Pelestarian Bangunan Cagar Budaya Dead Monument di Pangkalpinang

  • Whatsapp

Oleh: Sisiarianti
Mahasiswa Sosiologi Universitas Bangka Belitung

Dalam sejarah kemerdekaan Republik Indonesia, banyak bangunan-bangunan ataupun peninggalan bersejarah yang telah ditinggalkan oleh bangsa penjajah. Bangunan-bangunan ataupun peninggalan bersejarah ini, tentunya memiliki manfaat untuk kita pelajari baik dari sisi nilai histori, nilai sosial, nilai budaya dan nilai kearifan lokal. Tiap peninggalan bangunan sejarah memiliki corak ataupun identitas sendiri pada tiap masanya, dimulai dari masa hindia tradisional, masa chinese, penjajahan himente atau kolonial, masa kemerdekaan hingga pasca kemerdekaan. Corak ataupun identitas inilah yang pada akhirnya menjadi sejarah daerah ataupun Negara dan ditetapkan sebagai cagar budaya.
Cagar budaya adalah warisan budaya yang bersifat kebendaan berupa benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya, situs cagar budaya, dan kawasan cagar budaya. Keberadaan cagar budaya ini, pada akhirnya menjadi tanggung jawab bersama baik pemerintah, swasta ataupun masyarakat. Cagar budaya sendiri terbagi atas living monument dan dead monument. Dead monument didefinisikan apabila sejak diciptakannya hingga dalam kondisi saat ini, monument tersebut tidak mengalami perubahan fungsi. Sedangkan living monument didefinisikan sebagai monument yang hidup dan tidak mengalami perubahan fungsi. Dalam perkembangannya, cagar budaya memiliki beberapa fungsi diantaranya fungsi rekreasi dan hiburan, pengayoman budaya daerah setempat, sumber devisa yang dapat menambah pendapatan daerah atau Negara, dan objek penelitian dari berbagai sumber ilmu.
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang notabennya pernah menjadi daerah keresidenan, tentunya memiliki banyak cagar budaya baik yang bersifat living monument ataupun death monument, khususnya Kota Pangkalpinang sebagai Ibukota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Beberapa contoh bangunan cagar budaya yang berada di Kota Pangkalpinang antara lain Kantor Walikota dan Gereja Tua depan Alun-alun Taman Merdeka Pangkalpinang, yang menjadi titik nol Pusat Kota Pangkalpinang. Permasalahan saat ini, yang terjadi yakni keberadaan bangunan cagar budaya kian waktu semakin hilang baik dari struktur keberadaan fisik bangunan ataupun segi histori. Penyebab hilangnya keberadaan struktur fisik bisa disebabkan adanya bencana alam dan bangunan yang sudah tidak kokoh lagi yang akan menyebabkan bangunan tersebut roboh.
Seiring berjalan waktu, bangunan – bangunan bersejarah yang ada di Kota Pangkalpinang kini mulai dialih fungsikan demi menjaga manfaat dan kegunaannya, salah satu bangunan bersejarah tersebut dijadikan sebagai Rumah Dinas Walikota. Ada beberapa hal yang melatarbelakangi dialihfungsikannya bangunan bersejarah menjadi Rumah Dinas Walikota, yaitu diantaranya: Pertama, letaknya strategis. Bangunan bersejarah yang dijadikan Rumah Dinas Walikota tersebut memiliki letak geografis yang harus mudah dijangkau oleh masyarakat sebagai pusat pelayanan bagi masyarakat; Kedua, Menghemat biaya pembangunan. Indikator dialihfungsikannya bangunan bersejarah menjadi Gedung Kediaman Walikota dapat menghemat biaya pembanguann dan keuangan yang dikeluarkan pemerintah, karena bangunan tersebut tinggal melanjutkan dari bangunan sebelumnya.
Upaya yang dilakukan agar bangunan sejarah tetap eksis sampai sekarang dengan menjadikannya tempat rekreasi dan hiburan sebagai bentuk pemanfaatan dan pelestarian bangunan bersejarah sebagai objek wiasata yang bertujuan untuk memperkenalkan monument bersejarah sebagai wujud peristiwa penting yang terjadi di masa lampau kepada generasi sekarang. Contoh death monument dijadikan sebagai living monument yaitu kuburan cina yang ada di Pangkalpinang. Tempat tersebut bisa diadakan perayaan semacam sembayang rebut. Jadi, ada nilai wisatanya yang akan mendorong masyarakat untuk mengunjungi perayaan tersebut. Selain itu, kuburan orang-orang Belanda terdahulu juga bisa dijadikan objek wisata, misalnya diadakan opera perjuangan satu bulan sekali.
Tidak hanya itu, beberapa pemanfaatan bangunan sejarah yang dapat kita lakukan diantaranya: Pertama, sebagai pengayoman budaya daerah setempat. Bangunan sejarah sebagai fungsi pengayoman budaya daerah setempat bisa dijadikan sebagai aset bagi daerah dan menjadikan monument tersebut sebagai ciri dari suatu daerah atau Negara tertentu. Sebuah bangunan kuno yang terpelihara dengan baik adalah ciri dari masyarakat yang baik pula dan menjadi ciri kebanggaan dari daerah setempat. Bangunan sejarah mampu berbicara sesuai dengan perjalanan waktu. Sebagai sumber devisa yang dapat menambah pendapatan daerah atau Negara. Peninggalan bangunan sejarah dapat dijadikan salah satu objek wisata yang menjadikan bangunan sejarah sebagai sasaran empuk bagi suatu daerah atau Negara untuk pendapatan daerah dan penambahan devisa bagi Negara.
Kedua, sebagai objek penelitian dari berbagai sumber ilmu. Jadi, bangunan sejarah tidak hanya dijadikan sebagai tempat rekreasi atau wisata seperti yang sudah dijelaskan di atas, tetapi masih banyak fungsi lain dari bangunan bersejarah, yakni sebagai objek studi bagi kalangan peneliti untuk dijadikan objek penelitiannya, sebagai studi pengembangan dari berbagai disiplin ilmu untuk memecahkan beragam permasalahan. Melalui studi ilmu sejarah, kita bisa mengetahui usia dari bangunan itu, serta bagaimana dan sejak kapan monument tersebut didirikan.
Dari hal di atas, dapat kita ketahui bahawasanya pemerintah memiliki peran penting dalam perencanaan tata kelola kota, yaitu sebagai subjek pembangunan. Hal tersebut sebagai peranan dan fungsi pemerintah dalam menjalankan roda pemerintahannya. Dan bagi masyarakat, hal ini harus benar-benar diawasi demi terlaksananya tata kelola kota secara bersama, sebagai sarana publik yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk melakukan berbagai macam kegiatan yang dapat diberdayakan di daerah tersebut. Dalam hal ini, mahasiswa memiliki peranan penting, yaitu sebagai Social Control. (***).

Related posts