Pembangunan Keamanan Pangan Dimulai dari Individu

  • Whatsapp
Asisten Kesra Setda Bangka Selatan (Basel), Asri Usman, mewakili Bupati Basel, Justiar Noer, membuka Re-Orientasi Peran Pemerintah Dalam Kegiatan Gerakan Keamanan Pangan Desa di Basel yang berlangsung di Ruang Pertemuan Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Basel, Sabtu (1/4/2017).(foto: raw).

TOBOALI – Keamanan pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat menggangu dan membahayakan kesehatan manusia serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, maupun budaya masyarakat, sehingga aman untuk dikonsumsi.

Demikian penjelasan Asisten Kesra Setda Bangka Selatan (Basel), Asri Usman, mewakili Bupati Basel, Justiar Noer, dalam Re-Orientasi Peran Pemerintah Dalam Kegiatan Gerakan Keamanan Pangan Desa di Basel yang berlangsung di Ruang Pertemuan Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Basel, Sabtu (1/4/2017) pagi.

“Sesuai dengan agenda prioritas Pemerintah Presiden Jokowi dalam Nawa Cita yaitu membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan, maka pembangunan keamanan pangan perlu dimulai dari individu, keluarga hingga masayarakat termasuk pedesaan,” jelas Asri.

Permasalahan keamanan pangan, kata dia, dapat terjadi di setiap mata rantai pangan, sehingga upaya agar pangan tetap aman dan bermutu hendaknya dilakukan secara komprehensif dan terus menerus.

“Sejak tahun 2014, Badan POM menginisiasi gerakan keamanan pangan desa dengan target nasional 500 desa pangan aman (paman) sampai dengan tahun 2019,” terangnya.

Potensi resiko dapat terjadi di setiap mata rantai pangan, tidak terkecuali di desa. Selama tahun 2016, kabupaten sehat, satu adalah suatu kondisi kesehatan yang bersih, nyaman, dan sehat untuk dihuni penduduk mengalami kejadian luar biasa (KLB) keracunan pangan yang berasal dari 34 provinsi.

Dilihat dari jenis pangan penyebabnya, lanjut dia, adalah masakan rumah tangga 25 kejadian (40,98%), pangan jajanan 14 kejadian (22,95%), pangan jasaboga 13 kejadian (21,31%, dan pangan olahan 9 kejadian (14,75%).

Ia menegaskan, jika masalah keamanan pangan tidak segera ditanggulangi, maka resiko penyakit kronis yang dapat berakibat pada kematian akan semakin meningkat dan memerlukan biaya tinggi.

Pembangunan ekonomi desa, sambung dia, merupakan subsistem dari pembangunan ekonomi kabupaten/kota dan provinsi yang juga merupakan penopang pertumbuhan eknomi secara nasional. Kurang lebih 80% penduduk berada di pedesaan, maka pembangunan ekonomi harus melibatkan secara langsung atau tidak langsung penduduk desa.

Turut hadir dalam kegiatan kemarin, Kepala Balai POM Pangkalpinang, pejabat Eselon II, III di lingkungan Pemkab Basel, Camat, Kades Tukak, Kades Batu Betumpang, Lurah Tanjung Ketapang, Kepala Puskesmas Toboali, Kepala Puskesmas Tiram dan Kepala Puskesmas Pulau Besar. (erokfo/raw/3).

Related posts