by

Paripurna Istimewa HUT Kemerdekaan RI ke-73, DPRD Pangkalpinang Dengarkan Pidato Presiden

-Moment-158 views

Ulas Jejak Sejarah Pangkalpinang dalam Kemerdekaan

PANGKALPINANG – DPRD Kota Pangkalpinang menggelar Rapat Paripurna Istimewa Kelima Masa Persidangan III Tahun 2018 dengan Agenda Acara Mendengarkan Pidato Kenegaraan Presiden RI dalam rangka Peringatan HUT ke-73 Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 2018 di Ruang Sidang Paripurna DPRD Kota Pangkalpinang, Kamis (16/8/2018).

Paripurna dipimpin Ketua DPRD Kota Pangkalpinang Achmad Subari, Wakil Ketua Depati Gandhi serta dihadiri Plt Walikota Pangkalpinang Muhammad Sopian, para anggota DPRD, Sekretaris Daerah Ratmida Dawam, anggota Forum Komunikasi Pimpinan Daerah, para pejabat Eselon II, III, Camat dan Lurah di lingkungan Pemkot Pangkalpinang dan undangan lainnya.

Ketua DPRD Kota Pangkalpinang, Achmad Subari mengucapkan terimakasih atas kehadiran semua undangan dan tamu untuk mengikuti rapat paripurna istimewa ini.

“Mari kita mendengarkan Pidato Kenegaraan Presiden RI dalam rangka Peringatan HUT ke-73 Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 2018. Kita melaksanakan suatu bentuk konvensi dalam sistem ketatanegaraan, yaitu mendengarkan Pidato Kenegaraan Presiden RI dalam rangka Peringatan HUT ke-73 Kemerdekaan Republik Indonesia setiap tanggal 16 Agustus. Kegiatan ini kita ikuti secara langsung melalui media televisi,” ujarnya.

Ada yang menarik dalam peringatan HUT RI di DPRD Pangkalpinang kali ini. DPRD mengulas perjuangan Pangkalpinang dan Bangka dalam jejak sejarah kemerdekaan Indonesia. Sambutan itu dibuat Sekretaris DPRD Pangkalpinang, Akhmad Elvian.

Achmad Subari mengatakan Pangkalpinang, dan Pulau Bangka umumnya memiliki jejak sejarah tersendiri di era awal Kemerdekaan Republik Indonesia.

Dia mengatakan, semangat dan perwujudan kemerdekaan harus diikuti dengan peristiwa sejarah besar di Pangkalpinang dan Bangka. Pada 22 Desember 1948-6 Juli 1949, Bangka secara defacto adalah Ibukota Republik Indonesia.

Perundingan-perundingan antar Indonesia dengan Belanda yang dimediasi dunia melalui UNCI (United Nations Commicion for Indonesia) dilangsungkan di Bangka.

Subari mengulas, Abdul Gaffar Pringgodigdo dalam buku Memoar Bung Hatta, mengatakan bahwa pada saat kami dari Muntok menuju Pangkalpinang untuk bertemu KTN, sesungguhnya saat ini ada dua pusat diplomasi politik internasional, yaitu di Washington DC dan di Bangka.

Ketika berada di Bangka saat itu, Bung Karno mengatakan, bahwa merdeka akan datang sebelum matahari terbit di bulan Januari tahun 1950.

Artinya kondisi negara dalam keadaan darurat. Pemerintahnya pun Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) dan tidak jelas keberadaannya,” kata Subari.

Trace Bangka atau kelompok pemimpin yang diasingkan di Bangka kemudian melakukan berbagai perundingan di Muntok dan Pangkalpinang yang lebih representatif menuju perundingan Roem-Royen.

Rakyat Bangka sungguh nyata Republiken ini kata Bung Karno, dan dari Pangkalpinang, Pangkal Kemenangan Bagi Perjuangan,”ucap Subari.

Subari melanjutkan, poros Bangka-Yogyakarta-Jakarata adalah simpul kemerdekaan. Hal ini, menurutnya, dinukilkan dengan indah oleh Bung Hatta yang pernah menulis “Kenang-kenang Menumbing, di bawah sinar gemerlap terang, kenang-kenang membawa kemenangan, Bangka, Yogyakarta dan Jakarta, Hidup Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika”.

“Pristiwa bersejarah yang terjadi di Pangkalpinang dan Bangka haruslah dijadikan monumen hidup memacu semangat kita, membangun negeri ini, dan mensejahterakan masyarakatnya,”ujar Subari.(Bum/7)

Comment

BERITA TERBARU