Pasokan Cabe, Kadistanbun Bilang Faktor Cuaca

  • Whatsapp

320 Hektar Kebun Cabe akan Diperluas
Babel Konsumsi 17 Ton Cabe Setahun

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Kabupaten Bangka, Kemas Arfani Rahman menjawab perihal melonjaknya harga cabe rawit di Sungailiat yang menyentuh harga tertinggi Rp25 ribu per ons menyatakan, hal itu karena ditentukan oleh pasar.
Kepada wartawan Senin (20/2/2017) kemarin melalui ponselnya, Kemas mengatakan sejauh yang ia ketahui pasokan cabe mengalami kendala lantaran faktor cuaca dan ketersediaan cabe ditingkat produsen di Jawa, Sulawesi dan Sumatera terbatas akibat gagal panen.
“Saya tidak bisa menjawab terkait dengan mahalnya harga cabe sampai Rp25.000/ons, karena harga ditentukan oleh pasar. Pasokan cabe yang saya ketahui dari beberapa pedagang memang terhambat karena faktor cuaca dan ketersediaan cabe di tingkat produsen di Jawa, Sumatera dan Sulawesi juga terbatas akibat gagal panen ataupun produksinya rendah pada saat ini. Hal ini juga disebabkan cuaca yang tidak menguntungkan para petani cabe baik itu lokal maupun dari luar,” katanya.
Menurut dia, setiap tahun luas panen cabe baik besar maupun kecil hanya berkisar 60 – 80 hektar di Kabupaten Bangka, dengan produksi rata-rata 300-400 ton (angka tahun 2012 – 2015). Sehingga artinya, setiap tahun paling tidak sekitar 98% cabe harus didatangkan dari luar daerah, terutama pada hari-hari besar keagamaan.
Selain itu, petani juga terkendala serangan hama dan penyakit pada tanaman cabe dikarenakan faktor cuaca dengan frekuensi hujan yang sangat tinggi, diiringi angin kencang.
“Hambatan utama yang dihadapi petani saat ini, selain adanya serangan hama dan penyakit juga diperburuk karena frekuensi hujan yang sangat tinggi dengan diiringi oleh angin yang cukup kuat, berakibat pada rontoknya bunga dan buah,” jelasnya.
Menyikapi itu, Kemas mengatakan pada tahun 2017 ini, pihaknya akan melakukan perluasan tanaman cabe rawit maupun cabe merah besar seluas 320 hektar untuk mengurangi ketergantungan cabe dari luar.
“Paling tidak bila program ini berhasil kita akan bisa memenuhi kebutuhan cabe sekitar 10 persen atau sekitar 1.500 ton cabai besar dan kecil,” ujarnya.

Muat Lebih

Babel Konsumsi 17 Ton
Terpisah, Kepala Dinas Pangan Pemerintah Provinsi Bangka Belitung, Ahmad Damiri menginformasikan, dalam satu tahun, masyarakat di Provinsi Bangka Belitung (Babel) mengkonsumsi cabe rawit sebanyak 17.022 ton.
Sedangkan produksi lokal hanya mampu memproduksi 4.896 ton cabe saja. Sehingga sisanya dipasok dari provinsi lain karena memang produksi lokal masih belum memenuhi kebutuhan masyarakat Babel.
Hal sama untuk konsumsi cabe merah, masyarakat Babel membutuhkan sebanyak 19.905 ton. Sedangkan produksi cabe merah Babel baru mencapai 2.514 ton, dan sisanya dipasok dari luar.
“Untuk kebutuhan cabe rawit setiap orang selama satu tahun sebesar 12,4 kg/kapita per tahun, dan kebutuhan cabe merah setiap orang selama satu tahun 14,5 kg per kapita per tahun. Kebutuhan akan bawang merah setiap orang selama satu tahun 2,5 kg per kapita per tahun,” paparnya, Senin (20/2/2017).
Untuk mencukupi kebutuhan akan cabe rawit ini, kata Damiri, Pemprov Babel sudah bekerjasama dengan BPTP untuk menggiatkan masyarakat bertanam cabe dan memanfaatkan lahan di pekarangan.
“Kita juga sudah kerjasama dengan PKK untuk memberdayakan ibu-ibu PKK serta ibu rumah tangga untuk bertanam cabe, paling tidak di pekarangan rumah, memanfaatkan pekarangan untuk bertanam cabe, sehingga diharapkan mampu mengurangi pasokan dari luar dan paling tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarga,” terangnya.
Damiri menyampaikan, program tanaman pekarangan ini sebetulnya sudah diprogramkan sejak 2008, tetapi ada kelompok yang tidak hanya fokus pada tanaman cabe.
“Kalau kegiatan pekarangan namanya kawasan rumah pangan lestari, rumah yang ditanami tanaman yang komoditi sayuran dan buah, dan pemerintah saat ini fokus pada tanaman cabe dan bawang merah,” tuturnya.
Ia menyebutkan, di Babel sudah banyak kelompok yang mengembangkan kawasan rumah pangan lestari ini, dengan 360 kelompok se Babel.
“Kelompok ini hanya pengembangkan sebatas RT, kita akan kembali menggalakkan kelompok ini untuk bertanam cabe dan bawang,” imbuhnya.
Damiri mencontohkan, untuk di Belitung, salah satu ibu rumahtangga mengaku bisa menghemat Rp300 ribu per bulan dengan tidak membeli cabe.
“Karena ia bertanam cabe maka keluarga itu tidak lagi membeli cabe, sehingga bisa melakukan penghematan, ini yang akan kita gencarkan,” tukasnya.
Pemerintah, sambungnya, akan membantu dengan memberikan bibit dan lainnya, baik dari program APBN maupun APBD. “Kemudian kita juga mendapatkan bantuan dari dana CSR Bank Indonesia untuk 10 kelompok, lima kelompok di Bateng dan Belitung,” tambahnya.
Damiri menyayangkan, masih banyak perusahaan yang belum memanfaatkan dana CSR nya untuk membantu program ini. “Baru ada dari Bank Indonesia, kemudian perusahaan sawit juga ada tapi mereka membantu media tanam untuk kelompok tani di sekitar perusahaan. Kita berharap semakin banyak perusahaan dengan dana CSR nya membantu program ini,” pungkasnya. (2nd/nov/1)

Pos terkait