Palestina dan Kemanusiaan

  • Whatsapp
Jarir Idris
Alumni Ponpes Tarbiyatul Mubtadiin Toboali, Bangka Belitung

Baru-baru ini, media sosial digemparkan dengan tidak adanya maps (salah satu aplikasi peta yang disediakan google) tidak mencantumkan Palestina sebagai suatu tempat atau negara. Hal ini, bisa kita buktikan dengan langsung mengecek pada smartphone kita dengan membuka aplikasi maps, kemudian langsung kita search “Palestina” maka kita tidak akan bisa menemukannya untuk saat ini. Atau dengan kita geser manual untuk mengetahui posisi “Palestina” dan tentu hal itu pun belum ada hingga kini. Sehingga nitizen menuding google telah menghapus Palestina dari peta dunia.

Terlepas dari hal tersebut, yang terpenting adalah bukan hanya sekadar permasalah peta belaka, namun lebih dari itu. Yakni “kemanusiaan”. Hal inilah yang harus kita suarakan bersama untuk solidaritas manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Karena kebebasan seluruh manusia, adalah hak yang sudah diberikan Tuhan kepada manusia. Namun, karena keserakahan dan kerakusan manusia, hak tersebut menjadi tergadai.

Mengaca dari bangsa Indonesia, dulu ketika Portugis datang ke Nusantara hanya berniat untuk berdagang. Namun, melihat bumi Nusantara yang kaya akan rempah-rempah, hasil bumi hingga laut dan yang lainnya, timbulah keinginan mereka untuk menguasai Nusantara. Berbagai politik untuk mengambil alih kekuasaan hingga memakan ribuan bahkan jutaan nyawa manusia pada saat itu, hingga pada akhirnya Nusantara bersatu kembali dengan nama Indonesia.

Ini tentunya berbeda kasus dengan konflik yang terjadi pada Palestina, namun masih dalam satu tema yang sama yakni “kemanusiaan”. Entah masalah politik wilayah atau doktriner agama yang salah yang menjadikan konflik yang teramat panjang ini. Tanpa memandang harga diri sebagai makhluk Tuhan, malah seolah-seolah menjadi Tuhan atas orang lain.

Baca Lainnya

Manusia pada hakikatnya bukanlah penduduk bumi. Karena semua manusia adalah pendatang. Kata “pendatang” disini berlaku untuk semua manusia tanpa terkecuali. Dalam sejarah peradaban manusia sudah banyak yang tahu bahwa manusia adalah makhluk langit yang sengaja Tuhan turunkan ke Bumi sebagai khalifah. Khalifah sendiri mempunyai banyak makna, diantaranya adalah pemimpin. Dimana setiap kita dituntut untuk mengayomi dan mengolah bumi sebagai tempat tinggal kita, dengan sebaik mungkin.

Lagi-lagi karena menuruti hawa nafsu, sehingga manusia merasa seolah-olah penduduk asli bumi. Padahal, penduduk bumi asli sebenarnya adalah hewan dan tumbuhan yang Tuhan ciptakan sebelum bumi dihuni oleh manusia. Bukti otentiknya diantaranya  adalah hewan mampu bertahan dalam kondisi apapun yang kita kenal dengan ilmu “adaptasi” dalam pengetahuan alam. Namun, berbeda dengan manusia. Ketika manusia dilahirkan, kemudian langsung ditinggalkan begitu saja, maka kemungkinan kecil manusia bisa hidup. Berbeda halnya dengan hewan. Ketika hewan lahir, hanya butuh beberapa saat saja sudah bisa hidup mandiri.

Manusia adalah makhluk mulia. Dan mulianya manusia itu tergantung bagaimana ia memanusiakan manusia lainnya. Ketika manusia merampas hak manusia lain, maka hal itu akan menurunkan derajat kemuliaan manusia itu sendiri. Sehingga akan berlaku hukum kausalitas dalam filsafat atau hukum karma dalam agama Buddha atau pembalasan walau sekecil biji “zaroh” dalam Islam. Tidak akan ada habisnya, jika menuruti keinginan manusia seluruhnya tanpa menimbang efek kebermanfaannya. Karena manusia tidak akan pernah puas dengan apa yang ia dapatkan sampai akhir dikehidupannya.

Penyelesaian konflik yang terjadi di Palestina tidak akan selesai jika terus menggunakan senjata. Namun, hal itu bisa diminimalisir dengan memahamkan kembali makna kehidupan sesungguhnya kepada semua kalangan. Bahwa sejatinya, manusia adalah makhluk terhormat tanpa harus meminta penghormatan orang lain. Manusia adalah makhluk mulia dengan akhlaknya kepada sesama manusia. Dan manusia seyogyanya juga memanusiakan manusia lainnya. Wallahu a’alam.(***).

 

Related posts