by

Panwaslu Ajak Pemuda Ciptakan Pilkada Bersih & Jujur

Narasumber rapat dalam kantor yang digelar Panwaslu Bangka, Senin (12/2/2018).(foto: Cepenk Susanti)

Gelar Rapat Dalam Kantor

SUNGAILIAT- Panwaslu Kabupaten Bangka melaksanakan rapat dalam kantor (RDK) dengan memberikan pemahaman politik bagi pemuda yang dihadiri oleh BEM Polman, Stisipol, AKDBB, UBB dan STAIN SAS, Senin (12/3/2018) di ruang pertemuan Kantor Panwaslu Kabupaten Bangka.

Narasumber dalam acara ini yaitu Koordinator Penindakan Panwaslu Bangka Deni, Ketua KNPI Bangka Syarli Nopriyansyah dan Sabri Aryanto selaku Ketua Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) Babel, dengan moderator anggota Panwaslu Bangka Zulkifli.

Sabri Aryanto selaku Ketua JPPR Babel pada kesempatan itu menjelaskan JPPR yaitu lembaga konsorsium dari berbagai irisan seperti NU dan Muhammadiyah. Ada 30-an lebih lembaga bergabung yang fokus kepada pemilih pemula dan pemantauan.

Menurut dia, indikator kualitas pemilu yaitu penyelenggara pemilu yang adil, tingginya partisipasi pemilih dan cerdas dalam menggunakan hak pilihnya, demokratisasi internal partai, terpilihnya wakil rakyat yang bertanggung jawab dan terpilihnya pemimpin yang mendorong pemerintahan yang bersih.

“JPPR juga ikut memantau pelaksanaan pemilu, melaksanakan kajian terhadap persoalan kepemiluan, ikut mencegah terjadinya pelanggaran, menyampaikan laporan pelanggaran pemilu ke pengawas pemilu dan menyampaikan informasi dugaan pelanggaran pemilu. JPPR berharap pilkada bersih, berdaulat, cerdas adil dan untuk perubahan di daerah ini,”katanya.

Syarli Nopriansyah, Ketua KNPI Bangka mengemukakan pengertian KNPI serta kepengurusannya. Dan dari ketiga paslon bupati Bangka di KNPI ada simpatisan dan kader partai. Namun di KNPI belajar untuk saling menghormati satu sama lain. “Pemuda menginginkan daerah ini, wajib lebih baik dari hari ke hari. Pemuda bukan lagi generasi penerus tapi generasi pelurus,” tegasnya.

Peran pemuda, menurutnya menjadi filter dari semua informasi yang positif dan negatif, menjadi pencegah dan penengah bukan menjadi pelaku, menjadi bagian dari solusi dari setiap masalah yang ada dan menjadi duta untuk mengkampanyekan pilkada yang bersih jujur dan adil.

“Masalah yang akhir-akhir ini muncul kunci utamanya adalah menerima perbedaan. Berita hoaks akan berdampak terhadap kerukunan dan adanya konflik sosial di masyarakat dan perpecahan.
Kalau dapat memicu konflik tidak perlu dishare,” pungkasnya.(snt/10)

Comment

BERITA TERBARU