Pembiasaan Membentuk Karakter

No comment 242 views

Oleh: Ida Susanti, S.Pd.
Guru SMA Negeri 4 Pangkalpinang

Ida Susanti, S.Pd

Fenomena dari kebiasaan keluarga muda yang belum atau tidak punya mobil, jalan-jalan sore naik motor tanpa seorangpun yang memakai helm. Skuter matik jalan pelan-pelan mengambil jalur agak ke tengah, sambil ngobrol. Suami-istri ini, sedang mendidik anak yang diboncengnya itu tentang cara melanggar tertib berlalu-lintas. Dan saat polisi menangkap, dengan enteng bapak ini memberikan uang kesepakatan ke Pak Polisi dan urusan selesai, bebas melenggang. Inilah bapak yang sedang melatih dan membiasakan anaknya yang masih kecil untuk menyogok saat ada urusan apapun, dan agar meminta sogokan saat orang lain berurusan dengannya. Bapak yang sedang mempersiapkan generasi koruptor.

Demikian juga keluarga muda yang sudah punya mobil. Mereka sekeluarga keliling-keliling kota dengan suami menyetir sambil mengobrol melalui ponsel. Sementara, sang istri yang cantik yang duduk di depan di sebelah suami, yang sedang makan buah rambutan, kulit rambutan dibuang langsung melalui kaca jendela depan yang terbuka sedikit. Inilah ibu yang sedang mendidik anaknya untuk membuang sampah sembarangan. Dan inilah bapak yang sedang mendidik anaknya untuk melanggar aturan berlalulintas.

Orang tua yang sangat menyayangi anaknya ini turun tangan langsung ketika anaknya terancam tidak naik kelas di SD, atau di SMP, atau di SMA, karena nilai-nilai ujian anaknya yang di bawah standar. Bertemu wali kelas, guru, terutama kepala sekolah. Menawarkan sesuatu, berdebat, bernegosiasi, atau bahkan mengancam, hingga pada akhirnya anaknya naik kelas atau paling tidak pindah sekolah sambil naik kelas. Inilah bapak yang sedang mendidik anaknya bagaimana cara menangani urusan.

Dalam sebuah hadist, anak itu digambarkan seperti kertas putih bersih yang belum ada isinya. Tergantung orang tua yang mengisinya. Anak akan menyerap hal-hal yang baik dan buruk dari lingkungan terdekatnya. Sekarang, bagaimana orang tua bisa mensortir dari perilaku-prilaku yang buruk. Cara yang paling efektif adalah memberi contoh perilaku yang baik di hadapannya. Meskipun anak belum bisa berbicara, anak sudah bisa meniru apapun yang kita kerjakan, baik dari kata-kata ataupun tingkah laku.

Berikut berbagai contoh pembiasaan yang akan diteladani guna membentuk karakter mulia. Pertama, Kasih sayang, memberi contoh kepada si kecil tentang rasa sayang adalah cara efektif mengajarkan dia kasih sayang terhadap sesama. Tunjukkan kepada si kecil kepedulian kita terhadap keluarga, guru, orang-orang tak mampu, tetangga, bahkan terhadap hewan piaraan. Perhatian yang penuh kasih sayang menjadikan anak tumbuh dan berkembang dengan baik secara kognitif dan fisik.

Kedua, Berbagi, ketika mainan atau makanannya diminta oleh temannya atau orang lain dan dia menolaknya, kata favorit yang biasa diucapkan si kecil adalah “ini punyaku!”. Kita bisa mengajarkannya dengan membagikan makanan kita kepada teman-temannya dan kepadanya, kemudian menjelaskan kenapa kita melakukannya. Berikan dia dorongan untuk selalu berbagi dengan teman-temannya di sekolah dan di rumah, dan berikan dia pujian atas apa yang telah dia lakukan.

Ketiga, Percaya diri, tingkat kepercayaan diri orang tua akan mempengaruhi tingkat percaya diri anak. Sebaiknya, kita tidak mencela diri sendiri ketika berbuat kesalahan atau di depan cermin, dan di atas timbangan badan. Meskipun kita termasuk tipe orang suka menertawakan diri sendiri. Anak yang tumbuh dengan percaya diri yang sehat, ia akan mampu mengatasi berbagai masalah dalam hidupnya, entah dalam hal pekerjaan, percintaan atau yang lain. Agar ia bangga atas apa yang telah dikerjakannya, berikan pujian atas prestasi, kebaikan dan kemajuan yang telah dibuat oleh si kecil.

Keempat, Menghargai, orang tua perlu mengajarkan murah hati dan berbagi kepada anak, dan menunjukkan kepada anak bagaimana membedakan batas-batas bagi mereka sendiri. Bila orang tua terlalu penurut terhadap semua apa keinginannya, anak akan belajar untuk mengambil keuntungan dari orang tuanya. Dari sikap penurut orang tua ini, kemungkinan anak juga akan menirunya. Anak menjadi selalu mengalah dan tidak pernah memperoleh apa yang diinginkannya. Anak juga akan belajar banyak dari orang tuanya tentang cara menghargai orang lain. Ketika ia memasuki taman kanak-kanak, sikap sok tahu (sarkasme) akan membuat dia sulit untuk berteman. Maka ketika mendiskusikan hal-hal yang buruk, usahakan anak tidak mendengarnya.

Kelima, Sikap toleransi, secara otomatis anak akan meniru anda, jika anda sering merendahkan budaya lain. Walaupun toleransi sulit unutk diajarkan, ada beberapa contoh tindakan yang bisa mengajarkannya tentang toleransi. Misalanya tanya apa pendapatnya tentang warna tas yang dipakai temannya. Jelaskan mengapa ada temannya beribadah dengan cara yang berbeda. Mengajarkan tentang hal-hal kecil ini akan membantunya mengerti masalah yang lebih besar ketika dia sudah beranjak dewasa.

Keenam, Kepedulian terhadap lingkungan, masalah lingkungan sudah menjadi isu penting saat ini, dan kerusakan lingkungan sudah parah. Oleh karena itu, mengajarkan tentang kepedulian, mencintai dan memilihara lingkungan sejak dini sangatlah penting. Banyak tindakan kecil yang bisa kita contohkan, misalnya membuang sampah pada tempatnya, mematikan lampu yang tidak digunakan, mematikan televisi saat tidak digunakan, menghemat penggunaan air, atau mengajarinya menanam pohon. Jelaskan kepada mereka kenapa kita harus membuang sampah pada tempatnya, dan apa akibatnya jika kita membuang sampah sembarangan.(****).

 

No Response

Leave a reply "Pembiasaan Membentuk Karakter"