by

Pegawai Lecehkan Presiden Terancam Sanksi

-NEWS-414 views

Hartoyo: Tak Boleh Jelekan Simbol Negara

Hartoyo

MANGGAR – Pegawai di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Belitung Timur (Pemkab Beltim) dihimbau agar bijak dalam menggunakan media sosial dan cerdas mengeluarkan pernyataan. Tidak etis seorang pegawai pemerintah mengkritik ataupun menjelek-jelekan pimpinannya sendiri di media sosial.
Himbauan itu disampaikan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kadis Kominfo) Kabupaten Beltim, Hartoyo menanggapi kasus salah seorang Pegawai Tidak Tetap (PTT) di Pemkab Beltim yang diciduk polisi karena diduga melakukan ujaran kebencian terhadap Presiden RI Joko Widodo.
“Dak boleh pegawai pemerintah kritik pemerintah, apalagi sampai jelek-jelekan lambang negara dan pimpinan di media sosial,” tegas Hartoyo kepada Rakyat Pos, Kamis (17/5/2018).
Menurutnya ada mekanisme jika ingin menyuarakan perubahan ataupun memberikan masukan terhadap pimpinan. Namun, dengan menghina apalagi memposting kebohongan bukanlah caranya.
“Kita kan masih diberikan hak politik, kalau ingin cari simpati orang jangan sampai fitnah orang lain. Apalagi sebagai pegawai pemerintah, harus mendukung pemerintah,” kata Hartoyo.
Mantan Kepala Badan Kepegawaian Daerah itu menyebutkan tidak menutup kemungkinan ada sanksi yang menanti khususnya bagi pegawai pemerintah. Namun ia meminta agar pimpinan bijak, mengingat yang bersangkutan mengaku hanya sekadar iseng memposting cofy KTP Jokowi dan menambahkan komentarnya.
“Kalau ASN ada itu (sanksi) sesuai PP (Peraturan Pemerintah) tapi kalau untuk PTT tergantung pimpinan. Tapi harus hati-hati ambil tindakan karena yang bersangkutan hanya iseng,” ujarnya.
Hartoyo berpesan agar kasus yang terjadi dapat dijadikan pembelajaran baik bagi pegawai pemerintah maupun masyarakat. Ia berharap masyarakat tidak mudah latah dengan terus menyebar berita bohong.
“Ini pembelajaran bersama. Kita ingatkan agar masyarakat cerdas dan bijak menggunakan media sosial. Jangan latah menyebarkan fitnah dan kebohongan apalagi yang mengandung ujaran kebencian,” pintanya.

Tunggu Laporan
Terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Beltim Arbai’e menekankan belum akan mengambil tindakan terhadap Robi Chandra, mengingat ia baru tahu ada kasus yang menimpa anak buahnya itu dari media massa.
“Dengar kabarnya sudah dari kemarin. Cuman tahu jelasnya baru hari ini pas baca koran,” tukasnya.
Arbaie masih akan menunggu adanya laporan dari kepolisian. Namun dalam waktu dekat ini, ia akan berkoordinasi dengan Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) mengenai sanksi kepada Robi.
“Kalau laporan resmi ke kita gak ada. Kita koordinasi nantilah ke BKPSDM, prosedurnya seperti apa,” ucapnya.
Arbaie menyesalkan apa yang dilakukan pegawainya tersebut. Menurutnya hal itu kurang pantas, mengingat yang bersangkutan berstatus sebagai pegawai pemerintah.
“Dak pantaslah seorang pegawai pemerintah kritik pemerintah dia kan bagian dari pemerintah. Itu kan monohok sekali, dak pada tempatnya sampai mengeluarkan kata-kata yang menuduh pimpinan negara yang bukan-bukan,” ujar Arbaie.
Ia berharap agar seluruh pegawai Pemkab Beltim khususnya di jajaran Dinas Lingkungan Hidup agar lebih mawas diri. Apalagi menurutnya di Bulan Ramadhan ini lebih baik banyak bekerja dan beribadah dibanding memposting hal yang tidak bermanfaat.
“Kita kerja sajalah yang benar. Jangan buat yang bukan-bukan,” ucapnya.
Seperti diberitakan edisi kemarin, lantaran diduga melakukan ujaran kebencian melalui media sosial (medsos) Facebook (FB), oknum pegawai di Pemkab Beltim yakni Robi Chandra (42) harus menjalani pemeriksaan intensif di Satuan Reskrim Polres Beltim, Rabu (16/5/2018).
Diamankannya warga Dusun Libut Desa Sukamandi Kecamatan Damar Kabupaten Beltim ini lantaran ada indikasi telah mencemarkan nama baik Presiden RI Joko Widodo di akun Facebook yang dikelolanya.
Robi, diamankan Kanit Intelkam Polres Beltim Ipda Lutfi bersama 3 anggotanya serta anggota Posda Badan Intelijen Negara (BIN) Beltim pada Selasa (15/5/2018) di kediamannya. Ia diciduk setelah polisi dan BIN memantau medsos akun Facebook Jonnie Koboy yang diposting di “Group Satu Abad Indonesia Satu, Satu Abad Indonesia Merdeka”.
Postingan yang menjadi viral itu menjurus kepada pencemaran nama baik Presiden Jokowi dan ironisnya diposting ulang oleh Robi disertai tambahan komentar menyindir.
Melihat postingan itulah kemudian polisi mendatangi Kepala Desa (Kades) Sukamandi, Fitra Jaya untuk mencari info terkait Robi. Selanjutnya dengan diantar Kades, petugas menuju ke rumah Robi, lantas membawanya ke Mapolres Beltim.
Dalam pemeriksaan dan introgasi polisi Robi mengaku telah memposting konten yang menjurus ke pencemaran nama baik Presiden Jokowi. Postingan tersebut berupa copy KTP bernama Presiden Jokowi yang diatas fotonya tertulis: “Polisi Temukan KTP Pelaku Bom Polrestabes, ini Identitasnya”. Kemudian oleh Robi ditambahi komentar: “Ini siape ye..? Ayaaa… Kau. Hihihihihihi”.
Menurut Robi yang bekerja menjadi tenaga honorer atau PTT di kantor Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Beltim, postingan tersebut hanya iseng-iseng saja. Ia pertamakali memposting copy KTP itu ke akun FB “Robi Chandra” miliknya pada 15 Mei 2018 sekitar pukul 07.00 WIB. Robi mengambil gambar postingan itu dari group FB yang pernah diikutinya sekitar awal tahun 2018 dengan nama “United Muslim Cyber Army”.
Saat pemeriksaan, Robi mengaku mempunyai 6 akun FB yang sebagian digunakan diantaranya Umar Hamzah, Robbi Chandra. Robbie candra, Cincang Nangka, Fattah Sanjaya, dan Alternatif Solusien.
Dia mengaku mengetahui group United Muslim Cyber Army dari menonton televisi saat viral terkait organisasi/group yang oleh Bareskrim Mabes Polri dilakukan penangkapan terhadap pelaku yang tergabung dalam grup tersebut. Para pelaku member grup itu ditangkap setelah melakukan penyebaran hoaks melalui Muslim Cyber Army (MCA).
Karena menjadi viral, selanjutnya akun Robbi Chandra dihapus olehnya pada 15 Mei 2018 sekitar pukul 22.30 WIB. Polisi mengetahui ini setelah melihat pesan di inbox teman-teman FB nya. Dan saat dicek beberapa akun Facebook Robi, ada dijumpai postingan-postingan yang menjurus pada ujaran kebencian.
Kini polisi masih terus mendalami, serta melakukan pemeriksaan intensif apakah perbuatan yang dilakukan Robi ini merupakan suatu tindak pidana. (dny/kmfo/1)

Comment

BERITA TERBARU