Pembiak Airmata

No comment 268 views


Karya: Rusmin

Awan berarak. Lintasi bintang. Susuri gugusan galaksi. Langit makin mentemaramkan jagad raya. Sinar rembulan seolah enggan bersinar. Hanya terdiam. Suara kokok ayam makin terdengar, seiring merdunya suara ayat-ayat suci yang berkumandang dari masjid. Tenteramkan suasana hati dan batiniah manusia yang mendengarnya.
Ada rasa nikmat yang tak terperikan. Ada rasa damai. Tenang. Sukri baru saja selesai membaca ayat suci alquran, saat di pagi yang damai ini terdengar suara ketukan dari arah depan rumahnya. Dalam hatinya Sukri membatin. Siapa yang mengetuk pintu dipagi-pagi buta ini? Apakah Pak Yusuf yang mau mengajaknya untuk Salat Subuh berjemaah? Atau ada yang butuh pertolongan.
Sembari menuju pintu depan rumahnya seribu pertanyaan terus bergelayut dalam pikiran dan otak kecil Sukri. Dan betapa kagetnya Sukri saat pintu depan terbuka tampak lima laki-laki berbadan tegap penuh tato telah berdiri. Dari mulut mereka tercium aroma minuman. Dan Sukri paham kelima lelaki tegap itu adalah anak buahnya Ko Aciu, yang dikenal warga Kampung Kami sebagai pembiak uang atau rentenir.
“Ada yang bisa saya bantu, bapak-bapak,” sapa Sukri dengan ramah. Dan sapaan Sukri pun mareka jawab dengan suara ketawa yang keras sehingga beberapa warga yang hendak menuju masjid dan melewati rumah Sukri pun berhenti melihat aksi purba lima kawanan manusia suruhan itu.
“Ada pesan dari Bos untuk bapak,” jawab seorang dari lima lelaki itu. “Katakan pada bos mu usai Salat Subuh aku akan datang ke rumahnya,” jawab Sukri tegas.
Kelima manusia suruhan itu pun langsung meninggalkan rumah Sukri dengan berjalan sempoyongan. Bahkan salah satu dari mareka terpaksa digotong kawannya yang lain karena tak bisa berjalan.
Usai Salat Subuh, Sukri langsung menuju rumah Ko Aciu yang terletak di ujung Kampung Kami. Saat memasuki rumah lelaki yang dikenal sebagai lintah darat itu, Sukri melihat begitu banyak orang-orang tertidur di teras rumahnya, bahkan jalan masuk rumah Bos duit itu. Ko Aciu tampak bahagia melihat Sukri datang ke rumahnya. Ko Aciu merasa bangga juga didatangi orang punya pengaruh di Kampung Kami. Maklumlah selama ini Sukri adalah teladan dan panutan bagi warga kampung walaupun tak memiliki jabatan struktural dalam pemerintahan Kampung Kami.
“Masuk. Masuk Pak Sukri. Terimakasih sudah berkenan mampir ke rumah,” sambut Ko Aciu dengan ramah.
“Ada apa ya Ko Aciu. Kok tadi anak buahnya Ako menyuruh saya ke rumah,” tanya Sukri tanpa basa-basi. ” Mohon maaf Pak Sukli wo. Maklum anak-anak. Tak ada etika. Soal sisa duit dulu, gimana ya Pak Sukri,” tanya Ko Aciu.
“Lho bukannya pokok dan bunganya sudah saya bayar lunas?”
“Iya, Pak Sukli. Tapi dalam catatan buku saya ada bunga yang belum Pak Sukli bayar.”
“Ntar Siang sebelum Zohor, Ako ambil di rumah ya. Saya tunggu.” kata Sukri.
Dikalangan warga Kampung Kami, Ko Aciu adalah pemiskin rakyat. Dengan dalih membantu warga yang perlu bantuan permodalan, namun pada prosesi selanjutnya bantuan itu justru membuat masyarakat menjadi miskin karena dibebani dengan bunga pinjaman yang sangat tinggi hingga 30 persen. Telah banyak warga yang menjadi korban aksi rentenir Ko Aciu. Namun tak ada warga yang berani melawan kezaliman dan kesewenang-wenangan ekonomi ini. Termasuk para perangkat Kampung Kami. Mareka hanya berdiam diri seolah-olah pasrah saja, bahkan menyalahkan warga yang tidak membayar. Selain itu Ko Aciu dikenal memiliki anakbuah yang berbadan tegap sebagai debt colector alias penagih utang yang tak segan-segan bertindak diluar batas kemanusiaan. Usaha Pak Kades pun gagal melawan aksi pembiakan uang ala Ko Aciu. Sia-sia usaha pimpinan desa untuk menghentikan pemiskinan atas rakyatnya.
“Saya bantu mareka. Dan adalah sesuatu kewajaran kalau dari hasilnya mereka membantu saya. Mana ada di dunia ini makan siang yang gratis Pak Kades,” kilah Ko Aciu. Dan sebelum meninggalkan ruang Pak Kades, sudah kelaziman ada titipan dalam amplop coklat yang ditinggalkan rentenir tua itu.
Matahari berarak lintasi langit yang cerah. Sinarnya menusuk relung hati manusia di bumi yang terus berkerja demi sesuap nasi. Keringat mengucur di tubuh warga dan para pekerja keras untuk menghadapi tantangan hidup yang semakin keras dan makin tak menentu seiring dengan makin menuanya zaman dan alam semesta ini.
Ko Aciu tampak datang ke rumah Sukri sesuai dengan janjinya. Dengan mengendarai mobil terbaru, pria tua ini langsung ditemani oleh para anakbuahnya. Dan Sukri menyambut kedatangannya dengan senyum mengambang.
“Jadi berapa Ko bunga yang harus saya bayar lagi?” tanya Sukri.
“Saya minta maaf lo Pak Sukli. Ini berdasarkan catatan di buku saya,” jawab Ko Aciu yang menyebut nama Sukri dengan sebutan Sukli.
“Tidak masalah Ko. Kan itu kewajiban saya yang telah meminjam modal kepada Ako,” jawab Sukri.
Dan betapa terkejutnya Ako Aciu ketika hendak menerima uang bunga riba dari Sukri, beberapa orang petugas berpakaian preman langsung membekuknya bersama dengan para anakbuah untuk dibawa ke Polsek terdekat.
“Terimakasih Pak Sukri atas kerjasamannya. Semoga ini menjdi aksi terakhir dari aksi para lintah darat yang secara ekonomi melakukan penindasan kepada warga miskin,” ujar seorang petugas sambil menyalami tangan Sukri.
Matahari kembali berarak. Lintasi awan. Sinarnya terang seterang hati Sukri yang bisa membantu walaupun hanya ala kadarnya. Ya membantu melawan kesewenang-wenangan penindasan ekonomi lewat pembiakan duit oleh manusia tak beradab.

Toboali, 28 Maret 2015

Print Friendly
No Response

Leave a reply "Pembiak Airmata"