Pasca Pemilu dan Pelajaran dari Bocah Angon

  • Whatsapp

Oleh: Ahmad Kholikul Khoir
Mahasiswa S1 Program Studi Psikologi UII Yogyakarta

Setiap kontestasi atau kompetisi apapun pasti terdapat pihak yang menjadi penanggung jawab atau penyelenggaranya. Seorang penyelenggara kontestasi harus dapat dijamin keindependenannya dan kenetralannya. Apalagi dalam kontestasi akbar seperti Pemilihan Umum (PEMILU), yang mana menjadi penentu kemajuan atau kemunduran suatu negara tentunya seluruh pihak yang terlibat harus netral dan independen. Karenanya, sebelum kontestasi dimulai dibuatlah musyawarah dan mufakat antara seluruh elemen elit parpol untuk menentukan dan menetapkan pemegang amanat agar kontestasi berjalan dengan lancar dan berkeadilan.
Dalam setiap kontestasi pasti terdapat pihak yang menang dan juga pihak yang kalah. Begitu pula dalam kontestasi politik yang telah dilaksanakan pada 17 April 2019 yang lalu. Namun terkadang pihak yang kalah tidak dapat menerima atas kekalahannya karena merasa telah dicurangi secara sistematis, terstruktur dan masif pada saat proses pemilihan berlangsung.
Alhasil, aksi people power atau gerakan kedaulatan rakyat digerakkan salah satu paslon untuk menduduki kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (BAWASLU) agar segera mendiskualifikasi kontestan lawan dan memenangkan calon Presiden yang diusung (21-22/5/2019). Sayangnya, aksi tersebut justru berakhir menjadi kerusuhan. Data Kepolisian RI terbaru mencatat 9 orang tewas dan ratusan lainnya mengalami luka termasuk warga, peserta aksi, dan aparat kepolisian.
Pada hakekatnya, perlu kerendahan hati untuk menerima kekalahan pada setiap kontestasi politik, sehingga kondisi yang sedemikian riskan tidak terjadi pada bangsa ini. Bagaimana pun dalam kontestasi politik, bukanlah seperti kontestasi “Tinju” yang mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah saja, melainkan menentukan nasib rakyat Indonesia kedepannya. Kerendahan hati sangat perlu dimiliki oleh parpol maupun calon Presiden yang tidak terpilih. Siapapun pihak yang terpilih menjadi Presiden adalah putra terbaik Indonesia untuk kemajuan Indonesia.

Figur Bocah Angon
Selain itu, bagi pihak yang terpilih menjadi Presiden agar tidak lagi melihat antara golongan pemilih dan bukan pemilih, namun Presiden terpilih harus menjadi seorang pemimpin yang mempunyai jiwa “Bocah Angon”. Bocah Angon adalah suatu bentuk figur yang disebutkan oleh Sunan Kalijaga dalam syairnya yang berjudul “Lir-Ilir”, dimana salah satu penggalan liriknya berbunyi “Bocah angon, bocah angon, penekno blimbing kui”.
Pada syair tersebut Sunan kalijaga tidak memilih figur, misalnya seperti Sastrawan, Intelektual atau siapapun, namun memilih figur Bocah Angon (Anak Gembala). Oleh Cak Nun, Bocah Angon ditafsirkan sebagai figur yang mempunyai daya kesanggupan untuk ngemong semua pihak, determinasi yang menciptakan garis resultan kedamaian bersama, pemancar kasih sayang yang dibutuhkan oleh semua warna, semua golongan, dan semua kecenderungan. Bocah Angon adalah pemimpin nasional, bukan tokoh golongan atau pemuka suatu gerombolan.
Figur bocah angon adalah suatu figur yang dalam berpikir dan berperilaku sudah bukan lagi tentang bagaimana nasib partai dan golongannya kedepan, tidak lagi tentang bagaimana golongan atau partainya bisa menang, namun tentang bagaimana mereka tetap mampu menjaga dan menjadikan belimbing – yang berkikir lima – sebagai pedoman, serta tujuan. Dimana belimbing adalah Ketuhanan yang maha esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Kalau figur bocah angon telah dimiliki oleh masing – masing pihak, tentunya mereka tidak akan pernah melakukan klaim kemenangan secara sepihak saja, ditambah lagi sumber klaim tersebut bukan berasal dari pihak penyelenggara Pemilu. Jika KPU telah menetapkan bahwa suatu pihak tidak menang dalam kontestasi, maka seorang bocah angon akan dengan gagah berani menemui lawan kontestasi dan mengucapkan kata “selamat” padanya. Bahkan bagi mereka pemenang yang mempunyai jiwa bocah angon kontestasi akan dengan ikhlasnya meletakkan kemenanganya jikalau memang terdapat potensi besar akan terjadi perpecahan atas kemenanganya itu.
Pada waktu yang bersamaan di Ukraina juga dilaksanakan Pemilihan Umum atau dalam bahasa Ukraina disebut dengan ¬Tse-Ve-Ka yang menandingkan antara petahana Petro Poroshenko dengan penantang Volodymyr Zelensky yang kemudian dimenangkan oleh penantang dengan hasil telak 75 persen banding 25 persen. Namun yang menarik adalah pernyatan Presiden Petahana yang mengatakan “Alasan saya sudah jelas untuk memberikan ucapan selamat untuk pesaing saya”. Sikap seperti inilah yang perlu ada pada diri calon kontestan yang tidak menang dalam kontestasi, dan bukan malah menuduh terjadi kecurangan dan ketidaknetralan penyelenggara Pemilihan umum.
Setelah B.J. Habibie turun dari kursi kepresidenanya, maka naiklah Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Pada masa kepemimpinan Gus Dur terdapat potensi akan terjadinya gesekan dan perpecahan antar sesama rakyat Indonesia. Sehingga pada saat itu juga demi keamanan, terjaganya tali persaudaraan serta dapat terhindarkan dari pertumpahan darah pada rakyat Indonesia, maka dengan tegasnya Gus Dur mengatakan “Daripada bangsa ini pecah dalam pertempuran, lebih baik saya lengser”.
Pada saat ini, figur pemimpin seperti itulah yang dibutuhkan Indonesia, yaitu figur yang sudah tidak lagi berpikir mengenai apa kepentingan parpolnya, siapa pendukungnya, serta siapa yang membiayainya. Namun mereka harus selalu berpikir bagaimana nasib seluruh warga negara Indonesia serta kesatuan NKRI. Jikalau masing-masing pihak pengusung telah mempunyai cara berpikir demikian, maka keamanan dan keutuhan NKRI akan tetap solid dan tetap terjaga.(***).

Related posts