by

Pelindo Berduka, 2 Deputy GM Korban Lion JT-610

“Kamu Bisa Tenang Naik Pesawat tanpa Mengenal Pilotnya…..”
Desain Kolam Ikan Seperti Batu Nisan

PANGKALPINANG – Halaman parkir Kantor PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II atau Indonesia Port Corporation (IPC) Cabang Pangkalbalam Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), tampak berbaris kendaraan yang tersusun rapi.
Ketika wartawan harian ini mencoba mengetuk pintu dan mengucapkan salam, hanya terdengar sahutan seorang security yang sedang melaksanakan tugasnya dibagian dalam kantor.
Suasana kantor seolah sepi dan nyaris tanpa ada penghuni, meskipun aktivitas d dialamnya berjalan normal.
Rupanya, suasana hening dan tampak sepi di kantor ini, lantaran para pegawai dan staf sedang dirundung duka mendalam dan berkabung.
Pasalnya, dua karyawannya berada di dalam pesawat Lion Air JT-610 tujuan Jakarta-Pangkalpinang, yang jatuh di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat.
Kedua karyawan tersebut adalah Mack Stanly yang menjabat Deputy General Manager Hukum dan Pengendalian Internal Pelindo II Cabang Pelabuhan Pangkalbalam serta Herjuno Darpito sebagai Deputy General Manager Operasi dan Teknik.
Pelaksana Harian (Plh) General Manager Komersial dan Properti PT Pelindo II Cabang Pelabuhan Pangkalbalam, Taufiq Budi Hidayanto kepada Rakyat Pos dalam perbincangan santai di kantornya, Jumat (2/11/2018) sore juga tampak ikut berduka.
“Almarhum Pak Juno dan Pak Mack itu orangnya baik dan ramah serta orang yang profesional dibidangnya. Seperti biasanya, mereka kalau pulang (ke Jakarta) Jumat malam Sabtu. Jadi, setelah pulang kerja, dia pakai pesawat yang JT-615, pesawat Lion malam, dua minggu sekali pulang” kenang Taufiq dengan suara agak lirih.
Menurut Taufiq sapaan akrab Taufiq Budi Hidayanto, sahabat karib yang sudah dianggapnya sebagai saudara sendiri itu selain memiliki kepribadian yang baik dan ramah, juga supel, pintar serta menyelesaikan semua pekerjaan tepat waktu.
“Mereka tepat hampir empat bulan di sini, datang sama-sama, pulang sama-sama. Beliau (Herjuno-red) kan termasuk sosok yang paling dituakan di sini, kayak bapak sendiri dan sama-sama perantau, orangnya (dalam bekerja) kerjaan selesai semuanya,” ulas dia.
Ia menceritakan, kedua Deputy GM yang baru dilantik dan mulai mengemban amanahnya dalam jabatan itu sejak 28 Juni 2018 silam ini biasanya balik ke Pangkalpinang dengan menumpang pesawat Lion Air PK-LQP rute Jakarta-Pangkalpinang.
“Beliau-beliau ini masuk ke Bangka ini baru empat bulan yang lalu, datangnya sama-sama karena penempatan dari kantor pusat. Mereka biasanya balik (ke Pangkalpinang-red) dengan JT-610, kalau penuh pakai Sriwijaya 645, selalu mencari pesawat paling pagi,” tuturnya.


Diakui pria bertubuh gempal itu, Pelindo merasa sangat kehilangan dengan kepergian dua orang yang mempunyai jabatan sangat penting di Pelabuhan Pangkalbalam ini. Kesedihan dan air mata semakin tak terbendung saat menceritakan tentang buku catatan IPC milik Herjuno.
“Kenangan terakhir, kita dihari pas sebelum berangkat ke Jakarta ngobrol dengan Pak Herjuno di sinilah. Di tempat ini, ngobrol banyak kedepannya kayak apa pelabuhan ini,” ceritanya.
“Buku catatan ini di meja, kata Pak Juno aku juga punya catatan buku. Yang lainnya kan gak punya, kan buku ini sempat ada di media,” lanjutnya.
Diungkapkan Taufiq, kenangan indah bersama rekan kerjanya itu tidak hanya di buku harian, melainkan juga profil Whatsapp (WA) milik almarhum Herjuno yang masih terngiang di ingatannya.
“Sebelum beliau tidak ada, tidak ada mutusnya membeli kepala ikan di pasar. Di sini, dia seneng banget dengan kepala ikan, sama kenangan di profil WA beliau. Profil pesawat ini dua minggu sebelum beliau tiada yang bertuliskan “Kamu bisa tenang naik pesawat tanpa mengenal pilotnya, lalu kenapa selalu resah menjalani hidup padahal Tuhan telah mengatur hidupnya,” kisahnya.
Disinggung mengenai profil WA milik Herjuno apakah memiliki pesan khusus, Taufiq menyimpulkan hal tersebut merupakan pertanda akan kepergian sahabatnya itu.
“Saya rasa, mungkin ini salah satu pertanda. Selama ini beliau gak pernah pasang DP, Pak Santo sempet ngomong kok Pak Juno pasang DP. Lihat kata-kata ini kesannya pasrah,” katanya.
Taufiq mengatakan rekaman video dari ponsel yang viral di media massa berisi gambar sebelum Lion Air JT-610 terbang atau masih berada di apron menunggu penumpang naik itu merekam dari belakang sosok Mack Stanly dan Herjuno.
“Bapak baju putih di depan yang merekam video, itulah Pak Juno. Yang membawa koper kecil itu,” tukas Taufiq.
Senada juga diceritakan GM Usmet PT Pelindo II Cabang Belinyu, Muhammad Rozi di tempat yang sama. Rozi mengenang terakhir kali bersama dua korban yang ada di buku catatan bertuliskan IPC tersebut.
“Buku itulah kenangan terakhir beliau. Dia nulis disini, gak hanya kalian yang punya buku catatan saya juga punya,” kenang Rozi menirukan suara Herjuno.
Dia menambahkan, teman kerjanya itu selama ini tidak pernah pakai DP di WA.
“Dia selama empat bulan disini tidak pernah pasang DP pesawat. Dulu kosong DP nya, gak ada. Ada sekali DP beliau foto anaknya, tapi hanya dua hari,” tukas Rozi.

Kolam Ikan Desain Nisan
Disisi lain, Herjuno sebelum meninggalkan rekan-rekan kerjanya meminta salah satu pegawai untuk membuat kolam tempat ikan lele. Akan tetapi, anehnya kolam ikan tersebut didesain almarhum seperti bentuk batu nisan kuburan.
“Oh ya, dia juga sempet minta bikin kolam lele. Desain kolam ini dibikinnya sendiri, tetapi seperti bentuk nisan. Salah satu rekan kita sempet nyeletuk kepada almarhum, kok gambarnya seperti nisan pak. Jadi, minta bikin kolam lele sama Pak Man,” tutur Taufiq.
Lelaki yang berdomisili di Kelurahan Bukit Merapin, Kecamatan Gerunggang Kota Pangkalpinang ini juga mengaku selain sudah menganggap Herjuno sebagai orang tua, sangat mengenal dekat keluarganya.
“Biasanya saya yang sering membeli tiketnya. Kita sudah kakak adik. Kalau Mack bukan saya yang beli tiketnya, dia sendiri kan masih muda. Tapi kalau Pak Juno, pergi pulang saya yang beli tiketnya kemudian kirim kode bokingnya. Kita sangat berduka dengan kepergian keduanya,” tandas Taufiq. (bambang irawan)

Comment

BERITA TERBARU