Pemikul Matahari

No comment 297 views


Karya: Rusmin

Hari ini matahari hadir dengan gagahnya. Sinarnya bercahaya dengan berani. Terang benderang. Sinarnya yang gagah membuat peluh dari badan seorang lelaki mengalir deras bak banjir yang tak terhadang. Lelaki itu tetap berjalan dengan beban yang amat berat dipundaknya. Sekarung beras harus segera diantarkannya ke seseorang yang telah memesan di toko tempatnya mencari nafkah. Tak ada keluh dan kesah dari lelaki itu, walaupun cahaya matahari begitu gagah berani menerangi bumi pagi itu.
Lelaki itu terus berjalan hingga akhirnya sampai ke tujuan. Dan bukk. Sekarung beras itu telah berada dalam sebuah mobil merk terkini milik pemesannya yang terparkir cukup jauh dari toko tempatnya bekerja.
Sudah tiga bulan lelaki yang bernama Suhar ini menikmati hidup dengan berprofesi sebagai pemikul barang di toko kawasan pasar sebuah kota yang mulai menggeliat pembangunannya. Dan sudah tiga bulan pula dirinya merasa terhormat dengan profesi itu.
“Apakah kamu tidak malu berprofesi sebagai pemikul barang di toko? Itu pekerjaan orang yang tidak bersekolah,” ujar seorang temannya saat Suhar meminta bantuannya untuk bekerja.
“Pekerjaan itu sangat terhormat dari seorang koruptor, Bung,” jawab Suhar.
“Dan saya tidak mau dikuburan saya semua orang saat berziarah ke kubur memandang saya dengan julukan koruptor. Mana harga diri saya?” lanjut Suhar dengan nada tegas. Iya, usai menjalani hukuman sebagai koruptor, Suhar memang enggan kembali berkiprah sebagai pengurus partai politik walaupun tawaran menarik berupa jabatan diiming-imingi ketua partai. Sudah mati rasa Suhar menjadi pengurus parpol, termasuk menjadi anggota dewan yang katanya terhormat itu. Lelaki itu kini sedang menikmati madu sebagai pemikul barang di pasar, walaupun cemoohan terus menghujani jiwa dan raganya.
“Tuh kalian lihat Suhar. Usai dihukum kini bangkrut,” ujar seorang warga di pasar saat melihat Suhar memikul barang.
“Padahal dulunya dia seorang anggota dewan yang terhormat. Tapi karena korupsi, akhirnya menjadi pemikul barang seperti kita,” celetuk warga lainnya.
“Mungkin Suhar merasa profesi sebagai pemikul barang lebih terhormat daripada sebagai anggota dewan yang banyak korupsi dan mengakali rakyat,” sela warga lainnya.
“Benar sekali kawan. Itu yang membuat dia usai menjalani hukuman tak mau lagi berkiprah sebagai anggota dewan. Dan sikap itu harus kita hargai sebagai sebuah prinsip hidup,” ungkap pemilik toko dimana Suhar bekerja sebagai pemikul barang. Dulu Suhar dikenal sebagai anggota dewan yang rakus dan tak peduli dengan sesama. Dalam pikirannya hanya uang, uang dan uang. Semua urusan dengannya selalu berkorelasi dengan fulus. Tak ada fulus tak ada aktivitas.
“Memangnya kami duduk di kursi dewan ini gratis. Tidak sama sekali, Pak. Saya harus mengorban rumah dan harta saya yang lain untuk memenangkan pemilihan dan duduk di kursi ini,” ungkap Suhar saat seorang warga meminta dirinya memperjuangkan anaknya sebagai honorer di kantor pemerintahan.
“Saya dulu mencoblos bapak karena saya yakin bapak akan mampu memperjuangkan aspirasi kami sebagai rakyat,” ujar Bapak itu.
“Bapak mencoblos saya karena saya memberi bapak uang. Bukan karena hati nurani bapak,” kata Suhar dengan nada berapi-api bak orator yang sedang kampanye di panggung Pilkada.
“Dan saya tidak berhutang budi kepada bapak karena suara bapak sudah saya beli,” lanjut Suhar dengan narasi pongah.
Bapak tua itu terdiam. Hanya terdiam. Dalam hatinya yang terdalam dia membenarkan ungkapan Suhar bahwa dirinya memilih karena tergoda uang yang nilainya tak memartabatkan diri sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di negeri ini.
Ada rasa penyesalan yang dalam menyelimuti raga bapak itu saat meninggalkan kantor Suhar. Sebuah penyesalan yang harus dibayar dengan harga amat mahal dan mengorbankan harga diri sebagai rakyat yang berkuasa saat di TPS.
Hidup memang berputar. Tak ada yang abadi selama sinar matahari masih bersinar di pagi hari dan rembulan bercahaya saat matahari mulai tenggelam menuju keperaduannya meninggalkan bumi. Sebuah realitas hidup yang mesti dilakoni umat manusia sebagai penghuni bumi.
Suhar pun akhirnya ditangkap KPK saat sedang menerima uang suap dari seorang pengusaha di sebuah hotel ternama di ibukota negara. Dan yang amat mengagetkan semua orang, uang suap itu berkaitan dengan pembelian barang untuk kaum fakir miskin di desanya yang fiktif dan bantuan dana pembangunan masjid.
Yang amat memukul batin Suhar lagi adalah ketika semua harta bendanya pun disita aparat hukum. Istri dan anak-anaknya kabur meninggalkan dirinya yang sedang merana. Sejak saat itu dia hidup sebatang kara tanpa martabat diri. Dan berkat pertolongan seorang teman, akhirnya dia menjadi seorang kuli pemikul barang di pasar.
Suara azan Zohor pun berkumandang mereligiuskan alam dan penghuninya. Suara azan itu amat merdu mengingatkan semua penghuni bumi. Tak terkecuali Suhar. Lelaki itu pun melangkah menuju mesjid di sekitar pasar. Langkahnya amat bergegas. Dan hanya kepada Sang Maha Pencipta dia memohon ampun atas segala dosanya. Toboali, Bangka Selatan. (**)

No Response

Leave a reply "Pemikul Matahari"