Pantai Perawan Butuh Sentuhan

  • Whatsapp
Pantai Penganak, salah satu pantai di Kecamatan Parittiga, Kabupaten Bangka Barat yang dipenuhi batu granit tapi belum tersentuh pengelolaan wisata. (Foto: Nurul Kurniasih)

Kesadaran Masyarakat Masih Kurang

Pantai, adalah tempat yang paling ramai dikunjungi baik di saat liburan maupun hari biasa. Semua orang begitu senang menikmati wisata pantai, mulai dari balita hingga dewasa. Bahkan pantai kerap menjadi tujuan favorit pasangan remaja untuk sekedar menghabiskan masa-masa pacaran, berkumpul, atau bertamasya bersama keluarga.
Bagi masyarakat Bangka dan Belitung, wisata pantai sangat digemari. Apalagi Pulau Bangka dan Belitung yang dikelilingi laut memiliki sejuta pantai baik dikelola swasta maupun yang belum terjamah. Ada juga pantai yang sudah mulai rusak akibat penambangan pasir timah di laut dan pesisirnya, hingga pantai yang belum bernama.
Diantara ribuan pantai yang ada di Negeri Serumpun Sebalai ini, ada satu pantai di utara Pulau Bangka, tepatnya berbatasan dengan lautan lepas dan Kepulauan Tuju, di Kecamatan Parittiga, Kabupaten Bangka Barat (Babar), yang menyimpan pesona wisata bahari tak kalah menarik.
Pantai di kecamatan pemekaran dari Kecamatan Jebus ini bernama Pantai Penganak yang berjarak kurang lebih 12 Km dari Parittiga. Sebelum ke pantai ini bila kita ke arah Desa Air Gantang akan menjumpai Pantai Penganak–pantai yang masih menyisakan kejayaan PT. Timah dengan jembatan dermaga lebar satu meter menjurus ke arah tengah laut tempat perahu nelayan tertambat. Di tengah laut pun masih terlihat kapal isap, kapal keruk dan tambang laut (TI).
Menoleh ke sisi kiri, pantai ini masih memiliki bebatuan yang eksotis, datar dan bahkan unik terdampar di pojok pantai. Bebatuan granit itu menjadikan pantai yang masih perawan ini semakin layak untuk dikunjungi.
Yang tak kalah menarik adalah, aliran sungai yang berada di tepi pantai, menjadikan pantai ini favorit keluarga untuk mandi selepas menikmati sentuhan air asin guna membilas tubuh dengan air tawar.
Sejatinya, Pantai Penganak ini sudah mendapat perhatian masyarakat sekitar, dengan membangun WC dan beberapa papan tulisan pantai serta ayunan kayu di bibir pantai.
Selain Pantai Penganak, banyak pantai lain yang belum tersentuh pengunjung, diantaranya Pantai Tanjung Pabrik, Pantai Siangau, Pantai Pala, Pantai Mentigi, Pantai Teluk Limau, dan puluhan pantai belum bernama tetapi memiliki panorama yang begitu memesona.
Pantai Siangau, misalnya terletak di ujung Teluk Pala, Dusun Pala, Desa Teluk Limau. Desa ini mayoritas dihuni masyarakat Bugis serta Buton dan memiliki pantai yang langsung berbatasan dengan lautan lepas. Sehingga tak heran, meskipun air surut, di pantai ini tetap bisa mandi dan diterjang ombak.
Bebatuan khas, menjadi ciri khas pantai di Babel. Batu yang seakan sengaja disusun ini memacu adrenalin untuk didaki, dan ketika berada di ketinggian, keindahan ciptaan Allah akan begitu terasa.
Pantai Tanjung Pabrik, adalah pantai landai yang berada sebelum Dusun Pala. Berada di bawah bukit, membutuhkan sedikit tenaga untuk menuju pantai. Karena turunan yang sudah dibuatkan tangga, pantai ini sudah dikelola oleh mantan pejabat di Babar dan sudah dibangun villa. Pantai ini pun memiliki tumpukan batu yang indah.
Masih searah dengan jalan menuju Pantai Tanjung Pabrik, pantai yang belum bernama, tetapi pesonanya sungguh indah. Pantai ini bak memiliki kolam, sisi kiri pantai batu-batu tersusun membentuk kolam dan digenangi air laut, membuat suasana tenang ketika membasahi tubuh dengan birunya air laut disini.
Namun sangat disayangkan, keindahan pantai yang dimiliki belum didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai. Bahkan masyarakat masih terkesan cuek dan acuh untuk menjaga keindahan pantai.
Jalanan menuju Pantai Siangau, Pantai Tanjung Pabrik dan Pantai Kolam pun belum sempurna, masih tanah kuning, terjal, sempit, serta dipenuhi ilalang pada kiri kanan jalan. Dan ketika hujan, jalanan menjadi becek serta tak jarang membuat kendaraan hilang kendali.
“Kemana masyarakat, kemana aparat desa dan dimana pemerintah kabupaten, pantai yang semestinya mendulang rupiah ini terkesan dibiarkan, bahkan ada yang sudah didarati oleh tambang inkonvensional (TI) apung. Tak ada fasilitas bilas, WC dan lainnya, semua masih alami,” kata Nurul warga Parittiga.
Ia juga menyesalkan tidak adanya rasa peduli warga untuk bergotong royong memperindah pantai. Padahal, pantai yang hari ini sepi pengunjung, jika dikelola dengan baik tahun depan mestinya berubah, menjadi pantai yang dikenal viral dan ramai didatangi wisatawan.
“Bukankah pembangunan harus dimulai dari desa, dan kenapa warga desa kurang bergairah untuk memanfaatkan wisata bahari tersembunyi ini? Mulailah dengan membersihkan pantai, membangun fasilitas (WC dan warung), merapikan semak belukar di tepi jalan, atau bahkan mengajukan dana pada desa dan kabupaten untuk membangun jalan permanen menuju lokasi wisata,” tukasnya.
“Pemprov bahkan merencanakan untuk membangun homestay, saya sangat merekomendasikan di beberapa desa ini memiliki homestay dan fasilitas memadai di dekat pantai, dikelola dengan baik dan rupiah akan berdatangan,” imbuhnya.
Tapi diakuinya, membangun pariwisata tak hanya pantai yang dibutuhkan. Harus pula bersinergi dengan pemerintah untuk menghadirkan event-event rutin di setiap desa, sehingga wisatawan semakin merasa betah dan puas menikmati pesona pantai perawan, dan tersedianya souvernir khas daerah setempat. (nov/1)

Related posts