Pangkalan Gas Melon Nakal Digerebek

  • Whatsapp
Gerebek Pangkalan- Anggota Satpol PP dan Disperindag Kabupaten Bangka saat menggerebek pangkalan elpiji di lingkungan Limbang Jaya, Kelurahan Surya Timur, Sungailiat, Rabu (23/10/2019). Dalam penggerebekan ini petugas mengamankan 21 gas elpiji. (foto: Zuesty Novianty)

Ditemukan Jual Diatas HET
Satpol PP dan Disperindag Sita Puluhan Tabung

SUNGAILIAT – Satuan Polisi Pamong Praja dan Disperindag Kabupaten Bangka mengamankan 21 tabung gas elpiji 3 kg dari salah satu toko kelontong yang ada di lingkungan Jelitik, Kecamatan Sungailiat, Rabu (23/10/2019).

Pemilik toko bernama Aloy kedapatan membeli puluhan tabung gas bersubsidi itu dari salah satu pangkalan elpiji nakal di lingkungan Limbang Jaya, Kelurahan Surya Timur, Sungailiat. Gas melon itu dibeli Aloy dari pangkalan diatas Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk dijual kembali kepada masyarakat sekitar tempat tinggalnya.

Tak ayal petugas kemudian menggerebek pangkalan gas dan menyita puluhan tabung lantaran pemilik pangkalan diduga melakukan tindakan penyelewengan gas bersubsidi ke lingkungan lain yang dijual diatas HET yakni Rp18 ribu/tabung.

Kabid Penegak Perundang-undangan Daerah Satpol PP Pemerintah Kabupaten Bangka, Achmad Suherman kepada sejumlah wartawan Rabu (23/10/2019) mengatakan berdasarkan aturan, baik toko atau warung hingga pangkalan dilarang menjual gas bersubsidi diatas HET.

Namun kenyataannya, dari temuan di lapangan, Disnakerperindag Bangka bersama Satpol PP menemukan pangkalan yang diduga menjual gas 3 kg diatas HET.

“Untuk hari ini kita tetap represif non jusditial, kita amankan ke kantor dan kita panggil orangnya ke kantor bagaimana solusinya agar kedepannya tidak ada lagi pangkalan yang menjual gas ke warung,” katanya.

Suherman menyarankan kepada seluruh pangkalan yang ada di daerah ini untuk menjual gas subsidi kepada masyarakat yang membutuhkan sehingga penyalurannya tepat sasaran. “Jual lah ke masyarakat dan gunakan KTP dan KK, jadi satu orang jatahnya satu tabung,” imbaunya.

Sementara pemilik pangkalan LPG 3 kg, Syahrial mengakui menjual gas subsidi itu diatas HET yakni Rp18 ribu/tabung. Namun ia membantah jika penyaluran gas tidak tepat sasaran dan dikeluhkan warga Limbang Jaya. “Mohon maaf, penyaluran untuk masyarakat di sini semuanya terbagi,” ujarnya.

Ditambahkan dia, karena kebutuhan gas untuk masyarakat setempat sudah disalurkan, gas yang tersisa ia jual kepada warga lain yang berdomisili diluar pangkalan.

Untuk harga Rp18 ribu/tabung yang dijual Syahrial berdalih itu berdasarkan kesepakatan dengan salah satu warga setempat sehingga pangkalan miliknya menjual gas bersubsidi itu diatas HET hingga saat ini. “Saya jual 18 ribu/tabung karena ada kesepakatan waktu itu,” katanya.

Disinggung berapa kali pengiriman yang dilakukan oleh agen PT Karya Gas Kencana ke pangkalannya, Syahrial mengaku sebanyak 2 kali dalam seminggu yakni setiap Selasa dan Kamis dengan kuota sekali pengiriman sebanyak 120 tabung.

Anehnya, dengan jumlah penduduk yang terdata sebanyak 600 orang dari 13 RT yang tersebar di dua lingkungan yakni Kampung Baru dan Kimhin, serta Lingkungan Limbang Jaya, Syahrial mengaku kuota yang didistribusikan oleh agen ke pangkalan miliknya cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Sehingga tabung yang tersisa dijual kepada warga lainnya dengan harga yang sama yakni Rp18 ribu/tabung. “Karena sudah cukup, jadi kita jual ke tempat lain,” tukasnya.

Bahkan kata dia, gas tersebut dijual di atas HET dengan alasan uang lebih yang didapat diberikan kepada petugas bongkar muat saat tabung didistribusikan ke pangkalannya. “Selain ada kesepakatan waktu itu, ini bentuk kepedulian kita kepada mereka yang bongkar muat tabung gas itu. Karena saya melakukan kegiatan usaha subsidi ini sejak tahun 92 dan seperti inilah polanya,” pungkas Syahrial.

Atas penjelasan tersebut, Suherman menyarankan agar agen pangkalan itu mengurangi kuota gas 3 kg ke pangkalan yang ada di Kampung Baru Limbang Jaya untuk menghindari penyelewengan gas bersubsidi.(2nd/1)

Related posts