemilik Jannes Pergaulan Sirait (42) terletak di Jalan Kerejan Desa Air Merbau Kecamatan Tanjungpandan.

“Kalau ini di toko kelontong la dia jualnya,” sebutnya.

Demi memberantas peredaran minuman berakohol jenis arak dan tuak tanpa izin ini, pihaknya akan melakukan pemanggilan terhadap pemiliknya untuk dimintai keterangan asal muasal barang haram tersebut.

“Mereka akan kita panggil dan kita beri pembinaan dan kita buatkan surat pernyataan mereka bahwa mereka tidak akan mengulangi lagi. Ini kan mereka bertiga baru pertama kali kedapatan menjual arak dan tuak ini,” pungkas Rully. (bis/dod/6)

Related posts