Kiri Sayap
kanan Sayap Kategori
Dibawah Menu

Pecinta Budaya Bateng Respon Pernyataan Oknum Dosen UBB Soal Hukum Adat Orang Babel

RAKYATPOS.COM, KOBA - Penyataan seorang oknum Dosen Universitas Bangka Belitung (UBB) yang menyebutkan

orang Babel belum beradat dalam komentar di salah satu media online di Bangka Belitung edisi tanggal 05 Desember 2020 lalu berbuntut panjang.

Komentar oknum akademisi tersebut mendapat kritikan dari Budi Randa Hutagalung selaku Pecinta Budaya dan Adat Bangka Tengah.

Menurutnya, bila bicara hukum adat maknanya sangat luas sekali dan tidak bisa dibahas sepotong-sepotong. Karenanya, hukum adat banyak kategori lantaran ada hukum adat berdasarkan pencipta.

Kemudian ada pula hukum adat istiadat yang menjadi norma, namun tidak memiliki sanksi hukum. Adat sebenarnya adat, misalnya mengenakan baju kurung, walaupun seseorang tidak mengenakan baju kurung tidak dikenakan sanksi.

Ia melanjutkan adat yang teradat, misalnya besao, orang sudah bekerja diladangnya, tetapi dia tidak mau bekerja diladang kelompoknya, maka sanksi dikucilkan dari masyarakat dan kelompoknya. Adat yang diadatkan atau hukum adat walaupun saat ini tidak diberlakukan lagi sanksi adatnya berupa denda masih ada yang dipatuhi masyarakat, misalnya terkait pantang dan larang, masih ditaati masyarakat Bangka. Sebab, hukum adat ditaati masyarakat bukan karena takut akan sanksinya, tetapi masyarakat Bangka Belitung sadar bahwa adat yang diadatkan atau hukum adat itu diterapkan sebagai sarana ketertiban di masyarakat. Misalnya, baju adat silakan tidak memakai dan tidak ada sanksinya.

"Kesadaran masyarakat Babel untuk menerapkan hukum adat itu bukan karena takut dengan sanksinya, tetapi masyarakat Babel sadar karena pada prinsipnya hukum adat merupakan salah satu sarana ketertiban umum," ujar Budi Randa, Rabu (09/12/2020).

Dijelaskannya, mengkaji hukum adat istiadat tidak serta merta disamakan dengan menerapkan hukum positif. Tetapi, perlu disadari hukum positif pun ada yang menyawir hukum adat dan hukum agama.

"Hal ini bisa dilihat dari kenyataannya bahwa hukum adat sangat luhur lantaran setiap daerah pasti punya adat istiadat yang merupakan sarana menciptakan ketertiban umum di tengah masyarakat. Diketahui, si pengosong madu bebas mencari madu di hutan manapun, tiba-tiba menemukan lembar madu yang sudah memiliki tanda atau ciri. Pengusung madu tersebut dengan sadar lalu patuh meyakini bahwa sudah ada pengusung madu lain yang lebih dulu menemukan, sehingga dia bergegas mencari madu lain yang belum ditandai," tuturnya.

Kembali ke pernyataan oknum dosen tersebut lanjut Budi Randa, ia mensinyalir pernyataan oknum dosen UBB itu menyakiti hati para Datuk dan Datin di Bangka Belitung. Bahkan dirinya sebagai generasi muda pun sangat kecewa atas pernyataan tak berdasar itu.

"Saya berharap, oknum dosen itu untuk meminta maaf secara terbuka di media kepada seluruh masyarakat Bangka Belitung.

Jadi, jangan salah menyimpulkan bahwa dengan tidak diberlakukannya lagi hukum adat atau adat yang diadatkan lalu mengatakan orang Bangka Belitung tidak beradat. Padahal tidak demikian," tandasnya. (ran).

Diatas Footer
Light Dark