Pedagang Pujasera Bandara Gunakan Kompor Induksi

  • Whatsapp

Pangkalpinang – Pedagang pujasera bandara Depati Amir, Pangkalpinang, semuanya menggunakan kompor induksi untuk proses memasak di pujasera yang baru diresmikan Senin(10/6/2019) oleh wagub Babel.
Hal ini, sesuai kebijakan dari angkasa pura II cabang Depati Amir, yang tidak memperbolehkan adanya pengunaan gas di areal pujasera.
Humas PLN UIW Babel, Pandu mengapresiasi kebijakan yang diterapkan oleh pihak angkasa pura ini. Ia yang juga hadir dalam grand opening pujasera bandara ini, juga memantau peralatan listrik yang digunakan oleh masing-masing pedagang.
“Ini ada yang unik dari pujasera ini, semua pedagang menggunakan kompor induksi, dan peralatan listrik lainnya,” katanya, disela grand opening pujasera bandara, Senin (10/6/2019).
Ia berharap, kedepan semakin banyak masyarakat yang menggunakan kompor induksi untuk berbagai kebutuhan.
Ganda, salah satu pedagang pujasera, menyebutkan, ia mulai terbiasa menggunakan kompor listrik di rumah, yang diakuinya lebih hemat dan efisien.
“Kemarin orang takut pake gas, setelah digunakan enggak takut lagi, sekarang kompor listrik banyak yang takut, tapi setelah dicoba, sangat praktis dan lebih hemat,” katanya.
Kebijakan pihak bandara yang tidak memperbolehkan adanya instalasi gas, membuat para pedagang harus menggunakan kompor induksi.
Di lapak milik Ganda, tersedia beberapa peralatan listrik, selain kompor induksi, terdapat deep fryer, yang ia gunakan untuk menggoreng singkong, mug elektrik (pemanas listrik), untuk memudahkan ia menyediakan kopi dan teh panas, dan juga sejenis pemanggang elektrik.Kemudian terdapat juga kulkas, dan freezer.
“Karena enggak boleh pake gas, kita pakai serba listrik, ini deep fryer untuk menggoreng singkong, karena saya jualannya ada singkong goreng,” imbuhnya.
Diakuinya, menggunakan perkataan listrik ini lebih hemat, meskipun banyak menggunakan sumber listrik, namun ia memilih perkataan yang hemat listrik.
Ganda, juga menjual minuman dingin seperti es teh, es belimbing dan akan ada es buah buni, berasal dari buah lokal Babel yang kini mulai langka, namun akan ada di tenan milik Ganda.
“Kita fokus ke lempah kuning nantinya, singkong goreng, sementara ini baru tersedia kopi dan teh panas serta es teh dan es belimbing,” ulasnya, seraya sibuk melayani pembeli.
Pujasera bandara ini, terdiri dari sepuluh kios atau tenan, yang menjual beraneka macam makanan khas Babel, berada di areal parkir bandara sehingga memudahkan pengunjung untuk menyantap berbagai menu di pujasera ini.(nov/6)

Related posts